CARA PANDANG

Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kadang atau seringkali, kita memiliki pandangan yang berbeda antara kita dengan lawan bicara. Hal ini biasanya terjadi ketika dalam suatu pertemuan diskusi atau seminar atau workshop atau sejenisnya. Ketika sedang mendiskusikan suatu topik tertentu kemudian paparan dari narasumber berbeda dengan apa yang dipahami oleh salah satu peserta.

Fenomena seperti ini sebenarnya biasa terjadi di komunitas pertemuan terutama di komunitas keilmuan. Karena apa? Karena memang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan kita memiliki referensi dari berbagai sumber. Dari berbagai sumber tersebut -tentu proses lahirnya juga dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi yang belum tentu sama. Hal ini bisa terjadi pada ilmu social, humaniora, tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada ilmu pengetahuan alam atau eksakta.

Kalau kita pernah belajar matematika khususnya pada materi himpunan kita dikenalkan dengan istilah himpunan semesta. Himpunan semesta di sini dimaksudkan sebagai membatasi konteks pembicaraan sehingga antara individu yang berbicara dengan lawan bicara memiliki satu pemahaman konteks yang utuh yang sama sehingga apa yang didefinisikan menurut individu satu dengan individu yang lain bisa diterima oleh kedua belah pihak karena memang sudah disepakati dalam konteks yang sama.

Seperti halnya misalnya diketahui himpunan bilangan bulat. Menurut Si A, himpunan bilangan bulat ialah mulai dari 1, 2, 3, dan seterusnya; termasuk juga nol; kemudian -1, -2, -3 ,dan seterusnya. Sementara menurut Si B, himpunan bilangan bulat itu adalah  bilangan positif, bilangan negatif, dan bilangan nol. Kedua individu tersebut menjawab dengan menggunakan redaksi yang berbeda tetapi sejatinya memiliki makna yang sama, karena apa yang disampaikan oleh Si A dan Si B tersebut merupakan elemen dari himpunan bilangan bulat.

Apa yang menjadi penting?

Ketika kita melakukan diskusi dalam satu topik tertentu yang penting menjadi perhatian adalah semesta pembicaraan harus ditegaskan di awal. Konteks pembicaraan harus diketahui oleh peserta diskusi. Jika demikian maka semua peserta akan memiliki cara pandang yang sama dilihat dari konteks pembicaraan yang sedang didiskusikan tersebut.

Bagaimana dengan cara pandang dalam praktik ilmu sosial? Kita semua tahu bahwa ilmu sosial yang perkembangannya sangat dinamis dan cepat. Oleh karena itu apapun yang disampaikan oleh individu sudah semestinya selalu didukung oleh rujukan atau referensi yang kuat.

Seperti misalnya ketika mau mendiskusikan tentang perihal siswa yang cerdas. Apakah siswa ini, siswa itu termasuk kelompok siswa terdaftar dalam kelompok cerdas atau tidak? Menjawab pertanyaan ini akan berpeluang muncul berbagai pandangan yang sangat beragam; misalkan dalam suatu kelas ada 10 siswa. Bisa jadi menurut pendapat Si A, Si B, Si C, mana siswa yang cerdas, tentu sangat sangat bervariasi.

Agar kita memiliki cara pandang yang sama, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah tentukan dulu semesta pembicaraannya terkait dengan kecerdasan. Maksudnya: pastikan dulu semua yang akan memberikan pendapat harus faham apa yang dimaksud kecerdasan itu dan bagaimana indikatornya dalam menentukan individu ini termasuk cerdas atau tidak.

Jika sudah demikian, sudah disampaikan di awal tentang definisi dan indikator kecerdasan, maka saya yakin jawaban yang diperoleh dari berbagai individu terkait dengan siapa saja peserta didik yang termasuk kelompok cerdas akan memiliki jawaban yang sama atau cenderung sama.

Kok bisa? Iya karena masing-masing individu sudah merujuk pada semesta pembicaraan yang sudah disampaikan tadi. Inilah menjadi salah satu bukti bahwa dalam memandang sesuatu kita harus mengoptimalkan modal yang pengetahuan yang kita miliki. Kecukupan modal yang kita miliki akan mempengaruhi kualitas cara pandang kita terhadap sesuatu.

Di akhir tulisan ini saya mencoba menggarisbawahi bahwa kita sebagai makhluk berpikir kita tidak bisa memaksa individu lain untuk mengikuti cara pandang seperti cara pandang yang kita lakukan. Yang kita lakukan adalah kita memandang sesuatu secara objektif berdasarkan pada modal yang kita miliki. Sementara jika individu yang lain ternyata hasil cara pandangnya berbeda dengan kita maka kita tidak perlu panik, tidak perlu berburuk sangka. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mencoba menelusuri lebih dalam mencari lebih jauh kok bisa ya hasil serapan nanya seperti itu? Apa parameter yang digunakan,? Teori mana yang dia rujuk? Dan seterusnya

Apa hikmahnya? Diantaranya adalah kita akan memiliki kekayaan pengetahuan, kekayaan cara pandang yang luar biasa sehingga hal ini dapat diinternalisasikan ke dalam karakter positif kita sebagai individu yaitu karakter mau menghargai pendapat orang lain, mau menghormati perbedaan pendapat. Alhasil kita bisa melakukan kolaborasi dalam memperkaya pengetahuan kita. Mari terus percaya sudut pandang kita mari bangun tetapi sudut pandang kita sehingga kita dapat melihat sesuatu secara utuh secara komprehensif.[ahf]


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY