SPIRIT BUKU (1)

ABDUL HALIM FATHANI

fathani.com – HARI ini, Kamis, 23 April 2020, di ujung penghujung bulan Sya’ban 1441 Hijriyah, bertepatan dengan Hari Buku Sedunia (World Book Day). Ada juga yang mengenalnya sebagai Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia atau Hari Buku Internasional. Memperingati hari buku sedunia ini menurut UNESCO adalah bertujuan untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta.

Dalam kesempatan memperingati Hari Buku Sedunia ini, sangat relevan, apabila kita merefleksikan kutipan dari Al-Jahiz. “Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.” Buku adalah teman duduk yang tidak memuji secara berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Ia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu, Ia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kamu miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan dan tidak akan membuat kebohongan.”

Sudahkah kita memperlakukan buku sebagai teman sejati? Kalau sudah, mari terus kita tingkatkan. Sementara, kalau masih belum, ayo segera berteman. Dengan berteman, maka kita akan mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga? Berteman dengan buku, bukan berarti hanya dilakukan dengan membacanya saja. Tapi, kita akan bisa memahami kilas balik proses kehadiran buku tersebut. Akhirnya, berteman dengan buku, berarti kita bisa melakukan silaturrahim dengan siapa saja yang punya peran terhadap kehadiran buku tersebut.

Fakta selama ini, hal di seputar buku, biasanya ingatan kita tertuju pada seorang penulis buku atau pembaca buku. Terkait buku, seringkali pertanyaan yang kita dapatkan adalah ‘Sudah berapa banyak buku yang Anda baca?’, ‘Berapa koleksi buku yang Anda miliki di rumah?’, ‘Berapa judul buku yang sudah Anda tulis?’, atau beberapa pertanyaan sejenisnya.

Apakah hanya dua hal itu terkait buku? Penulis dan pembaca saja. Tentu tidak. Masih banyak pihak lain yang memiliki hubungan karib dengan dunia perbukuan. Baik hubungan langsung maupun tidak langsung. Banyak peran yang memiliki keterkaitan dengan dunia buku.

Pelaku buku

Marilah kita mengamati siapa saja yang memiliki hubungan dengan dunia perbukuan. Mengapa ini penting? Agar kita memiliki pandangan yang utuh dan bisa menghargai siapa saja yang ‘berjasa’ terhadap buku. Tentu, kalau hanya mengandalkan penulis dan pembaca saja, maka buku tidak dapat hadir seperti yang kita rasakan sekarang ini. Saat ini, setiap gerak-gerik kita, di sekeliling kita, di hadapan kita, di laptop kita, sangat mudah untuk mendapatkan buku. Tinggal, klik buku yang kita maksud, tidak lama, buku tersebut sudah menghampiri kita. Tinggal, sekarang bagaimana kita ‘menghargai’ buku tersebut.

Sekarang, siapa saja pelaku buku tersebut? Mari kita urai satu per satu.

Pertama, penulis buku. Sudah sangat jelas. Penulis buku adalah orang yang menulis, lalu diterbitkan dalam bentuk buku. Menulis buku, bisa saja menulis sendirian (penulis tunggal), berdua, bertiga, berempat, atau banyak orang. Buku yang ditulis banyak orang ini biasa disebut sebagai buku bunga rampai atau antologi. Untuk menjadi penulis, kita harus memiliki modal informasi dan pengetahuan yang memadai. Maka, satu kata kunci agar kita bisa menjadi penulis yang baik, kita harus berhasil menjadi pembaca yang baik.

Kedua, pembaca buku. Menjadi pembaca buku ini, sekilas kelihatan sangat enteng. Maksudnya sangat mudah. Tinggal membaca saja, dengan modal huruf abjad A – B – C – D – E – F -…. X – Y – Z. Sekilas iya, tetapi sesungguhnya untuk bisa menjadi pembaca yang baik, tentu harus memiliki modal juga. Apa modalnya? Modalnya adalah ketekunan, kedisiplinan, konsentrasi, dan komitmen. Kegiatan membaca buku, itu sebenarnya adalah memerankan diri sebagai sosok orang yang sedang belajar, menuntut ilmu.

Ketiga, Editor buku. Sebelum buku itu hadir di hadapan pembaca, tentu selain penulis buku, masih ada orang lain yang berkontribusi dalam penerbitan buku tersebut. Ialah Editor buku. Tugas seorang editor buku adalah menyunting naskah buku baik dari aspek bahasa (tulisan) maupun dari aspek substansi (isi). Dengan campur tangan sang editor ini, diharapkan buku yang hadir ke hadapan pembaca dapat dinikmati dengan baik. Dengan kata lain, buku yang hadir tersebut, merupakan buku yang layak baca atau bisa juga dikatakan buku yang layak beli. Seorang editor memiliki kekuasaan untuk mengubah judul maupun isi dari aspek redaksi. Namun secara pesan yang disampaikan penulis tetap terjaga. Editor tidak boleh mengubah pesan yang dimaksudkan penulis. Tugas editor terbatasi sampai ‘penampilan’ saja.

Keempat, Layouter isi buku. Untuk menerbitkan buku itu tidak cukup kalau hanya dibantu seorang editor. Buku yang sudah tuntas dari tangan editor, selanjutnya akan ditangani oleh petugas layouter. Tugasnya adalah melakukan penataan letak isi tulisan. Mulai dari ukuran buku, jenis dan ukuran font yang dipilih, besaran spasi, huruf besar dan huruf kecil, pemilihan warna cetak tulisan, dan lain sebagainya. Layouter isi buku ini tentu harus bisa mengenali sasaran pembaca buku itu siapa. Anak-anak, remaja, atau dewasa. Termasuk juga kategori buku itu termasuk buku ajar untuk kuliah, buku bacaan popular, atau buku-buku hiburan, dan seterusnya.

Kelima, Desain Sampul Buku. Buku yang hadir di hadapan kita, tentu lengkap dengan sampulnya. Bahkan, buku-buku sekarang ini, kalau kita lihat di toko buku, kebanyakan buku yang tersegel (dibungkus plastik). Karenanya, tampilan sampul buku, baik sampul depan, punggung, maupun sampul belakang, menjadi salah satu penentu keberhasilan agar banyak orang yang mau membeli dan membacanya. Kelihaian desainer sampul buku sangat dibutuhkan. Desainer harus memahami secara umum isi buku tersebut, serta mengerti selera pasar zaman now. (bersambung)


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY