ZAMAN BARU

ABDUL HALIM FATHANI

Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika

Universitas Islam Malang

KETIKA mengajar di kelas, suatu waktu saya menyaksikan beberapa mahasiswa, tampak ‘santai’. Tidak Nampak buku cetak di meja belajarnya. Begitu juga, dia tidak membawa tas ransel, sebagaimana teman-teman mahasiswa yang lain. Pada saat itu, sedang berlangsungperkuliahan “Filsafat Pendidikan Matematika”.

Terhadap mahasiswa yang tidak membawa buku sekaligus tas tersebut, saya sebagai teman belajarnya di kelas tersebut, tidak mempermasalahkannya. Justru saya “senang sekaligus bahagia”.

Pengalaman lain, juga perlu saya sampaikan, bahwa setiap kali mengawali perkuliahan, saya selalu mengamati apa yang dilakukan mahasiswa. Sebagian besar –mendekati semuanya- mahasiswa siap-duduk di kursi, dengan ditemani satu buku dan polpen. Bukunya yang Nampak adalah buku tulis yang masih ‘putih-polos’. Poplennya juga polpen yang baru. Mereka seolah-olah sudah terbangun sikap ‘Siap menerima instruksi, instruksi apapun”. Apa ada yang aneh?

Renungan bersama

Marilah kita merenung sejenak. Merenungkan pesan sahabat Ali bin Abi Thalib yaitu, “Didiklah anak-anakmu karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu ini”. Apa hubungannya dengan pengalaman di atas?

Menurut saya, pertama, fakta yang menunjukkan bahwa mahasiswa masuk kelas siap dengan buku tulis polos-putih dan polpennya yang masih baru tersebut, sungguh aneh. Mengapa mereka para mahasiswa bersikap seperti itu. Padahal, sekarang informasi pengetahuan “ilmu” itu sudah bisa didapatkan secara mudah, dari mana saja, kapan saja, di mana saja. Zaman sekarang sudah berubah. Tidak ada ilmu yang ditutup-tutupi. Semua informasi terbuka, bisa diakses siapa saja, di mana saja, kapan saja.

Mestinya, hemat saya, mahasiswa masuk ke kelas sudah siap bahkan mengerti apa yang akan dilakukan. Misalnya, pada matakulah “A”, maka mahasiswa masuk ke kelas tersebut, ya sudah siap dengan berbagai referensi tentang matakuliah “A”. Sehingga suasana kelas menjadi suasana pembelajaran yang menyenangkan. Tergambar suasana berbagai informasi, berbagi ilmu antara satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lain. Bukan sebaliknya, suasana  yang didiominasi oleh pengajar. Mahasiswa harus memposisikan diri mereka sebagai seorang pembelajar aktif. Aktif mencari informasi.

Kedua, dengan demikian, maka saya tidak heran jika ada mahasiswa yang masuk kelas tanpa membawa tas ransel untuk menampung bukunya. Buku-buku zaman sekarang, sudah bisa diwadahi dalam sebuah alat canggi “smartphone”. Sehingga mahasiswa ketika kuliah, datang ke kelas cukup dengan bermodalkan alat kecil yang canggih. Semua buku –berapapun banyaknya, dapat masuk dengan mudah. Sungguh menyenangkan sekali.

Walhasil, mari terus semangat menjadi pribadi pembelajar. Zaman sekarang menuntut semua individu-kita semua akitif mencarai informasi, aktif belajar. Tapi, satu kata, jangan lupa sharing. Jangan lupa melakukan diskusi dengan para ahli. Ayo terus bergerak dinamis, seiring dengan perubahan zaman yang demikian cepat. [ahf]

D-A9 Ngijo, 04 Oktober 2019


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY