PEMBELI BUKU

ABDUL HALIM FATHANI

Membaca kolom di detikNews, tulisan Iqbal Aji Daryono yang dipublikasikan pada 11 Februari 2020 sangat menarik. Menarik, -minimal bagi saya sendiri- karena apa yang ditulis juga saya rasakan dalam keseharian. Kolom mas Iqbal tersebut berjudul “Air Mata Seorang Penggila Buku”.

Apa pesan yang disampaikan oleh mas Iqbal? Mas Iqbal sesungguhnya ingin menegaskan bahwa dirinya merupakan pecinta buku (baca: penggila buku). Dalam paragraf kedua, secara jelas dituliskan “Saya seorang penggila buku. Libido saya selalu bergolak melihat buku-buku. Setiap kali saya bertamu ke rumah kawan dan melihat rak bukunya, pasti saya mendekat untuk melihat-lihat dan mengamatinya. Ada masanya, bertahun-tahun, setiap kali saya sekadar mampir ke toko buku, benar-benar tidak pernah saya keluar tanpa membeli sekantong plastik besar penuh buku.”

Di paragraf berikutnya, mas Iqbal mengingatkan kepada pembaca agar tidak terburu-buru kagum kepada mas Iqbal. Mas Iqbal menceritakan “Saya penggila buku, dan penuh nafsu kepada buku-buku. Tapi saya bukan orang yang cukup tangguh untuk membacanya. Dari sekian ribu buku yang saya miliki, rasanya baru seperempatnya yang sudah saya baca. Bahkan mungkin jauh lebih sedikit lagi…..”

Apa yang menarik dari sini? Ada dua kata kunci; membeli buku dan membaca buku. Dalam pengakuannya, mas Iqbal masih mengakui bahwa dirinya merupakan sosok orang yang gila terhadap beli buku, suka beli buku, bahkan bisa jadi tidak itung-itungan uang. Namun, setelah buku terbeli, pertanyaannya adalah, apa tugas berikutnya? Mestinya, setelah buku berhasil terbeli adalah tugas kita untuk menelusuri lebih jauh tentang isi buku tersebut. Dengan kata lain buku yang dibeli mestinya harus dibaca dan dibaca.

Namun mas Iqbal dengan ‘tegas’ mengakui bahwa buku yang dibeli tersebut belum tentu otomatis dibaca. Hobinya memang membeli, tetapi membaca buku belum tentu dilakukan. Itulah pengakuan mas Iqbal. Pengakuan apa adanya. Bagi kebanyakan orang, untuk apa membeli buku dan ternyata tidak dibaca? Apakah mubazir? Jawabannya: bisa iya, bisa tidak. Tergantung dari mana kita memandangnya.

Hemat saya, apa yang dialami mas Iqbal, tersebut bisa jadi juga dialami oleh kita, termasuk saya sendiri. Dalam tulisan ini saya mencoba mencari sisi positif apa yang dialami mas Iqbal tersebut. Ketika kita rajin membeli buku tanpa membaca, ada beberapa keuntungan, di antaranya adalah:

yang pertama, kita punya koleksi buku yang sudah menjadi hak milik pribadi;

Kedua, kita dapat membaca pada saatnya, karena kita sudah punya koleksi buku sendiri;

Ketiga, kita dapat mewarisi kepada generasi penerus kita berupa buku, yang tentunya oleh generasi kita, buku tersebut juga dapat dibaca kapan pun;

Keempat, buku yang kita miliki, yang kita koleksi di perpustakaan pribadi kita itu merupakan salah satu bukti bahwa kita menjadi orang yang cinta ilmu’

Kelima, paling tidak kalau di buat level, orang yang beli buku itu masih berada di level atas, dibandingkan orang yang tidak membeli buku.

Ini pandangan positif saya, sekarang menurut Anda bagaimana? Terserah Anda. Akhirnya, selamat membeli buku, dan selamat membacanya. [ahf]/D-19