MENJADI PEMBELAJAR TANGGUH

fathani.com SEMENJAK masa pandemi covid-19 “hadir”, lalu terjadilah perubahan mental dalam masyarakat. Salah satunya adalah perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan  kegiatan ilmiah seperti seminar, workshop, diskusi ilmiah, dan sejenisnya.

Dulu, sebelum era covid-19, kegiatan semacam itu membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk menyelenggarakannya. Baik bagi panitia yang melaksanakan maupun peserta yang mengikutinya. Bahkan, termasuk juga narasumber yang diundang menjadi pembicara pun harus meluangkan waktu secara khusus di tengah-tengah agenda kesibukannya.

Bagi penyelenggara, di antara yang disiapkan adalah harus membentuk team work yang solid untuk merencanakan kegiatan tersebut, agar bisa berlangsung sukses, melakukan promosi dan publikasi kegiatan di berbagai media cetak maupun online, melakukan sewa ruang pertemuan yang representatif, termasuk juga melakukan penataan ruang tempat acara yang dibuat senyaman mungkin.

Sementara, bagi peserta yang tertarik dengan acara tersebut, harus menyiapkan dana kontribusi, waktu khusus hingga minta izin kerja atau izin sekolah/kuliah. Ada juga yang harus menambah dana transportasi, jika acara tersebut berada di luar kota yang jauh dari tempat domisili.

Dalam kasus tertentu, panitia penyelenggara ada yang merasa “kesulitan” mencari (memburu) peserta untuk mendaftar mengikuti kegiatannya yang dilaksanakan. Alasannya pun macam-macam. Bisa jadi, ada yang merasa kemahalan biaya kontribusinya, tidak bisa menyediakan waktu karena sedang aktif bekerja dan tidak mendapatkan izin dari pimpinan, dan alasan-alasan lainnya. Di sisi lain, ada juga panitia yang justeru kebanjiran peserta, sementara kuota peserta terbatas.

Termasuk yang sering menjadi rebutan peserta, terutama para guru dan dosen adalah penyelenggaraan kegiatan seminar nasional maupun internasional, yang salah satu luaran kegiatannya adalah berupa prosiding ber-ISBN atau ber-ISSN. Lebih-lebih jika luarannya berupa prosiding internasional yang terindeks Scopus. Pasti akan ramai ‘pengunjung’.

Era Covid-19

Sekarang jadi rebutan. Tidak sedikit lembaga yang menyelenggarakan kegiatan akademik, seperti seminar, workshop, diskusi, dan sejenisnya di masa pandemi Covid-19 ini. Mereka semua seolah-olah mendapatkan ‘energi baru’ untuk menyelenggarakan kegiatan seperti itu. Bergerak dengan mudah, bahkan bisa berkali-kali dilaksanakan secara serial.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Dugaan saya, salah satunya disebabkan karena untuk menyelenggarakan kegiatan seperti itu di masa pandemi Covid-19 ini tidak rumit, tidak berat, tidak butuh modal besar. Cukup menyediakan laptop atau Handphone Android, dan yang pasti harus ada jaringan internet. Kegiatan semacam ini disebut dengan istilah Webinar. Yakni seminar yang dilakukan melalui sebuah situs web atau aplikasi tertentu berbasis internet.

Saat ini, informasi tentang penyelenggaraan Webinar semakin tidak terbendung. Hari demi hari, jam demi jam, informasi Webinar terus membanjiri gadget kita. Ada yang diviralkan melalui grup-grup WhatsApp, akun Facebook, akun Instagram, akun YouTube, dan media sosial online lainnya. Hampir semuanya menawarkan Webinar dengan berbagai keunggulan dan kemudahannya. Ada gratis, ada yang berbayar dengan harga yang terjangkau, bahkan ada yang menerapkan model berbayar seikhlasnya.

Luar biasa. Saking banyaknya peluang untuk mengikuti kegiatan Webinar, sampai-sampai kita dibuat bingung. Bingung mau ikut Webinar yang mana. Sama-sama bagus, sama-sama menarik. Namun, waktu pelaksanaannya juga kadang sering terjadi dalam waktu yang bersamaan atau beririsan. Era sekarang ini, bukan kita yang mengejar ilmu dan informasi. Justru sebaliknya, kita yang dikejar-kejar. Saking derasnya arus informasi dan ilmu pengetahuan menghampiri berbagai media komunikasi kita.

Sungguh, ilmu sekarang seperti halnya prasmanan makanan di sebuah acara hajatan. Ketika kita pernah hadir di sebuah acara resepsi pernikahan, tuan rumah biasanya menyiapkan berbagai macam banyak menu makanan dan minuman. Yang jelas, menunya banyak-lebih dari satu. Kita diberikan kesempatan untuk memilih sebebas-bebasnya.

Hal ini sama seperti, ketika Webinar di era pandemi Covid-19 ini. Inginnya kita, semua kegiatan Webinar, lebih-lebih yang gratis, inginnya kita akan ikuti semua. Bahkan, kalau bisa, menyiapkan laptop lebih dari 1 dan HP android lebih dari 1 juga. Tujuannya agar kita bisa mengikuti Webinar semuanya, jika pada saat yang sama pelaksanaannya secara bersamaan.

Yakinkah, bisa terealisasikan? Niatnya iya, tapi dalam kenyataannya akan sulit dilakukan. Kita akan mengalami kondisi yang sukar untuk bisa konsentrasi, jika pada saat bersamaan, mengikuti Webinar dalam jumlah yang banyak. Mungkin kalau masih mengikuti dua Webinar saja itu masih mungkin.

Lalu, solusinya bagaimana agar, tidak sia-sia? Bagaimana caranya agar kita tidak ketinggalan mengikuti Webinar tersebut, terutama jika dalam waktu yang bersamaan? Ya, kita masih bisa “menikmati” dalam bentuk rekaman yang diupload di YouTube atau lainnya. Sehingga bisa dinikmati kapan saja, ketika ada waktu yang longgar, termasuk dari mana saja. Alhasil, seyogianya panitia juga menyiapkan hal ini, yakni menyalurkan tayangan Webinar di akun YouTube atau media lainnya yang bisa diakses oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Dengan demikian, asas manfaat Webinar ini akan memiliki jangkauan yang lebih besar dan luas.

Sungguh, sangat menarik. Mari terus bersyukur. Mengambil hikmah di masa pandemi Covid-19. Kita semua tentu harus memiliki tekad sekaligus mampu untuk menjadi pribadi Pembelajar yang tangguh. Di saat pandemi Covid-19 ini tentu harus menjadi tantangan tersendiri agar tetap produktif. Produktif dalam berkarya. Bukan hanya menerapkan slogan belajar dari rumah. Tetapi, sejatinya, kita harus menyiapkan diri untuk mampu menerapkan slogan ‘Belajar dari mana saja’. Semoga. [ahf]

ABDUL HALIM FATHANI,

Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.

Dipublikasikan di Harian “Duta Masyarakat”, 8 Juni 2020. Link: https://duta.co/menjadi-pembelajar-tangguh


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY