LEVEL BERPUASA

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com. -Ibadah puasa tentu berbeda dengan ibadah lainnya. Puasa ranadhan sangat bersifat rahasia. Antar individu satu dengan individu lain, tidak ada yang mengetahui secara pasti (hakiki), apakah sedang berpuasa atau tidak? Hanya Allah swt yang mengetahuinya.

Bagaimana kita dapat mengenali, apakah orang itu sedang puasa atau tidak? Hemat saya, yang perlu kita lakukan ini, ya melihat diri sendiri saja. Apakah kita masing-masing ini memenuhi untuk dikatakan sebagai orang yang berpuasa atau tidak. Jika berpuasa, kita ini masuk kelompok orang berpuasa yang mana? Jadi, melihat diri sendiri saja. Tidak perlu melihat puasanya orang lain. Karena, memang puasa ini bersifat rahasia.

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tingkatan dalam berpuasa. Shaumul umum, shaumul ‎khusus, dan shaumul khususil khusus. Ketiganya bagaikan tingkatan tangga yang manarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.

إعلم أن الصوم ثلاث درجات صوم العموم وصوم الخصوص وصوم خصوص الخصوص: وأما صوم العموم فهو كف البطن والفرج عن قضاء الشهوة كما سبق تفصيله، وأما صوم الخصوص فهو كف السمع والبصر واللسان واليد والرجل وسائر الجوارح عن الآثام، وأما صوم خصوص الخصوص فصوم القلب عن الهضم الدنية والأفكار الدنيوية وكفه عما سوى الله عز وجل بالكلية ويحصل الفطر في هذا الصوم بالفكر فيما سوى الله عز وجل واليوم الآخر

“Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”

Ada tiga tingkatan orang berpuasa:

Pertama, Puasa umum
Tingkatan puasa ini adalah puasa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum. Dalam praktiknya, puasa yang dilakukan pada tingkatan ini adalah sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat. Puasa jenis ini, jika dikonversi, level nilainya adalah good.

Kedua, Puasa khusus
Tingkatan puasa level kedua ini adalah puasanya orang-orang spesial. Mereka berpuasa lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan. Di samping itu, dalam berpuasa, kelompok ini juga puasa untuk menahan godaan yang sifatnya non fisik. Seperti puasa dari perkataan, penglihatan, pendengaran, perbuatan, dan aktivitas apap pun atas panca indera manusia dari hal-hal yang negatif. Puasa jenis ini, jika dikonversi, level nilainya adalah very good.

Ketiga, Puasa paling khusus
Puasa pada tingkat ketika ini adalah puasa yang memiliki peringkat tertinggi. Puasanya orang-orang istimewa. Praktiknya, orang-orang yang dapat dikategorikan puasa paling khusus ini adalah mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikirannya dari masalah duniawi, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah.

Puasa kategori level ketiga ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin, sementara di level kedua adalah puasanya orang-orang shalih. Puasa jenis ini, jika dikonversi, level nilainya adalah excellent.

Naik Kelas
Imam Al-Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa ke dalam tiga level tersebut, tujuannya adalah agar masing-masing kita yang pada setiap tahun berpuasa Ramadhan ini bisa terus belajar, agar memiliki tekad dan komitmen untuk dapat meningkatkan level. Dari level pertama, lalu level kedua, dan ketiga.

Jadi, puasa yang kita lakukan harus dapat berdampak positif pada peningkatan kualitas diri manusia. Pendek kata, kita harus dapat “naik kelas”.

Mari kita melakukan refleksi diri.
Masing-masing kita ini, termasuk anggota kelompok puasa, pada tingkatan yang level berapa? Pertama, Kedua, atau yang Tertinggi? [ahf]