VARIABEL IKHTIAR

ABDUL HALIM FATHANI

fathani.com – DALAM mengerjakan suatu aktivitas, setiap manusia mesti didasari atas berbagai variabel. Di antara variabel tersebut seperti: adanya motivasi, dorongan, atau kondisi yang unik atas dirinya, dan sebagainya. Variabel itu bisa datang dari luar atau dari internal dirinya sendiri. Kita, ketika belajar materi kuliah misalnya, suatu waktu memiliki semangat tinggi, keesekon harinya motivasi tersebut kian bertambah dan terus bertambah. Namun, bisa jadi kebalikannya. Semakin hari, semangat belajar semakin menurun.

 Setiap kali mengerjakan aktivitas apa pun mesti dibutuhkan kesungguhan yang maksimal dalam menjalankan ikhtiar. Kita ingat ungkapan arab, yang popular, ‘Man Jadda wa jada’, Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”.  Atau ada juga pepatah “Dimana ada kemauan, pasti disitu ada Jalan“. Dari sini, sangat jelas, bahwasannya variabel penentu adalah variabel komitmen untuk penyemangat individu, baik dari internal maupun eksternal dalam melakukan usaha.

Contoh kasus, ketika siswa belajar Matematika di bawah ini.

Sebut saja Si A. Ketika belajar Matematika di Kelas, materi Limit Fungsi. Si A berupaya  memahami dengan serius materi penjelasan dari guru. Namun, ada beberapa bagian yang masih belum paham. Si A, masing antara Limit Kiri dan Limit Kanan. Tak gampang menyerah, setelah pembelajaran berakhir, Si A mencoba berdiskusi dengan teman lainnya, akhirnya Si A bisa memahami konsep Limit kiri dan Limit Kanan. Guru Matematikanya pun terus mendorong dan memotivasi, agar terus belajar dan belajar materi Limit Fungsi. Semangat Si A pun terus meningkat. Tidak hanya di kelas (di Sekolah), namun ketika di rumah pun, Si A tetap membuka kembali buku tulisnya yang berisi materi Limit Fungsi, dengan didampingi buku-buku pendukung lainnya. Alhasil, pengetahuan dan pemahaman Si A terus bertambah dan meningkat. Variabel si A tersebut dapat juga ditulis: awalnya n, kemudian meningkat menjadi n + 1, lalu n + 1 + 1, selanjutnya, n + 1 + 1 +. Ini contoh saja, kalau pertambahannya konstan: selalu bertambah 1.

Di sinilah pentingnya, kita harus selalu mencoba dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai keberhasilan. SI A merupakan potret siswa yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Memiliki mental pembelajar yang tak kenal lelah. Belajar dan terus belajar.

Pada saat yang sama, kita juga harus selalu memberikan semangat dan dorongan positif kepada siswa, atau kepada siapa pun, untuk selalu memiliki mental optimis. Selalu memberikan apresiasi atas keberhasilan yang sudah diraih. Keberhasilannya akan sedikit demi sedikit bertambah secara bertahap.

Benar, jika kita terus bersungguh-sungguh, pasti pintu keberhasilan akan terbuka lebar. Ikhtiar itu penting. Ikhtiar menjadi variabel yang tidak bisa dianggap sepeleh dalam menentukan keberhasilan yang dicapai. Mengenai ikhtiar, Allah Swt. telah memotivasi kita untuk senantiasa berusaha jika ingin mengubah keadaan. Allah swt telah berfirmal dalam Surat al-Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (perilaku) yang ada pada diri mereka sendiri” 

Semakin besar pertambahan pada variabel ikhtiar (misalnya, komitmen, semangat, mental optimis), maka konsekuensinya adalah akan semakin besar pula hasil akhir yang diperoleh.

Analoginya sebagai berikut:

1 + X = Y

1 menunjukkan modal awal individu yang dimiliki

X menunjukkan variabel ikhtiar yang dilakukan manusia

Y menunjukkan nilai hasil akhir

Sekarang, kita substitusikan nilai X = 2, maka 1 + 2 = 3, nilai Y = 3

Jika nilai X = 119, maka 1 + 119 = 20, nilai Y = 120

Jika nilai X = 1000, maka 1 + 1000 = 1001, nilai Y  = 1001

Jelas sekali, secara matematis, jika variabel ikhtiar semakin besar, maka nilai hasil akhir yang diperoleh juga semakin besar. Variabel ikhtiar yang bisa dilakukan manusia macam-macam, mulai dari ikhtiar lahir maupun batin. Silakan saja diseimbangkan.

Hanya saja, saya berpesan, jangan sampai variabel ikhtiar tersebut bernilai nol (0). Atau, justru bernilai negatif. Jangan sampai terjadi.

Semoga, kita sebagai makhluk Allah swt, senantiasa diberikan kemampuan untuk beribadah dengan sebaik-baiknya, dengan menggunakan kesempatan berikhtiar secara maksimal. Marilah terus bersyukur. [ahf]


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY