BAHAGIANYA MENULIS TANPA TEKANAN

Abdul Halim Fathani

TENTANG menulis, di antara kita masih belum satu suara. Ada yang berpendapat bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan. Ada juga yang mengatakan bahwa menulis itu susah, bahkan kadang bikin stres. Tetapi, masih ada sebagian lagi, kelompok yang tidak peduli dengan menulis. Ketiga kelompok itu berada di sekeliling kita.

Kelompok pertama dirasakan oleh orang-orang yang telah terbukti memiliki banyak karya tulisan yang dipublikasikan. Kelompok ini dialami oleh para kolumnis, penulis buku, penulis artikel, dan siapa pun yang memang memiliki kebiasaan menulis dalam hidupnya.

Sebaliknya ada pihak yang “mengaku” menulis justru mendatangkan kesusahan, bikin stres. Karena, dengan menulis mereka seolah-olah berada dalam tekanan. Kelompok ini biasanya diisi oleh orang-orang yang –memang- sedang “belajar”. Seperti para mahasiswa yang menyusun tugas makalah atau tugas akhir. Mereka merasa tugas “menulis” tersebut seakan menjadi beban dalam hidupnya.

Kelompok kedua tersebut, masih memiliki batas normal, karena memang mereka berada dalam zona “belajar”. Sehingga, maklum ketika mereka masih merasa “ada” kesulitan dalam menulis. Yang parah adalah kelompok ketiga, yakni pihak yang acuh tak acuh. Kelompok ini adalah kelompok yang tidak peduli dengan menulis.

Merespon kondisi di atas, Hernowo Hasim telah melahirkan buku yang tepat. Buku yang berjudul “Free Writing” ini menjadi obat mujarab bagi kelompok kedua dan ketiga, juga menjadi tambahan gizi (suplemen) bagi kelompok pertama. Hernowo –melalui bukunya- menegaskan bahwa menulis itu mendatangkan kebahagiaan. Melalui buku ini, Hernowo menekankan bahwa menulis itu bisa menjadi salah satu cara untuk “mengejar” kebahagiaan. Dan, akhirnya menulis untuk merasakan kebahagiaan.

Buku ini bukanlah buku yang penuh teori. Tetapi, buku ini mengajak kepada pembaca untuk dapat langsung merasakan (mempraktikkan) free writing. Hernowo menampilkan berbagai manfaat luar biasa free writing yang telah dialaminya. Hernowo menampilkan sebagai sosok yang telah membuktikan kebermanfaatan dari praktik free writing. Harapannya pembaca tidak lagi ragu untuk mengikuti jejaknya.

Hernowo melengkapinya dengan contoh dan catatan free writing yang telah dilakukannya. Di dalam contoh dan catatan tersebut, pembaca akan merasakan bahwa free writing terbukti dapat dilakukan siapa saja (kelompok kedua, ketiga, atau pertama). Melalui kegiatan free writing pembaca akan dibantu untuk memiliki paradigma baru dalam menulis, menulis yang tidak menyiksa, menulis yang mendatangkan kebahagiaan. Hernowo meyakinkan bahwa free writing akan mengondisikan seseorang untuk benar-benar siap menulis.

Paradigma free writing yang dipraktikkan Hernowo ini, berpijak pada konsep free writing yang dikembangkan oleh Dr. James W. Pennebaker, Peter Elbow, dan Natalie Goldberg. Dalam ulasannya, Hernowo memberikan strategi menulis, yang pada awalnya menulis itu membebani menjadi menulis yang tanpa tekanan dan tanpa hambatan.

Paradigma menulis dalam buku ini menjadi “kacamata” baru bagi siapapun. Pemaparannya yang “enak” dan “renyah”, menjadikan buku ini nyaman dibaca siapapun. Buku ini dapat melejitkan kemampuan menulis siapa saja, termasuk bagi orang tidak “peduli” menulis. Ayo menulis!

IDENTITAS BUKU:
Judul Buku : FREE WRITING: MENULIS UNTUK MENGEJAR KEBAHAGIAAN
Penulis : Hernowo Hasim
Penerbit : B first (PT Bentang Pustaka), Jakarta
Cetakan : November 2017
Tebal : xi + 216 hlm
ISBN : 978-602-426-088-0
Peresensi : Abdul Halim Fathani

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/167153/1/20180203/202345/bahagianya-menulis-tanpa-tekanan/


Abdul Halim Fathani

Pemerhati Pendidikan. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Kita (SPK) dan Forum Literasi Matematika (forLIMA)

1 COMMENT

Abdul Halim Fathani

  • Februari 18, 2018 AT 6:09 pm
  • Reply

[…] A.H. 2018. Bahagianya Menulis Tanpa Tekanan. https://masthoni.wordpress.com/2018/02/03/bahagianya-menulis-tanpa-tekanan/#more-1150 (03 Februari […]

LEAVE A REPLY