GENERASI LAYANG-LAYANG

fathani.com – DI dunia ini terjadi siklus manusia sebagai makhluk hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Generasi lama menuju generasi baru. Generasi dulu hingga generasi sekarang. Generasi X, generasi Y, generasi Z, dan seterusnya.

Di sisi lain, keadaan zaman juga terus berkembang secara dinamis. Zaman dulu, zaman sekarang, zaman akan datang. Contoh: keadaan sekarang saja -saat ini masyarakat dunia sedang berada pada masa pandemi covid-19 yang saat ini sedang pada masa transisi menyiapkan diri menuju masa kenormalan baru (new normal).

Masing-masing generasi tersebut, tentu memiliki karaktersistik unik sendiri-sendiri. Menyesuaikan kondisi di zamannya. Tugas manusia adalah terus belajar dan belajar terus. Mari kita ingat ungkapan yang diucapkan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Ungkapan ini penting untuk diresapi dan dijadikan pegangan para orangtua dan guru. Orangtua dan guru, sejatinya adalah pendidik.

Dalam naskah pidatonya pada saat pengukuhan guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu, 29 Februari 2020, di  Profesor Doktor KH.Asep Saifuddin Chalim, memaparkan 1 kata kunci penting tentang sikap terhadap generasi milenial. Kyai Asep dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA). Saat pengukuhan juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gubernur Jawa Timur, dan undangan lainnya.

Melalui pidatonya berjudul “Model Pendidikan dalam Mengatasi Problematika Masyarakat Masa Kini dan Akan Datang” tersebut, Profesor Asep membagikan pengalaman dan strategi yang diterapkan oleh pondok pesantren Amanatul ummah. Secara umum yang dilakukan Kyai Asep adalah tetap berpegang teguh pada tradisi lama yang konservatif, namun juga tetap mempertimbangkan kebutuhan generasi milenial dalam batas yang wajar.

Ibarat orang bermain layang-layang yang bisa terbang tinggi jika dikendalikan, bukan dilepas. Pondok pesantren Amanatul ummah memiliki harapan untuk menerbang-tinggikan para santri untuk menggapai bintang di langit tetapi dalam pengendalian pesantren. Diterbangkan tinggi-tinggi, tetapi tetap dalam pengendalian. Inilah peran pendidikan. Tidak dilepas begitu saja.

Layanan pendidikan yang diberikan kepada generasi milenial pada prinsipnya memahami karakter peserta didik yang nota bene merupakan kelompok generasi milenial yang ingin bebas serta instan dan cenderung bermain gadget. Paradigma yang dibangun harus berada pada posisi take it for granted. Kita tidak boleh membiarkan anak didik generasi milenial terbawa arus liberalisasi ala barat yang tidak sesuai dengan falsafah hidup ketimuran kita.

Selain memposisikan diri sebagai pendidik yang bertugas untuk mentransfer ilmu pengetahuan, para pendidik juga harus mampu membangun rambu-rambu ajaran agama etika norma dan nilai-nilai luhur bangsa yang memimpin peserta didik sebagai warisan the founding fathers.

Artinya lembaga pendidikan harus memposisikan diri sebagai lembaga pengendali arus perubahan zaman yang semakin cepat. Informasi seperti yang kita rasakan sekarang ini, prinsip yang harus dipegang teguh, namun tetap memberikan ruang akomodasi perkembangan bagi generasi saat ini untuk dapat merespon dalam menghadapi tantangan.

Belajar dari layang-layang. Ya dilepas tetapi tetap dikendalikan. Semoga kita semua mampu menghadapi perkembangan zaman dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip yang sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia khususnya umat muslim. [ahf]

ABDUL HALIM FATHANI,

Pemerhati Pendidikan dan Pembelajar Matematika. Aktif sebagai Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY