SAYA MANUSIA, SAYA CERDAS

ABDUL HALIM FATHANI

SUDAH cukup lama banyak orang atau pihak yang terlanjur percaya seratus persen pada hasil tes IQ (intelligence quotient), sampai-sampai tes IQ menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang meng(di)anggap favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu agar hasil tes IQ anaknya dapat mencapai skor tertentu (sebagaimana yang dipersyaratkan sekolah yang akan dibidik), sehingga bisa diterima di sekolah yang dianggap- favorit atau unggul tersebut.

Namun, kalau kita melihat realitas di lapangan, ada orang yang memiliki skor IQ tinggi, namun tidak (baca: belum) dapat menjalani kehidupannya dengan sukses dan bahagia. Mereka memiliki skor IQ tinggi, tetapi sering berkonflik dengan orang lain, tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, dan parahnya lagi, emosinya tidak stabil dan sering marah. Akibatnya, orang tersebut sering mengalami kegagalan dalam mengarungi kehidupannya.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang memiliki IQ rendah, tetapi karena didukung dengan sifat ketekunan, ketelatenan, kesabaran, emosi yang stabil, memiliki sikap percaya diri yang tinggi dan selalu optimis, maka dengan mudahnya ia dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan sukses dan bahagia. Jika demikian, lalu bagaimana sebenarnya posisi IQ dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang? Munif Chatib, penulis buku ini membalik itu semua. Chatib menegaskan bahwa tidak ada individu anak yang lemah, bodoh. Semua individu adalah cerdas. Semua Anak adalah Bintang.

Diakui atau tidak, ternyata –memang– masih ada sebagian di antara kita yang belum mendefinisikan secara utuh pada kata ‘cerdas’. Ada yang berpendapat bahwa orang yang cerdas adalah orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi. Ada yang mengartikan cerdas adalah orang yang memiliki nilai ujian nasional tinggi, lulus seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN). Ada juga yang mendeskripsikan cerdas, berarti orang yang memiliki kemampuan tinggi bidang intelektual, emosional, atau spiritual.

Sementara, dalam kehidupan riil, kita dihadapkan pada beberapa orang yang tidak hanya mampu di bidang tersebut, namun mereka ada yang mampu di bidang musik, bidang alam-lingkungan, bidang olahraga, bidang gambar, bidang pergaulan, dan seterusnya. Mereka memiliki kemampuan (baca: kecerdasan) di bidangnya masing-masing tersebut. Jadi, kita tidak boleh tergesa-gesa untuk melabeli orang ini bodoh, lemah, atau tidak mampu. Justru, kita ditantang untuk dapat mengatakan (baca: menemukan) bahwa orang ini cerdas ini, cerdas itu.

Tidak ada gunanya kita memberi label “cerdas” dan “tidak cerdas”. Kalau merujuk teori multiple intelligences yang digagas Gardner (1983), maka setiap individu harus dipandang sebagai seorang yang cerdas. Cerdas yang dimaksud bukanlah cerdas di bidang matematika dan linguistik saja. Namun, sesungguhnya mereka –setiap individu- adalah cerdas di bidangnya masing-masing. Siswa cerdas bukanlah siswa yang mendapat ranking atau peringkat sepuluh terbaik. Namun, sesungguhnya setiap siswa adalah peraih peringkat pertama atau boleh dikatakan setiap siswa adalah sang juara di bidang keahliannya masing-masing.

Benarkah setiap individu itu cerdas? Kita perlu mendefinisikan kembali makna kecerdasan. Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, kecerdasan seseorang tidak dapat diwakili oleh angka-angka atau hasil tes yang standar. Kecerdasan bersumber dari kebiasaan (habit), yaitu perilaku yang cenderung diulang-ulang. Ada dua batasan kebiasaan yang berkaitan dengan kecerdasan ini, yaitu: (1) kebiasaan seseorang menciptakan produk baru yang memiliki nilai budaya (kreativitas); dan (2) kebiasaan seseorang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri (problem solving) (hlm. 5). Dan, Gardner menegaskan bahwa kecerdasan itu tidak tunggal, tetapi beragama, majemuk.

Sampai saat ini, Gardner mendeskripsikan ada delapan kecerdasan yang dimiliki setiap individu (dengan tingkat kecenderungan masing-masing), yaitu: kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Seiring dengan waktu-perkembangan ilmu, masih sangat mungkin akan terus berkembang jenis-jenis kecerdasan lainnya. Tugas kita adalah bagaimana dapat menemu-kenali lalu mengembangkan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki.

Munif Chatib, penulis buku ini memberikan jalan keluar untuk dapat mengetahui kecenderungan kecerdasan seorang individu, ialah dengan Multiple Intelligences Research (MIR). MIR adalah alat riset –bukan alat tes– yang akan mengetahui potensi setiap kecerdasan individu. Chatib menegaskan bahwa kecerdasan seorang individu tidak dapat dinilai dari alat tes apa pun. Penelitian terbaru mengatakan bahwa kecerdasan seorang individu dapat diketahui dari kebiasaan individu yang bersangkutan. (hlm. 11).

MIR dapat bermanfaat untuk siswa, guru, orangtua, dan sekolah, antara lain: untuk mengetahui gaya belajar siswa, pembagian kelas berdasarkan persamaan gaya belajar siswanya, dan untuk mendesain metode mengajar dalam Rencana Pelakasanaan Pembelajaran (RPP). Sementara, hasil MIR untuk orang tua, di antaranya orangtua dapat mengetahui kecerdasan anaknya, orangtua mengetahui bakat terpendam anaknya, orangtua mengetahi cara dan pola pendekatan komunikasi kepada anak-anaknya, orangtua mengetahui kegiatan-kegiatan kreatif yang disarankan dilakukan bersama anaknya, dan orangtua mengetahui jenis-jenis permainan yang sesuai dengan kecenderungan kecerdasan anaknya, sehingga terus dapat mengembangkan lebih baik. (hlm.13-14).

Dari uraian di atas, semakin memperkuat dan menegaskan kembali bahwa setiap individu adalah cerdas. Cerdas sesuai dengan bidang kemampuannya masing-masing. Sesungguhnya, tidak ada kecerdasan itu yang lebih baik atau lebih jelek. Kita tidak dalam rangka membuat perbandingan kecerdasan antara satu individu dengan individu lainnya. Namun, kita justru mengajak agar masing-masing diri kita dapat menemukan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki masing-masing.

Buku yang ditulis seorang praktisi kecerdasan majemuk ini sangat direkomendasikan untuk dimiliki dan diamalkan. Dengan buku ini, maka kita akan diajak menyadari bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Manusia, itu bukan robot, bukan mesin. Karenanya, manusia itu merupakan makhluk yang selalu berkembang dinamis, tidak statis. Manusia dibekali dengan akal pikiran. Jadi, kalau saya manusia, tentu saya secara fitrah memang orang yang cerdas. Cerdas di bidangnya masing-masing. Sekali lagi, jangan lewatkan buku yang ‘sangat manusiawi’ ini. Selamat menjadi cerdas!(*)

IDENTITAS BUKU:
Judul Buku : SEMUA ANAK BINTANG
Penulis : Munif Chatib
Penerbit : KAIFA, Bandung
Cetakan : I, 2017
Tebal : x + 94 hlm
ISBN : 978-602-0851-88-4
Peresensi : Abdul Halim Fathani

ABDUL HALIM FATHANI,
Peresensi adalah Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang. Penggagas Forum Literasi Matematika (forLIMA).

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/158004/20171004/144637/saya-manusia-saya-cerdas/


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY