ERA INFORMASI

fathani.com – SAAT ini kita berada di zaman yang penuh sesak dengan informasi. Informasi apapun dengan mudah keluar masuk di sekitar kita. Baik online maupun offline. Ada yang lewat WhatsApp, SMS, website, email, instagram, facebook, chatting, telepon, dan media lainnya. Datangnya informasi tersebut tidak menganal ruang dan waktu. Di mana pun dan kapan pun kita berada, informasi itu terus berkeliaran. Bahkan, di masa pandemi covid-19 ini, kita telah merasakan, derasnya informasi ‘liar’ tersebut yang berkeliaran. Apa tugas kita? Sebagai orang yang hidup di era informasi seperti ini, maka kita harus dapat membaca informasi dengan bijak. Membaca informasi, bukan menunggu informasi.

Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang mengirim pesan ke saya via WhatsApp. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,  saya ingin bertemu dengan bapak. Kapan ada waktu? Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Itulah pesan singkat yang dikirimkan ke nomor WhatsApp saya. Saya jawab: “Ya, silakan besok pagi bisa ketemu di kantor saya.”

Keesokan harinya, yang bersangkutan bertemu saya, di kantor. Setelah ngobrol singkat, kemudian saya tanya: ‘Ada perlu apa?’ Ia menjawab, ingin bertanya tanya tentang informasi Beasiswa KIP-Kuliah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya jawab, informasi beasiswa KIP-Kuliah sebenarnya sudah bisa diakses di website www.bakak.unisma.ac.id atau langsung di website kip kuliah pusat: www.kip-kuliah.kemdikbud.go.id. Di website tersebut, sudah lengkap panduan pendaftarannya, jadwal pendaftarannya, dan berbagai persyaratan lainnya, yang bisa di-update setiap saat. Di website tersebut juga sudah tercantum call center, yang bisa dihubungi ketika ada beberapa hal yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, yang belum tercantum dalam panduan.

Sambil tersenyum, ia menjawab: “Iya pak, saya beberapa hari yang lalu sudah dapat kiriman link itu dari Pak Fathani, tetapi saya belum membuka link tersebut sampai sekarang.” “Memang saya berniat untuk menanyakan langsung ke bapak, agar lebih jelas”, demikian kata tamu saya tersebut. Berarti informasi yang selama ini meluncur ke smartphone-nya, dibiarkan begitu saja. Tidak ada niat untuk dibaca-pelajari.

Belajar dari peristiwa di atas, saya masih menemukan beberapa hal menarik. Paling tidak, saya mendapatkan data bahwa, masih ada seseorang yang termasuk kelompok generasi Z yang sedang berada di era informasi dan teknologi, yang bersikap pasif.  Terhadap informasi itu, dia tidak nyaman (tidak mau) membaca informasi yang sudah tersedia, tetapi dia lebih nyaman menanyakan secara langsung kepada orang yang dianggap kompetensi mengenai informasi tersebut.

Bahkan ia pun rela tidak membuka link website yang berisi informasi tersebut, tetapi justru ia ‘sabar’ menunggu untuk bisa bertemu langsung dengan orang yang dianggap mengetahui informasi tersebut. Padahal terhadap orang tersebut, ketika bertemu langsung dengan saya, Saya cukup menjawab informasi yang saya sampaikan yang ada di website itu sudah jelas, sebagaimana informasi yang ada di website tersebut.

Berarti setiap orang memperlakukannya berbeda-beda. Ada yang membiarkan informasi itu lewat begitu saja. Ini kelompok yang pasif. Ada juga yang segera untuk membaca terhadap informasi yang muncul. Inilah kelompok yang aktif, memburu informasi.

Pertanyaannya sederhana: informasi itu untuk dibaca, dilihat, atau untuk disimpan? Hemat saya, informasi yang berkeliaran di sekeliling kita, sudah semestinya kita lihat, kita baca, kita pelajari secara utuh. Langkah yang pertama yang harus dilakukan oleh si penerima informasi adalah membuka dulu informasi secara lengkap. Kalau masih ada hal-hal yang belum jelas itu baru ditanyakan. Tetapi, yang ditanyakan bukan menanyakan hal yang sudah jelas yang ada di pedoman tersebut.

Satu hal yang perlu diperhatikan lagi, ketika setelah membaca sangat lengkap kemudian ada beberapa hal yang butuh penjelasan lebih lanjut bisa menghubungi call center atau contact person. Yang perlu diingat, hal ini bisa dilakukan secara online melalui email melalui handphone dan sejenisnya, tidak harus bertemu langsung.

Membaca dulu baru bertanya, bukan bertanya tanpa membaca. Karena, bisa jadi apa yang ditanyakan itu sudah ada (terjawab) di buku panduan tersebut. Dengan kata lain, jawabannya sudah ada lebih dulu dari pada pertanyaanya. Mari, kita semua terus membaca dan membaca terus. Dengan aktif membaca informasi, maka kita akan mendapatkan segala sesuatu secara komprehensif. Baca dulu, baru bertanya. [ahf]

ABDUL HALIM FATHANI,

Pemerhati Pendidikan dan Pembelajar Matematika. Aktif sebagai Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY