GURU PEMBELAJAR, MENTAL GURU PROFESIONAL

Abdul Halim Fathani

 

Kemarin, Tanggal 10 Februari 2018, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi LPTK Penyelenggara Baru. Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber, adalah Ibu Prof. Tjutju Yuniarsih, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ada satu hal yang menarik bagi saya, dari pernyataan yang dilontarkan Prof. Tjuju. Adalah pernyataan yang menegaskan bahwa “PPG merupakan program yang menjadi ‘jaminan’ terakhir bagi kualitas (mutu) bagi guru. Jika PPG tidak bisa dijadikan jaminan, maka habislah riwayat pendidikan di negeri ini”. Tentu, pernyataan Prof. Tjuju ini, menarik untuk menjadi renungan  bersama, bagi kemajuan pendidikan.

Guru merupakan figur sentral dalam melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas di negeri ini. Meskipun, kita tahu bahwa saat ini dunia pendidikan (terutama aspek sumber pembelajaran) kita sudah tidak sedikit yang “digantikan” perannya oleh teknologi informasi dan praktik pendidikan di lapangan sudah lebih dioreintesikan terhadap kompetensi siswa (student oriented). Namun, keberadaan guru tetap penting, dan tidak bisa dinafikan. Ada sisi guru yang tidak akan tergantikan oleh kecanggihan teknologi informasi.

Guru merupakan unsur dasar pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan, terlebih bagi penciptaan SDM berkualitas. Dalam bahasa arabnya, “al-Thariqah ahammu min al-maddah, wa lakin al-mudarris ahammu min al-thariqah” (Metode pembelajaran lebih penting daripada materi belajar, tetapi eksistensi guru dalam proses pembelajaran jauh lebih penting daripada metode pembelajaran). Hal ini senada dengan pendapat negarawan Vietnam, Ho Chi Minh (1890-1969) yang menegaskan prinsipnya bahwa “No teacher, no education”, (Tanpa guru, tidak ada pendidikan).

Oleh karenanya, tidak salah jika pemerintah telah mengeluarkan kebijakan strategis guna mengukuhkan guru sebagai profesi. Penyiapan guru sebagai profesi dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 (PP No. 74) Tahun 2008 tentang Guru. Di samping guru harus berkualifikasi S1, guru harus memiliki sertifikat profesi pendidik yang diperoleh melalui pendidikan profesi. PP No. 74 tahun 2008 Pasal 2 menyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Untuk merealisasikan amanah undang-undang dalam rangka penyiapan guru profesional, maka pemerintah menyiapkan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

PPG ini merupakan salah satu program sebagai ikhtiar meningkatkan kualitas guru sehingga diharapkan dapat menghasilkan lulusan calon guru yang profesional dan siap menghadapi tantangan dan tuntutan zaman. Di sisi lain, penyelenggaraan PPG merupakan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). Dalam undang-undang ini dinyatakan bahwa guru adalah suatu profesi. Seperti halnya keprofesian insinyur, dokter, akuntan, dan lainnya. UUGD Pasal 1 (1) dinyatakan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Dulu, sebelum UUGD Nomor 14 Tahun 2005 disahkan, lulusan S-1 Kependidikan secara otomatis dapat melamar menjadi guru dengan bekal ijazah Akta IV. Demikian juga, bagi lulusan S-1/D-IV Non Kependidikan, yang ingin menjadi guru dapat berkesempatan untuk mengikuti program kependidikan Akta IV. Sekarang sudah tidak berlaku. Siapa pun, baik lulusan  S-1 Kependidikan maupun S-1/D-IV Non Kependidikan yang ingin menjadi (melamar) guru, wajib menempuh program PPG. Meminjam istilahnya Prof. Tjutju Yuniarsih, PPG ini menjadi “jaminan” bahwa lulusannya memiliki kualitas (mutu) yang baik. Ialah Guru yang menguasai kompetensi dasar profesi guru sehingga layak dan siap mengemban tugas sebagai guru yang profesional.

Sebagaimana yang dipaparkan dalam Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru (PPG), bahwa PPG merupakan program yang yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S-1 Kependidikan dan S-1/D-IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

 

Lulusan PPG diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan pendidikan, seperti: (1) kekurangan jumlah guru (shortage) khususnya pada daerah-daerah terluar, terdepan, dan tertinggal, (2) distribusi tidak seimbang (unbalanced distribution), (3) kualifikasi di bawah standar (under qualification), (4) guru-guru yang kurang kompeten (low competence), serta (5) ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan bidang yang diampu (missmatched).

Walhasil, untuk menjadi guru profesional, belum (baca: tidak) cukup hanya berbekal pendidikan sarjana, baik S-1 kependidikan maupun S-1/D-IV non kependidikan. Masih harus belajar lagi di program PPG. Apakah cukup sampai di sini? Secara formal, memang iya. Bagi yang lulus uji kompetensi akan dinyatakan lulus program PPG dan berhak mendapatkan Sertifikat Profesi Pendidik. Sejatinya ikhtiar peningkatan kompetensi guru tidak boleh berhenti sampai di sini. Harus terus belajar, terus meningkatkan kompetensi diri.

Sebagaimana Pasal 28 ayat 3 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai agen pembelajaran. Keempat kompetensi itu adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. Inilah yang penulis sebut sebagai karakter dasar yang harus dimiliki seorang guru.

Terkait hal itu, menarik untuk merenungkan pernyataan Prof. Komarudddin Hidayat: “Guru yang berhenti belajar, berhentilah mengajar!” Penegasan itu, disampaikan Komarudin Hidayat, pada masa masih menjabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah, disampaikan pada acara pengukuhan Guru Sertifikasi Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah, akhir Desember 2009.

Pernyataan ini sebenarnya ingin mengingatkan kepada kita semua –wabilkhusus bagi para guru, terlebih para lulusan PPG– agar tidak pernah berhenti belajar. Setelah mengenyam pendidikan S-1/D-IV, lalu lanjut belajar di PPG. Setelah dinyatakan lulus, tidak boleh berhenti belajar, justru harus memiliki semangat yang tinggi untuk belajar demi mengembangkan kompetensinya, seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Di akhir tulisan ini marilah kita merenungkan Sabda Rasulullah SAW: “Uthlubul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi, Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup (PSH). Kehidupan manusia  di dunia ini tidak boleh sepi dari kegiatan belajar. Kuliah S1, DIV, PPG, merupakan salah satu instrumen untuk belajar (menuntut ilmu) pada sebagian umur kehidupan kita. Selebihnya kita harus terus belajar dan belajar. [ahf]

 

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/167743/20180211/131119/guru-pembelajar-mental-guru-profesional/


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY