BETUL, BENAR, DAN IJAZAH

Abdul Halim Fathani

Penulis teringat ketika masih belajar di MAN Lamongan, tepatnya ketika belajar Matematika yang diajar oleh yang terhormat Bapak Syamsuri, M.Pd. Di sela-sela pelajaran pada pokok bahasan Logika Matematika, beliau melontarkan pertanyaan “Apa perbedaan antara BENAR dan BETUL? Kontan, teman-teman dan termasuk saya sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan Pak Syamsuri tersebut.

Selanjutnya Pak Syamsuri menjelaskan dengan mengawali ilustrasi berikut ini:

“Ada satu buah gelas dan cangkir beserta tutupnya masing-masing. Kasus I: masing-masing tutup diletakkan sebagaimana fungsinya, tutup gelas diletakkan pada gelas, begitu juga tutup cangkir dipasangkan pada cangkir.
Sedangkan untuk Kasus II: tutup gelas diletakkan pada cangkir, sedangkan tutup dari cangkir diletakkan pada gelas.”

Dari kedua kasus tersebut, kasus I merupakan penjelasan dari apa yang dimaksud dengan BENAR, sedangkan kasus II merupakan penjelasan dari apa yang dimaksud dengan BETUL. Kasus I, dinamakan BENAR karena memang tutup masing-masing gelas dan cangkir diletakkan sesuai dengan fungsi yang sesungguhnya. Tetapi, pada kasus II, masing-masing tututp tidak diletakkan sebagaimana mestinya. Meskipun masing-masing tutup tersebut dapat digunakan, tetapi sebenarnya hal itu “dipaksakan” sehingga kelihatan dapat menutupi tetapi sebenarnya kurang pas.

Apa hubungannya dengan Ijazah? Bercermin pada kedua kasus pada ilustrasi di atas, maka hemat penulis terkait dengan dijadikannya ijazah sebagai agunan kredit merupakan mempergunakan sesuatu yang tidak sesuai dengan fungsi aslinya. Sehingga hal ini tidak benar, tetapi hanyalah sesuatu yang betul (baca: kebetulan). Mungkin untuk era saat ini masih dimungkinkan, tetapi untuk beberapa puluh tahun ke depan mungkin sudah tidak dapat lagi menjadikan ijazah sebagai barang jaminan.

Oleh karenanya, hemat penulis marilah kita mempergunakan sesuatu itu sesuai dengan fungsinya, yang dalam bahasa agamanya, hal yang demikian itu disebut dengan bersikap adil. Begitu juga ijazah, sudah selayaknya “hanya” digunakan sebagai pengakuan atas keahlian seseorang, bukan lainnya.

Jikalau ijazah tetap berfungsi sebagai “alat” pengakuan keahlian seseorang maka hal ini akan dapat meningkatkan citra pendidikan, sebaliknya jika ijazah berfungsi lain, maka ini merupakan tanda kemunduran bahkan kegagalan pendidikan kita(*)


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

LEAVE A REPLY