KESAKITAN DAN KEBODOHAN

Abdul Halim Fathani

SETIAP individu, termasuk kita semua, pasti berharap agar terus dikaruniai Allah SWT selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu juga untuk urusan pengetahuan , setiap​ individu selalu menginginkan terbebas dari kebodohan.

Mari kita perhatikan! Ada kata sakit, lawannya sehat. Ada kata bodoh, lawannya cerdas. Seandainya kita dalam keadaan sakit, maka segera dibawa ke rumah sakit, puskesmas, atau poliklinik, agar segera mendapatkan pertolongan. Dengan harapan, agar segera pulih kembali dalam keadaan sehat wal afiat.

Nah, untuk keperluan pertolongan pertama, sebaiknya di setiap rumah kita, selalu ada kotak P3K (Pertolongan Pertama pada kecelakaan). Dalam kotak itu, sudah kita sediakan obat-obatan yang kita gunakan sebagai pertolongan pertama untuk penyakit kita.

Bagaimana dengan kebodohan?
Dengan analogi yang sama, jika kita sudah muhasabah, instrospeksi diri, maka kita harus sadar, jika segera mengambil sikap untuk pertolongan pertama dalam memberantas kebodohan. Jika dalam kondisi tertentu, kita mengalami kebodohan tertentu, maka harus secepatnya untuk menuju kecerdasan.

Untuk menunjang hal itu, perlu menyiapkan kotak P3K, yang kalau dalam hal ini, kita menyediakan buku-buku bacaan yang diharapkan dapat menyembuhkan dari kecerdasan kita. Buku-buku yang kita sediakan adalah buku yang memang dibutuhkan individu yang bersangkutan. Jadi, dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa kita harus membangun paradigma baru, intinya dari sakit berubah menjadi sehat. Demikian juga, dari bodoh menjadi cerdas. [ahf]


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY