“MISBAH” MENULIS

fathani.com – Hari Selasa tanggal 16 juni 2020 di sebuah grup WA yang saya ikuti, ada salah satu anggota grup yang mengirim pesan. Pesan tersebut berupa tulisan populer yang berjudul “nikmatnya menulis”.

Dalam pengakuannya, si pengirim pesan tersebut mengisahkan kondisi awalnya dalam dunia penulisan, sesungguhnya ia memiliki kemampuan yang masih minim, serba terbatas. Tetapi, berkat ketekunan, keuletan, dan kegigihannya, ia terus “berjuang”  untuk istiqomah dalam menulis. Menulis dengan tema apapun, dalam bentuk apa. 

Misbah, si pengirim pesan tersebut, mengaku: menulis yang ia praktikkan sesungguhnya adalah ‘hanya’ ingin menyelamatkan (baca: mengikat) ide yang sedang berkeliaran dalam pikirannya. Memang, ide yang muncul itu harganya amat mahal. Sungguh Eman sekali, kalau dibiarkan lewat begitu saja. Dengan menulis, maka ide akan menjadi bermakna. Minimal bagi yang menulis.

Misbah, mengaku merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika tulisannya yang dirangkai itu berhasil menjadi tulisan yang bisa dibaca oleh banyak orang. Mengalir, itulah salah satu karakter tulisan yang dihasilkan oleh Misbah. Dari beberapa tulisannya, terbukti sudah berhasil di terbitkan dalam bentuk buku, ada yang berhasil dimuat di media online, media cetak, dan sebagainya.

Produk tulisan yang ditulis oleh seseorang orang yang sudah berhasil diterbitkan -dalam bentuk apapun itu- sesungguhnya dapat menjadi energi positif yang bisa meningkatkan motivasi internal, sehingga akan mendorong untuk terus belajar. Belajar untuk meningkatkan kualitas ide, kualitas tulisan. Tulisan yang dihasilkan itu pastinya dapat membawa manfaat bagi diri sendiri dan manfaat bagi orang lain. Termasuk di dalamnya adalah bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Saya teringat buku yang ditulis oleh Pak hernowo almarhum, berjudul free writing. Dalam buku tersebut Hernowo menegaskan bahwa menulis itu dapat mendatangkan kebahagiaan. Hernowo merumuskan model latihan menulis bebas yang memadukan “fre writing” dengan “mengikat makna”, yakni sebuah konsep membaca-menulis yang telah menempatkannya sebagai penulis produktif sekaligus kreatif. Dengan menerapkan konsep free writing, maka kegiatan menulis itu akan menghindarkan diri kita dari stres kesal, kecewa, bahkan frustasi.

Dalam pengamatan saya, Misbah sudah mempraktikkan konsep ini dalam menulis. Ia mempraktikkan menulis dengan cara mengalir bebas, tanpa tekanan. Ia memiliki prinsip: yang penting terus belajar dan belajar terus.

Apa yang terjadi? Lama-kelamaan tulisan yang dihasilkan, akan memiliki bentuk sendiri. Tulisan gaya Misbah. Itulah keunikan sebuah tulisan. Sejatinya, kita semua memiliki gaya menulis masing-masing. Gaya menulis kita, tidak harus sama dengan gaya tulisan orang lain. Selamat untuk Misbah. Selamat berkarya bebas. [ahf]

ABDUL HALIM FATHANI

Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY