MENSYUKURI “NIKMAT” INDONESIA

Abdul Halim Fathani

INDONESIA, sudah bukan lagi muda usianya. Tepat 17 Agustus 2017 nanti, Negara kita telah berusia 72 tahun. Usia yang lebih dari cukup. Di usia ke-72 tahun ini, tiada lain, adalah kita harus tetap senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Founding father telah berjuang keras membangun konsensus bersama untuk memberikan bangunan dan jiwa dari negara Indonesia. Empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus selalu dijaga, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ini harus dijaga!

Para Founding father bangsa Indoesia telah meninggalkan warisan berharga kepada rakyat Indonesia berupa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita sebagai rakyat dapat dengan sungguh-sungguh merawat rumah Indonesia secara baik dan benar. Kita, sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya dapat menghargai para Founding father ini dengan menelorkan gagasan cerdas dan ide kreatif. Tantangan besar yang kini dihadapi adalah bagaimana kita merawat rumah Indonesia ini agar tetap utuh dan kokoh sebagai Baldatun Thayyibatun wa rabbun Ghafur.

Indonesia itu luar biasa. Bayangkan! Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah total pulau mencapai 17.508 pulau. Terdiri dari 5 kepulauan besar dan 30 kelompok kepulauan kecil. Termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni. Di dalamnya ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu: Kalimantan sebagai pulau terbesar ketiga di dunia dengan luas 539.460 km², Sumatera luasnya 473.606 km² dan Papua yang luasnya 421.981 km².

Buku “Merawat Nusantara” ini menarik. Latar belakang penulis buku ini sangat beragam. Ada guru besar, politisi, mahasiswa, ibu rumah tangga, pelajar, dan lainnya. Penulis yang variasi itulah yang menjadikan buku ini sarat dan kaya akan perspektif. Tidak hanya satu sudut pandang. Sebagaimana penegasan penyunting, bahwa buku ini lahir sebagai wujud dari kontribusi penulis untuk “merawat rumah Indonesia”. Melalui tulisan, para penulis telah memberikan kontribusi pemikiran yang riil untuk meneguhkan spirit persatuan dalam kebhinekaan, membangun Indonesia.

Ada 4 bab dengan tema yang beragam. Mulai dari Bab 1: Merawat nusantara sebagai aktualisasi pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan; Bab 2: Merawat nusantara dalam konteks pendidikan dan budaya; Bab 3: Merawat nusantara dalam bingkai hikmah kehidupan; dan Bab 4: Merawat nusantara demi kemajuan dan pembangunan daerah.

Mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepada bangsa Indonesia dapat dilakukan dengan banyak cara. Baik melalui jalan pendidikan, budaya, ekonomi, hingga sosial politik. Indonesia, sejatinya merupakan negara yang kaya akan konsep pendidikan, termasuk nilai pendidikan karakter. Hakikat pendidikan Indonesia adalah membentuk lulusan untuk mengabdi terhadap Negara Indonesia. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Nomor 20 Tahun 2003 ditegaskan bahwa arti pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat aktif mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Adalah Prof. Dr. Winarno Surakhmad, MSc. Ed., merupakan tokoh bidang pendidikan nasional yang merilis konsep pendidikan yang bertitik-tolak dari pesan-pesan mengenai peranan pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan kebudayaan Indonesia. Berdasarkan pengalamannya yang segudang dalam dunia pendidikan di Barat, Profesor Winarno tetap berpijak pada kenyataan-kenyataan sosial di negeri sendiri tanpa terpengaruh oleh konsep-konsep Barat yang belum tentu diterapkan di Indonesia.

Tidak hanya melalui pendidikan. Masih banyak jalan untuk merawat, untuk mensyukuri Indonesia. Indonesia punya konsep Ekonomi kerakyatan, Indonesia punya beragam karakter luhur yang penting untuk diinternalisasikan. Indonesia memiliki sikap menjunjung tinggi nilai toleransi antar manusia.

Salah satu penulis dalam buku ini – Imam Suprayogo- menegaskan bahwa merawat kebhinekaan sebenarnya tidak terlalu sulit, yaitu jangan sampai, sengaja atau tidak, menyinggung perasaan orang yang berbeda, dan apalagi perbedaan agama. Sakit hati sebagai akibat ketersinggungan jauh lebih sulit disembuhkan disbanding sekadar sakit pada bagian fisiknya. (hlm, 128).

Buku ini dikemas dengan bahasa popular yang mudah dikonsumsi bagi pembaca secara luas. Ulasan dalam buku yang ditulis penulis dengan latar belakang profesi yang beragam ini menarik untuk menjadi bahan rujukan masyarakat Indonesia. Harapannya, dengan membaca buku ini, masyarakat memiliki multi perspektif dalam merawat negeri tercinta. Merawat Indonesia. []

IDENTITAS BUKU:
Judul Buku : MERAWAT NUSANTARA (Menumbuhkan Kembali Spirit Persatuan dalam Kebhinekaan)
Penulis : Komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN)
Editor : Abd. Aziz Tata Pangarsa
Penerbit : Genius Media, Malang
Cetakan : I, 2017
Tebal : x + 222 hlm
ISBN : 978-602-1033-22-7

Resensi ini sudah dipublikasikan di website: http://www.harakatuna.com/mensyukuri-nikmat-indonesia.html


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY