SPIRIT BUKU (2)

ABDUL HALIM FATHANI

fathani.com – MELANJUTKAN tulisan sebelumnya ‘Spirit Buku’ yang mengupas pelaku dunia perbukuan. Tahapan penerbitan buku, secara umum ada tiga, mulai dari pra cetak, cetaak, hingga pasca cetak. Untuk pra cetak sudah dikupas pada tulisan sebelumnya di bagian satu. Selanjutnya, kita akan mengupas tahapan cetak dan pasca cetak, yakni yang keenam, adalah Pencetak buku.  Dalam tahap ini, umumnya dilakukan oleh tim teknisi untuk produksi cetak, mulai dari membuat plat, mencetak, mengeset, memotong, menjilid, membungkusi plastik, hingga pengepakan dalam kardus. Semuanya dilakukan dengan bantuan mesin.

Dalam perkembangan zaman sekarang, mencetak buku bukan termasuk barang sulit. Kita bisa saja mencetak buku hanya dalam hitungan satu eksemplar. Cukup datang ke jasa fotokopi atau cetak digital, selesai. Canggih bukan? Memang hasilnya akan lain, dengan mesin cetak besar. Tapi, paling tidak hal itu untuk menjawab kebutuhan pasar. Karena, tidak semua buku yang sudah diproses itu selalu dicetak dalam jumlah banyak.

Bahkan, bisa jadi buku yang tuntas diedit dan dilayout plus didesain sampulnya tersebut, tidak perlu dicetak. Tapi, cukup diterbitkan dalam bentuk elektronik, yang umumnya kita sebut dengan istilah e-book atau buku digital. Perlu kita tahu, bahwa penerbitan ISBN pun, dibedakan antara buku yang dicetak dengan buku yang dalam bentuk elektronik. E-book ini menyasar kepada pembaca kekinian, generasi Z. Mereka umumnya sudah sangat familiar dengan produk-produk yang dalam versi elektronik, tak terkecuali buku.

Setelah selesai dicetak, yang ketujuh, Distributor Buku. Distributor ini bertugas untuk mengirimkan buku yang sudah selesai dicetak. Buku yang sudah dicetak, lalu oleh penerbit –khususnya bagian pemasaran- didistribusikan ke berbagai toko buku, agen-agen buku, hingga ke perorangan. Saat ini, distributor buku tidak hanya mendistribusikan secara manual, tetapi juga dilakukan secara online. Antara offline dengan online, masing-masing memiliki plus minus, meskipun sebenarnya secara online, akan jauh lebih hemat. Peran distributor bisa dilakukan oleh penerbit  sendiri dengan mengoptimalkan bagian pemasaran, atau dapat juga melakukan kerjasama dengan jasa distributor.

Kedelapan, Penjual Buku. Penjual buku ini mirip dengan distributor, hanya saja skalanya lebih kecil dan sudah sangat dekat kepada pembeli. Umumnya, penjual buku adalah toko buku atau perorangan. Kalau distributor tugasnya lebih banyak bertanggungjawab pada tuntas-tidaknya pengiriman buku dari satu tempat ke tempat yang dituju. Sedangkan penjual buku, bertanggungjawab untuk menjual buku ke konsumen. Contoh penjual buku dalam bentuk toko buku, misalnya: Gramedia, Toga Mas, dan Dian Ilmu, dsb. Ada juga penjual buku secara perorangan yang melakukan penjualan door to door.

Kesembilan, Pembeli Buku. Sudahsangatjelas, target dari penjualan buku adalah agar dapat dibeli oleh pembaca. Bagaimana agar buku tersebut laris dibeli banyak orang. Bukan hanya dibeli satu-dua eksemplar, bahkan bisa jadi diborong. Maka, kuncinya satu, buku itu menarik bagi pembeli. Menarik dari sisi tampilan dan isinya. Dan, tentu biasanya yang ditunggu-tunggu pembeli buku adalah adanya diskon besar-besaran.

Kesepuluh, Pembaca Buku. Marilah kita semua menjadi pembaca buku yang buku. Dengan membaca buku berarti kita telah menghargai sebuah buku, menghargai penulisnya, menghargai sebuah ilmu pengetahuan. Selama ini, sering dikeluhkan banyak pihak, kalau tradisi membaca kita sangat kurang. Padahal wahyu pertama kali yang turun, sudah sangat gamblang, membawa pesan, ‘Iqra’ bismiraabbikalladzi khalaq’.

Apakah hanya sepuluh ini pihak-pihak yang terlibat dalam pelaku dunia perbukuan? Tentu tidak. Masih banyak yang lain. Namun, saya tidak merinci lebih lanjut. Misalnya saja, masih ada pihak peminjam buku, petugas perpustakaan, peresensi buku, pembedah buku, pemberi kata pengantar buku, dan seterusnya dan seterusnya. Saya persilakan pembaca untuk menambahkan sendiri.

Semoga kita semua menjadi orang yang selalu bersukur, karena bisa dekat dengan buku. [ahf].habis


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY