Bukan Penjara

BUKAN PENJARA

Abdul Halim Fathani

BEGITU, kita mendengar istilah “penjara”, biasanya kita selalu mengidentikkan dengan suatu kondisi yang mengekang, sempit, kaku, tidak bebas, dan sejenisnya. Penghuni penjara itu selalu diidentikkan dengan orang-orang yang bermasalah. Masalah dengan hukum. Mulai dari masalah penganiayaan, kekerasan, korupsi, kolusi, nepotisme, pencurian, dan lainnya.

Alhasil, kita semua tentu, tidak ingin berada di tempat yang seperti penjara tersebut. Apalagi tempat yang benar-benar penjara. Siapa saja, tentu ingin memiliki tempat, yang bukan (seperti) penjara. Mengapa? Ya, agar kita memiliki ruang bebas untuk mengekspresikan keterampilan, mengembangkan kreativitas, dan yang terpenting kita bisa menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

Mari kita refleksi, terhadap dua tempat yang berada di sekitar kita. Ialah Rumah dan Sekolah. Rumah, yang kita jadikan tempat tinggal sehari-hari, apakah sudah kita fungsikan yang semestinya? Rumah yang bukan seperti penjara. Rumah kita, semestinya harus menjadi tempat pendidikan bagi keluarga kecil kita. Rumah harus dapat menjadi ruang untuk beraktivitas keluarga untuk kebahagiaan, ruang untuk mengembangkan kreativitas anak-anak kita, ruang untuk membangun kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah mawarahmah. Inilah baiti jannati.

Yang kedua, sekolah. Sekolah harus memiliki fungsi sebagai tempat untuk menumbuhkembangkan minat-bakat setiap peserta didik, mengembangkan kecerdasan yang dimiliki siswa, mengembangkan kreativitas siswa. Sekolah harus bisa mengantarkan peserta didiknya untuk menemukan jalan hidup masa depannya yang lebih baik. Sekolah harus menjadi tempat yang nyaman bagi siswa.

Jadi, rumah dan sekolah harus menjadi surga bagi kita semua. Surga untuk pengembangan diri. Rumah dan sekolah itu bukan penjara. [ahf]


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY