“GILA”

“GILA”

KOLOM Rhenald Kasali berjudul Dahlan dan “Musuh Besarnya” di Harian Jawa Pos, 21 April 2017, halaman 1 menarik untuk direnungkan. Rhenald Kasali memberi label “gila” bagi orang yang telah berkarya spektakuler, yang tidak biasa dan tidak rutin.

Pak Rhenald mencontohkan seperti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan sebutan “Gila Taman”. Terus, ada Jusuf S.K., mantan Wali Kota Tarakan Kalimantan Timur, disebut “Gila Lampu dan Trotoar”. Kemudian, ada Fadel Muhammad, mantan Gubernur Gorontalo, yang disebut “Gila Jagung”. Lalu, Joko Widodo, semasa masih menjadi gubernur DKI Jakarta, disebut ” Gila Blusukan”.

Label “Gila”, sebagaimana yang dilabelkan Rhenald Kasali tersebut, saya yakin tidak hanya itu. Masih banyak orang lainnya, yang semestinya juga pantas untuk menyandang label “Gila” tersebut. Gila yang dimaksud dalam konteks ini adalah gila positif.

Saya teringat ketika sedang kuliah S1 di UIN Malang, pada waktu itu ada orang yang menyebutnya kampus UIN Malang (dulu STAIN Malang) sebagai kampus yang gila. Bukan hanya kampusnya yang gila, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, pimpinan STAIN Malang waktu itu, juga mendapatkan label ketua/rektor yang gila. Alasannya, karena kampus STAIN Malang bisa berubah status dengan meloncat langsung menjadi universitas (baca: UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). Tidak perlu melewati tangga IAIN Malang.

Gila dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai sebuah ikhtiar untuk mencari terobosan. Satu prinsip yang dipegang oleh bagi “orang gila” adalah ikhtiar yang dilakukan ialah memiliki pertimbangan yang lebih besar. Ialah untuk memenuhi kepentingan untuk kemaslahatan masyarakat. Alhasil, marilah menjadi “orang Gila” yang terus melakukan terobosan. Mari dilakukan dengan berpijak pada alur (SOP). Sekali lagi, “orang gila” adalah orang yang selalu berprinsip limaslahatil ummah. [ahf].


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY