ORANG BERIMAN

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com – Puasa Ramadhan merupakan rukun Islam ke-3 yang wajib dilakukan bagi setiap seorang Muslim. Dua rukun Islam yang pertama adalah membaca syahadat dan menunaikan shalat. Sedangkan yang ketiga adalah menunaikan zakat, baik fitrah maupun mal. Yang kelima, adalah menunaikan ibadah haji (bagi muslim yang mampu).

Kembali ke ibadah puasa Ramadhan. Kita tahu bahwa puasa Ramadhan menjadi salah satu rukun Islam. Artinya wajib dilakukan bagi setiap muslim. Pertanyaannya Muslim yang seperti apa? Pada hakikatnya yang dapat panggilan atau undangan untuk menunaikan kewajiban ibadah puasa Ramadhan adalah orang-orang yang beriman.

Hal ini sebagaimana firman Allah swt dalam Surat Al-Baqarah ayat 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 183 tersebut, maka yang wajib melaksanakan puasa di bulan Ramadhan hanyalah orang-orang (umat Muslim) yang beriman.

Mengapa yang dipanggil Allah swt itu orang-orang yang beriman, kok bukan orang-orang Muslim pada umumnya? Perintah puasa kepada orang-orang beriman ini tentu mengingkatkan kepada kita agar melakukan ibadah puasa ini lillahi taala, bukan linnaas. Di samping itu, juga sebagai bukti kedekatan dan sentuhan Allah swt terhadap hamba-Nya yang beriman dengan mewajibkan mereka berpuasa, agar meningkatkan derajatnya menuju pribadi yang bertakwa.

Puasa Ramadhan, pada hakikatnya harus dapat menjadi wasilah untuk meningkatkan kualitas iman seseorang kepada Allah SWT.

Lalu pertanyaannya, sekarang siapa saja sih sebenarnya orang-orang yang termasuk anggota kelompok (himpunan) orang-orang beriman itu?

Di antaranya ciri-ciri orang beriman, dapat kita telusuri dalam surat Al-Anfal ayat 2-4.

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” QS. Al-Anfal: 2

ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” QS. Al-Anfal: 3

أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّا لَّهُمۡ دَرَجَٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةٌ وَرِزۡقٌ كَرِيمٌ

“Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” QS. Al-Anfal: 4

Tentu, masih banyak penjelasan orang-orang beriman dalam ayat al-Qur’an lainnya.

Sementara, Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin-nya menyebutkan bahwa inti dari sifat orang yang beriman adalah akhlak terpuji. Hal ini ditandai dengan banyaknya hadits yang menghubungkan keimanan dan akhlak terpuji.

وقد وصف رسول الله صلى الله عليه و سلم المؤمن بصفات كثيرة وأشار بجميعها إلى محاسن الأخلاق

“Rasulullah menyifatkan orang yang beriman dengan banyak sifat. Rasulullah memberi isyarat sifat orang beriman secara keseluruhan pada akhlak yang terpuji atau akhlak mulia atau husnul khuluq atau mahasinul akhlak,”

Sekali lagi, kita semua tentu harus selalu bersyukur. Bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah menaqdirkan kita sebagai seorang muslim yang mumin. Semoga saja, kita benar-benar dapat memiliki identitas sebagai sosok orang beriman sehingga layak masuk anggota himpunan orang-orang yang beriman.

Semoga kualitas keimanan, dari waktu ke waktu, selalu bertambah baik. [ahf]