MUTIARA RAMADHAN


Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com. – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering (baca: senang) menjumpai hal-hal yang indah dan nikmat, yang rasanya sayang kalau dilewatkan begitu saja, akan merugi selamanya. Misalnya, ada perusahaan/pabrik sebuah produk yang memasang beragam iklan/promosi menarik dengan harapan konsumen bisa terpikat; seperti menawarkan beragam diskon dan bonus bagi setiap orang yang membeli produk tertentu di bulan tertentu. Itulah sebabnya, biasanya banyak orang yang mau memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Bulan Ramadhan, bisa juga dibilang bulan yang dipenuhi diskon dan bonus. Pada bulan Ramadhan, Allah Ta’ala memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memanfaatkan nikmat dan indahnya Ramadhan. Maka, sayang sekali kalau berlalu begitu saja tanpa ada aktivitas amal shaleh yang kita lakukan. Sebab, selama Ramadhan Allah Ta’ala memberikan “bonus” yang besar dalam setiap ibadah yang kita lakukan.

Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah Saw bersabda, “Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka, serta setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh aneh jika ada kaum muslimin yang malas-malasan ketika Ramadhan menyapa. Sejatinya, dengan puasa (misalnya) bukan berarti kita bertambah kurus dan menderita. Justru kita menjadi sehat dan mendapatkan pahala berlipatganda. Alhasil, Ramadhan tidak selayaknya dibiarkan begitu saja tanpa diisi dengan aktivitas amal shaleh.

Ramadhan, sebuah kata yang mengingatkan kita pada suatu bulan yang penuh dengan segala rahasia kebaikan dan keutamaan. Bulan yang mampu mengubah orang-orang menjadi lebih tertata, peduli terhadap lingkungan, dan bahkan peduli terhadap akidahnya sendiri.

Sungguh ajaib, di bulan ini, setiap orang berpacu menjadi shaleh, berlomba-lomba beramal, memelajari Islam lebih kaffah, bersedekah, dan sebagainya. Bahkan yang pada mulanya tidak pernah shalat, akan menjadi sangat rajin pergi ke masjid untuk shalat Tarawih.

Tak ada kata-kata indah yang sanggup mengungkapkan kenikmatan dan rahasia Ramadhan; rahasia Allah Ta’ala yang diturunkan di bulan yang suci ini. Rahasia yang mampu mengubah segala lini kehidupan umat, seperti halte yang mengistirahatkan segala bentuk keburukan dan menjemput segala bentuk kebaikan di setiap jalan.

Di bulan yang suci ini, umat Islam melakukan kegiatan ibadah yang amat agung sebagai latihan diri dari mencegah segala perbuatan kemunkaran dan kemaksiatan. Karena itu, di bulan Ramadhan inilah, umat Islam harus menahan diri secara lahiriah dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan seksual di siang hari, sekaligus menahan diri dari segala kemaksiatan dan kemunkaran.

Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Maka, bagi umat Islam, Ramadhan ialah pusat latihan untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak (moral) dan berbagi dengan fakir miskin (sedekah dan zakat).
Sayangnya, kita seringkali “mengisi” Ramadhan dengan simbol-simbol keagamaan yang tidak substansial. Lihatlah kesibukan umat Islam saat menyambut Ramadhan yang ditunjukkan dengan berbagai kegiatan; mulai dari keperluan buka puasa dan sahur dengan berbelanja kebutuhan pokok di supermarket, baju koko dan peci, hingga menyiapkan diri membeli simbol-simbol religius lainnya.

Bagi mereka, tak lengkap rasanya jika di bulan Ramadhan ini melewatkan aktivitas simbolik tersebut. Maka, yang terjadi adalah konsumtivisme yang dijustifikasi dengan label agama. Padahal, Ramadhan tidak mengajak kita untuk berbelanja aneka kebutuhan yang simbolik, tetapi berbelanja berbagai kebutuhan substansial; kualitas ibadah, perbaikan moral, dan kepedulian terhadap kemiskinan.

Inilah yang membuat setiap kali Ramadhan datang, umat Islam kesulitan menangkap nilai-nilai substansial yang diajarkan. Padahal seharusnya, peneguhan identitas sebagai Muslimlah yang lebih ditonjolkan, sehingga bulan suci Ramadhan lebih diwarnai simbol-simbol keislaman.

Sudah saatnya untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak perubahan. Sudah saatnya menjadikan Ramadhan tidak hanya sekadar budaya semata, tetapi menjadikannya sebagai bahan bakar yang akan mempertahankan mesin kehidupan untuk menghadapi perjalanan panjang usai Ramadhan.

Momentum Ramadhan adalah awal bagi seorang revolusioner, awal bagi setiap insan untuk membentuk tidak hanya keshalihan pribadi, tetapi juga sanggup menjadi agen pengubah bagi keshalehan orang lain. Sudah saatnya kita berbuat tanpa banyak bicara. Bergeraklah menuju keutamaan ramadhan! Agar setiap diri dapat merasakan kenikmatan dan hakikat Ramadhan. Agar setiap diri menjadi tangguh dalam menghadapi segala ujian kehidupan, dan mampu menjadi pribadi yang berkarakter islami.

Marilah melakukan refleksi diri, sudah seperti apa kita menghargai bulan Ramadhan? Diuraikan Madchan Anies (2009:vi) dalam “Meraih Berkah Ramadhan”, beliau memberikan perumpamaan yang sangat indah: “Bila di sebuah lapangan luas disebarkan emas dan mutu manikam, kemudian diumumkan kepada masyarakat ramai bahwa lapangan tersebut penuh dengan emas dan mutu manikam, dan semua yang berminat boleh mengambil sepuas-puasnya (tetapi) hanya dalam tempo lima menit, apa yang akan terjadi? Semua orang yang mengerti nilai emas dan mutu manikam pasti berlomba memungutinya.

Dan tentu saja, sangat besar pengharapan mereka agar waktunya diperpanjang sampai sore hari. Akan tetapi, orang-orang yang tidak mengerti nilai emas dan mutu manikam hanya akan menonton orang yang berduyun-duyun dan berebut emas dan manikam itu.”

Begitulah tamsil kemuliaan bulan Ramadhan dan sikap umat Islam dalam menghadapinya. Semoga ini bisa menyadarkan kita semua (termasuk penulis), bahwa sudah seharusnya kita berlomba-lomba untuk mengisi bulan Ramadhan dengan segala amal shaleh yang hakiki.

Kita bisa “aktif” mengisi Ramadhan dengan berbagai amal shalih dan tidak hanya berhenti di sini. Kita juga harus bisa melanjutkan tradisi baik yang sudah dibangun selama Ramadhan untuk menjadi spirit amal shaleh pada bulan-bulan berikutnya hingga mendekati bulan Ramadhan yang akan datang. Selanjutnya, berlaku siklus seperti itu. Sehingga, seolah-olah, baik bulan Ramadhan maupun bukan; akan terus terasa seperti bulan Ramadhan. Inilah yang dinamakan sebagai amal shaleh yang produktif.

Sekali lagi, kita harus “aktif” beramal shaleh selama bulan Ramadhan. Kita juga harus terus “produktif” dalam meningkatkan amal shaleh pada bulan-bulan setelah Ramadhan hingga bertemu Ramadhan tahun berikutnya. Jika kita bisa aktif dan produktif seperti ini, sesungguhnya kita sudah berhasil meraih “Mutiara Ramadhan”. Dengan kata lain, kehadiran Ramadhan sangat diharapkan banyak orang. Ramadhan selalu dinanti-nanti dan bisa hadir bukan hanya satu bulan saja, tetapi selamanya.

Itulah hakikat Ramadhan, ketika sudah berwujud seperti mutiara. Semoga kita berhasil meraih mutiara Ramadhan. Amin. Selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Semoga menjadi berkah! [ahf]