Dua Pusaka

Abdul Halim Fathani

KETIKA membaca majalah Risalah Edisi 129, pada halaman 16-17, menarik kita untuk kembali mencermati, lalu merenungkan, selanjutnya kita perlu mengamalkan pada diri kita masing-masing. Apa itu? Ialah Tausiyah Rais Sama PBNU, KH. Miftachul Ahyar, yang berjudul “Menghidupkan Dua Pusaka Nahdlatul Ulama”.

Dalam Majalah yang diterbitkan PBNU tersebut, KH Miftachul Akhyar, menegaskan ada dua pusaka yang harus menjadi kekuatan kembali bagi kita, khususnya warga Nahdliyyin. Dua pusaka ini harus menjadi mental dan karakter yang terinternalisasi dalam kepribadian diri kita sebagai manusia dalam rangka untuk merealisasikan tugas sebagai khalifah fil ardh.

Pertama, Kredo sami’na wa atha’na. Kami mendengar dan Kami taat.

Kalimat ini seringkali kita dengar diucapkan orang lain, bahkan bisa jadi sering kali juga sudah kita ucapkan sendiri, ketika mendapatkan perintah. Seperti yang disampaikan KH. Miftachul Akhyar, pada saat mengucapkan sami’na wa atha’na, berarti kita telah mengingat akan nikmat Allah SWT yang telah dianugerahkan dan dikaruniakan kepada kita.

Kalimat sami’na wa atha’na ini melahirkan sebuah anugerah dan kesejahteraan bagi umat manusia. Ini bisa menjadi senjata kita, untuk mengikatkan diri akan melaksanakan perjanjian dengan penuh kesanggupan, kesungguhan, dan keteguhan hati sebagai hamba Allah SWT.

Kedua, tabayun.
Era saat ini, merupakan era global yang ditandai dengan gempuran informasi yang luar biasa. Informasi, apapun bentuknya, bisa datang kapan saja, tidak mengenal waktu. Baik yang berbentuk cetak maupun online. Informasi yang sekedar memberikan kabar atau yang mengandung ilmu pengetahuan. Semuanya hadir di tengah-tengah kehidupan kita.

Tantangannya adalah, kita harus mampu memilih dan memilah informasi yang masuk ke dalam diri kita. Tidak semua informasi lantas diterima mentah-mentah. Kita harus mengedepankan sikap kritis terhadap informasi yang masuk tersebut. Begitu memperoleh informasi, harus disaring terlebih dahulu. Jika informasi itu benar, mengandung kebaikan, membawa hikmah, silakan diri kita untuk menyebarkan kepada khalayak luas. Tetapi, jika informasi tersebut masih diragukan kebenarannya, maka kita harus melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Inilah konsep tabayun. Tidak boleh grusa-grusu.

Alhasil, marilah kita semua menghidupkan kembali dua pusaka tersebut, sami’na wa atha’na dan tabayun menjadi karakter dan mental yang terinternalisasi dalam diri kita, sehingga kita dapat melaksanakan tugas khalifah fil arld dengan baik. Amin. [ahf]


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY