KECERDASAN RAMADHAN

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com – ALHAMDULILLAH kita semua mendapatkan rahmat dari Allah swt, salah satunya adalah mendapatkan kesempatan untuk dapat beribadah di bulan Ramadhan tahun ini. Dari dua belas bulan dalam satu tahun, Allah swt menyediakan satu bulan yang istimewa, yakni bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan juga disebut sebagai sayyidu al-syuhur, ada juga yang menyebutnya dengan bulan suci. Kita semua, tentu berbahagia, karena masih memiliki kesempatan untuk ‘bertemu’ dengan bulan Ramadhan. Sekali lagi, Alhamdulillah.

Ibadah Ramadhan merupakan ibadah yang mempunyai keistimewaan yang super lengkap. Di antaranya: ibadah di bulan Ramadhan dapat menyehatkan secara rohani dan jasmani sekaligus. Tidak hanya itu, ibadah di bulan Ramadhan juga dapat mengasah sekaligus meningkatkan multi kecerdasan, baik spiritual, emosional, dan intelektual. Bahkan, bisa dimungkinkan pelbagai kecerdasan lainnya, sebagaimana yang termaktub dalam –meminjam istilah Howard Gardner– multiple intelligences.

Gardner mengenalkan Sembilan kecerdasan yang mesti dimiliki setiap individu manusia, yakni linguistik, matematik, spasial, musikal, intrapersonal, interpersonal, kinestetik, naturalis, dan eksistensial. Oleh Gardner, kecerdasan ini diberi label dengan istilah “multiple intelligences” (kecerdasan majemuk).

Gardner menggunakan istilah “multiple intelligences”, sehingga memungkinkan ranah kecerdasan tersebut akan terus berkembang. Dengan demikian, sangat dimungkinkan jumlah kecerdasan akan terus bertambah seiring dengan ditemukannya kecerdasan-kecerdasan “baru”.

Mental “Tiba-tiba”
Begitu datang –lebih tepatnya menjelang bulan Ramadhan tiba–, secara tidak langsung biasanya secara otomatis dapat mengubah kebiasaan manusia, terutama umat Muslim. Seperti halnya, kebanyakan kita semua sepakat untuk ‘tiba-tiba’ melakukan bersih-bersih masjid atau mushalla, bersih-bersih kantor, rumah, dan lingkungan sekitarnya.

Kita semua juga seakan sepakat ‘tiba-tiba’ menjadi aktivis masjid atau musholla. “Tiba-tiba” rajin membaca al-Qur’an (tadarrus al-Qur’an) dan berbagai amalan-amalan sunnah lainnya. “Tiba-tiba” melakukan bangun malam, untuk qiyamul lail. “Tiba-tiba” melakukan manajemen waktu yang super ketat, seperti ‘menunggu’ datangnya adzan maghrib (untuk memastikan waktunya berbuka), atau waktu imsak atau adzan shubuh (untuk memastikan awalnya puasa Ramadhan pada hari ke-n).

Masih ada ‘tiba-tiba’ yang lain. Tiba-tiba bisa membuat masakan dengan penuh variatif, tiba-tiba bisa berjualan aneka menu makanan dan minuman untuk keperluan ta’jil dan berbuka puasa (praktik wirausaha), tiba-tiba suka makan kurma, tiba-tiba bisa makan dengan penuh keteraturan, tiba-tiba semangat belajar ilmu agama (dan ilmu lainnya), tiba-tiba mampu menjaga obrolan sesama teman, tiba-tiba datang ziarah kubur ke makam nenek moyang, para ulama.

Tiba-tiba suka mendengarkan pengajian ala pesantren, misal via youtube, seperti pengajian kitab kuning yang disiarkan langsung dari Pesantren Tebuireng-Jombang, Pesantren Gasek-Malang, Pesantren Genggong-Probolinggo, dan pelbagai pesantren lainnya.

Tiba-tiba suka membuat status facebook yang positif, seperti status tentang hikmah ramadhan, fadhilah shalat tarawih, dan sejenisnya. Ada juga, tiba-tiba, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari mengalami peningkatan, hehe. Dan, tentunya, masih banyak ‘tiba-tiba’ yang lain lagi.

Perubahan tingkah laku ‘tiba-tiba’ di atas perlu diapresiasi. Kalau kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan berarti proses untuk mengubah tingkah laku dan sikap sesorang maupun kelompok dengan upaya pelatihan dan pengajaran.

Sementara, dari segi etimologi, istilah pendidikan berasal dari bahasa latin educatum, yang tersusun dari dua kata, E dan DUCO. E berarti sebuah perkembangan dari dalam ke luar atau dari sedikit ke banyak. Atau –meminjam bahasa matematika– dari nol ke bilangan positif (lebih besar dari nol), bisa juga dari bilangan negatif ke bilangan positif.

Sedangkan DUCO berarti perkembangan atau sedang berkembang. Dengan demikian, secara etimologi pendidikan memiliki pengertian proses mengembangkan kemampuan diri sendiri dan kekuatan individu. Walhasil, kata kuncinya adalah ‘perubahan’. Tentu perubahannya ke arah positif.

Walhasil, pendidikan adalah proses yang dilakukan manusia untuk mengembangkan dirinya sebaik mungkin untuk berubah dari kondisi nol atau kondisi negative menuju pada kondisi yang positif). Pendidikan ini sebagai salah satu ikhtiar untuk mengembangkan kecerdasan (multi-kecerdasan) yang dimiliki setiap individu.

Paradigma kecerdasan Gardner, semakin memperkuat dan menegaskan kembali bahwa setiap individu adalah cerdas. Cerdas sesuai dengan bidang kemampuannya masing-masing. Sesungguhnya, tidak ada kecerdasan itu yang lebih baik atau lebih jelek. Kita tidak dalam rangka membuat perbandingan kecerdasan antara satu individu dengan individu lainnya. Namun, kita justru mengajak agar masing-masing diri kita dapat menemukan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki masing-masing.

Momentum Ramadhan
Dengan datangnya bulan Ramadhan, tentu kita semua harus bahagia. Kenapa bahagia? Karena dengan datangnya bulan Ramadhan, ibarat kita seperti halnya masuk ke arena pendidikan, seolah-olah kita mendapatkan ‘keajaiban’, ada energi besar untuk ‘tiba-tiba’ berubah memiliki kekuatan menjadi, membiasakan, mengamalkan, segala aktivitas kebaikan. Luar biasa. Bulan Ramadhan memiliki banyak keberkahan, keutamaan dan berbagai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya.

Melihat banyaknya aktivitas atau amalan yang dilakukan ‘tiba’tiba’ pada saat datangnya bulan Ramadhan –sebagaimana yang diurai di atas–, menurut hemat penulis, bukanlah hal yang negatif. Tidak masalah, kalau kemudian, ada individu yang tidak pernah ke masjid, kemudian tiba-tiba menjadi aktivis yang rajin ke masjid. Tidak ada masalah, jika ada individu yang, sebelumnya tidak pernah qiyamullail, lalu tiba-tiba berubah rajin qiyamulllail. Tiba-tiba berubah menuju arah positif -lebih baik-, inilah bentuk adanya praktik pendidikan (baca: peningkatan dan pengembangan kecerdasan) individu. Inilah salah satu berkahnya bulan Ramadhan.

Walhasil, dengan datangnya bulan Ramadhan tentu bisa menjadi sarana untuk mengembangkan multi-kecerdasan bagi setiap individu. Bahkan, tidak hanya individu muslim, individu non muslim pun bisa merasakan berkahnya bulan Ramadhan, seperti halnya non muslim yang memiliki toko atau swalayan bisa jadi omzetnya akan naik tajam. Pelbagai kecerdasan sangat dimungkinkan dapat berkembang melalu berbagai kegiatan atau amalan selama bulan Ramadhan. Inilah proses pendidikan.

Terakhir, marilah berdoa, semoga kita semuanya mendapatkan bimbingan dan kekuatan untuk selalu meningkatkan ‘kecerdasan’ kita menuju arah yang positif. Baik kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual, maupun kecerdasan jamak versi Gardner. Tentu, tidak hanya pada saat bulan Ramadhan. Tetapi secara berkelanjutan. Semoga. [ahf]