KIAI, MILIARDER, PROFESOR

KIAI, MILIARDER, PROFESOR

Fathani.com. – KITA perlu belajar dari siapa pun. Termasuk, salah satunya kita bisa mengambil inspirasi dari Sosok Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. Tidak sedikit buku, artikel, atau sumber lain yang mengungkap sisi-sisi dari sosok, yang biasa dipanggil Kyai Asep tersebut. Bagaimana perjalanan hidup, perjuangan, pengalaman membangun pendidikan, dan lainnya, penting sekali untuk kita ketahui dan dalami. Untuk apa? Agar kita semua bisa menjadikan sebagai inspirasi dalam kehidupan kita.

Salah satu buku, yang mengupas tentang sosok beliau adalah buku yang ditulis Muhammad Ismail Adnan. Dalam prolognya, dijelaskan bahwa buku ini menyajikan perjalanan hidup seorang kiai sarungan, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. Di balik kesederhanaan sosok beliau, Kiai Asep merupakan sosok yang memiliki kepedulian sangat besar terhadap “pendidikan, kemiskinan, dan kemanusiaan”.

Dalam buku yang terdiri atas 222 halaman ini, penulis, Muhammad Ismail Adnan, mengupas sisi-sisik kehidupan Kiai Asep sejak kecil hingga menjadi ulama. Mulai saat menuntut ilmu di pondok pesantren, menjadi santri, hingga terpaksa putus sekolah saat abahnya meninggal dunia. Banyak inspirasi yang bisa diteladani dari kehidupan Kiai Asep. Kegigihan, keuletan, dan kesabaran Kiai Asep dalam berjuang, patut dicontoh oleh generasi muda Indonesia.

Untuk memudahkan pembaca dalam mendalami sosok Kiai, yang sering dijuluki Kiai Miliarder, Kiai Manajer, Kiai Profesor, dan julukan-julukan lainnya, penulis, Muhammad Ismail Adnan, menyajikan ke dalam sebelas bagian. Bagian awal hingga bagian kesebelas tersebut, menyajikan secara apik dan runtut perjalanan Kiai dari kecil hingga “dewasa” saat ini.

Mulai dari paparan napak tilas perjuangan dari “Abah KH. Abdul Chalim bin Kedung Leuwimunding”. Bagian ini penting disajikan, karena kesuksesan seoranan anak, tentu tidak bisa dilepaskan dari peran orangtuanya. Salah satu petuah KH. Chalim “Kamu harus berpikir yang membiayaimu itu Allah, saya hanya perantara saja. Jangan pernah ngadu, jangan suka mengeluh dalam hidup ini atau dalam hal apapun. Berbahaya orang yang suka mengeluh.”

Selanjutnya, cerita pengalaman suka duka Kiai Asep ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran Sidoarjo. Dan, juga pengalaman belajar di sekolah formal SMP Negeri 1 Sidoarjo dan SMA 1 Sidoarjo, hingga pengalaman hidup pada saat menjadi mahasiswa di IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang sekarang berstatus UIN Sunan Ampel Surabaya. Yang menarik pada masa-masa belajar ini, Kiai Asep berjuang keras agar mampu bertahan hidup, karena Abah KH. Chalim telah wafat saat Kiai Aep  masih duduk di bangku kelas 2 SMA, dan kondisi perekonomian benar-benar memprihatinkan. Akhirnya, Kiai Asep terus bangkit dan berjuang untuk menghadapi kondisi sulit itu semua. Salah satu caranya untuk bertahan hidup adalah dengan cara membuka “Kelas Privat”.

Pada bagian berikutnya, penulis, mulai menceritakan pengalaman hidup Kiai yang mulai terus “tumbuh”. Mulai dari pengalaman mengajar di Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) Lamongan (ssat ini SMA Negeri 2 Lamongan), kemudian memutuskan untuk menikah dengan Alif Fadhilah, pengalaman diterima sebagai guru pegawai Negeri Sipil (PNS) di SMPP Lamongan.

Sudah terlatih sejak kecil, Kiai Asep merupakan sosok yang pekerja keras dan ulet. Hal ini dibuktikan dengan keinginan Kiai Asep untuk dapat berkembang dan bergerak, yakni merintis sekolah milik sendiri, yakni merintis Madrasah Tasanawiyah, yang menjadi cikal bakal berdirinya Amanatul Ummah, hinga akhirnya berkembang pesat seperti yang kita saksikan saat ini, Pondok Pesantren Amanatul Ummah, baik di Siwalankerto Utara Surabaya maupun di Pacet Mojokerto.

Pada bagian-bagian selanjutnya, diuraikan banyak hal yang menginspirasi. Di antaranya mengungkap sosok Kiai yang Miliarder, sosok Kiai yang Profesor. Sedangkan Pada tiga bagian terakhir, dikupas tuntas tentang pandangan dan komitmen Kiai Asep dalam membangun manusia Indonesia.  Bagaimana menyiapkan masa depan Indoensia dengan tetap mengikuti jejak perjuangan dan kesuksesan para pendiria bangsa, termasuk ulasan jiwa  nasionalisme ala Kiai Asep. Kemudian komitmen Kiai Asep dalam memperkuat demokrasi dam Moderasi Islam di Indonesia.

Dan, bagian terakhir, Kiai Asep menegaskan dan meyakini bahwa Indonesia akan menjadi Kiblat Pendidikan Dunia. Kiai Asep optimis bahwa kemajuan pendidikan Indonesia akan mengulang masa kemajuan keemasan pendidikan Islam yang pernah terjasi pada mas lampau.

Sungguh, buku “kecil” ini memiliki pesan “besar” yang penting untuk dibaca, direnungkan, lalu diamalkan para pembaca, yang notabene, menjadi generasi penerus Kiai Asep dan para tokoh-tokoh bangsa lainnya. Belajar dari sosok Kiai Asep, menjadi penting karena kita akan bisa menghayati bagaimana perjuangan dan pengabdian beliau, yang sudah terbukti nyata tekah berhasil memberikan kontribusi nyata dalam membangun manusia Indonesia ini.

Semoga menginspirasi! [ahf]

Identitas Buku:

Judul Buku : Inspirasi dan Perjuangan Kiai Asep Saifuddin Chalim, Membangun Manusia Indonesia
Penulis : Muhammad Ismail Adnan
Penerbit : QAF, Jakarta
Cetakan : Oktober 2021
Tebal : 222 hlm
ISBN : 978-623-6219-11-9
Peresensi : Abdul Halim Fathani