‘WARISAN’ MBAH MOEN

Oleh A Halim Fathani

WAFATNYA Mbah Moen, mengagetkan banyak pihak. Lebih-lebih wafatnya adalah ketika Beliau sedang menunaikan ibadah haji. Tidak sedikit yang merasa kehilangan sosok ‘pengayom’ umat manusia tersebut. Bukan hanya kalangan santri, para politikus juga bersedih akan kepulangan Mbah Moen. Bukan hanya warga muslim, masyarakat non muslim juga merasakan demikian.

Perlu diketahui, hingga wafatnya, Mbah Moen ‘tercatat’ sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Juga masih tercatat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), di samping aktif sebagai Mustasyar (penasihat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Perginya Mbah Moen langsung menghiasi halaman utama berbagai Koran maupun media online. Seperti yang dilakukan Harian Umum Jawa Pos. Dalam halaman pertamanya, Koran ini menyajika berita full seputar wafatnya Mbah Moen. Tidak hanya berita, tetapi juga menampilkan ‘warisan’ ajaran hidup Mbah Moen yang disarikan dari berbagai sumber.

Berikut saya uraikan ‘warisan’ ajaran hidup Mbah Moen, sebagaimana yang termuat dalam halaman 1 Jawa Pos (07/08/2019).

Ora kabeh wong pinter kuwi bener

(Tidak semua orang pintar itu benar)

Ora kabeh wong bener kuwi pinter

(Tidak semua orang benar itu pintar)

Akeh wong pinter ning ora bener

(Banyak orang yang pintar tapi tidak benar)

Lan akeh wong bener senajan ora pinter

(Dan banyak orang benar meskipun tidak pintar)

Nanging tinimbang dadi wong pinter ning ora bener, luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter

(Daripada jadi orang pintar tapi tidak benar, lebih baik jadi orang benar meskipun tidak pintar)

Ono sing luwih prayoga, yoiku dadi wong pinter sing tansah tumindak bener

(Ada yang lebih bijak, yaitu jadi orang pintar yang senantiasa berbuat benar)

Minterno wong bener kuwi luwih gampang tinimbang mbenerake wong pinter

(Memintarkan oraang yang benar itu lebih mudah daripada membenarkan orang yang pintar)

Mbenerake wong pinter kuwi mbutuhke beninge ati lan jembare dhodho

(Membuat benar orang yang pintar itu membutuhkan beningnya hati dan lapangnya dada)

Sungguh, ajaran Mbah Moen tersebut, ‘sederhana’, tidak ndakik-ndakik. Sederhana, biasa, tetapi sangat menyentuh hati. Ajaran tersebut menjadikan kita sebagai manusia, merenung bahwa apakah diri kita ini termasuk golongan orang ‘bener’, ‘pintar’, atau ‘bener sekaligus pintar’ atau ‘pintar sekaligus bener’, atau bagaimana?

Semoga kita semua dapat ‘mengamalkan’ warisan ajaran Mbah Moen. Terimakasih Mbah Moen. Mbah Moen, Terima kasih nggih mbah. [ahf]


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY