DI MANA

Abdul Halim Fathani

KETIKA mengedit beberapa naskah buku, saya pernah mengalami kegelisahan yang tak kunjung berakhir. Tapi, saya bersyukur, Alhamdulillahirabbil ‘alamin, akhirnya kegelisahan saya tersebut bisa segera diakhiri. Tepatnya sesaat setelah membaca Harian nasional “Kompas” terbitan 15 April 2017, pada kolom bahasa.

Saya gelisah, beberapa kali menjumpai kata “di mana” yang tidak jelas maknanya. Faktanya, ada beberapa tulisan kata “di mana” di naskah​ tersebut yang memiliki arti selain “tempat”. Padahal, jika kita menelusuri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “di mana” memiliki arti: (1) kata tanya untuk menerangkan tempat: penandatanganan naskah ini harus kita lakukan — ? (2) kata untuk menunjukkan tempat yang tidak tentu: — ada uang, di situ ada pedagang.

Lalu, bagaimana dengan kata “di mana” yang tidak berhubungan dengan makna tempat sama sekali? Beberapa naskah yang saya jumpai, yang mengandung kata “di mana” yang tidak berhubungan dengan makna tempat, bukanlah ditulis orang sembarangan. Ternyata penulisnya seorang mahasiswa program doktor yang sedang menyelesaikan naskah disertasinya, ada juga yang ditulis seorang penulis yang sudah biasa muncul namanya di koran, ada juga yang seorang editor, dan sebagainya.

Nah, sekarang marilah kita menelusuri beberapa contoh penggunaan kata “di mana” yang tidak semestinya. Sehingga kata “di mana” itu semestinya bisa diganti dengan kata lain yang lebih pas. Marilah kita simak beberapa contoh yang saya rujuk dari tulisannya Yanwardi, sebagaimana yang dipublikasikan pada Harian Kompas (15 April 2017), halaman 12.

Contohnya adalah:
“Jaringan di mana dimobilisasikan…” [bisa disulih kara YANG]
“Konteks kalender pertanian di mana ritual…” [bisa disulih DENGAN]
“Terjadilah perdebatan panas, di mana Van den Wall mengacu…” [bisa disulih KARENA]
“Hal ini dapat kita temukan pada hari Minggu di mana umat Kristiani…” [bisa disulih KETIKA]
“… curah hujan kian besar di mana para petani menjadi kian khawatir” [bisa disulih SEHINGGA]
“Tentu saja pendekatannya berciri etnografi di mana penulis berusaha…” [bisa disulih YAITU/YAKNI]
” Zaman edan adalah masa di mana semua nilai kehilangan arti….” [bisa dihilangkan tanpa mengubah makna dan struktur kalimat].

Berdasarkan contoh-contoh di atas, akhirnya kita sadar bahwa kata “di mana” yang kerap kali digunakan untuk konteks kalimat yang bermakna bukan tempat, adalah suatu hal yang tidak tepat. Oleh karena itu, kita harus kembali memerankan kata “di mana” sesuai dengan fitrahnya. Sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Sementara jika untuk penggunaan dalam konteks bukan tempat, sudah semestinya diganti saja dengan kata lain yang tepat. Sesuai dengan contoh di atas. Terima kasih “di mana”.(ahf)


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY