PENULIS “KAYA”

Oleh Abdul Halim Fathani

KETIKA mendengar kata “kaya”, biasanya kita langsung mengidentikkan dengan kepemilikian uang-harta yang banyak, rumah besar, mobil mewah, hidup di perkotaan, dan sejenisnya. Tentu, hal ini tidak salah. Orang yang kaya, biasanya merupakan orang yang bekerja di perusahaan besar, memiliki jabatan tinggi, seorang pengusaha sukses, dan seterusnya. Pertanyaannya, mungkinkah seorang penulis bisa menjadi kaya? Atau bolehkah kita bercita-cita menjadi orang kaya dengan menjadi penulis? Tentu jawabannya, ya boleh-boleh saja.

Salah satu ciri seorang penulis adalah suka menulis. Tentu saja! Agar bisa lancar menulis, sudah seharusnya seorang penulis senantiasa berkarakter sering membaca, baik membaca buku cetak, e-book, koran, tabloid, majalah, atau lainnya. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa di tempat seorang penulis, di mana pun, di rumah misalnya, biasanya tidak pernah hampa dari keberadaan buku atau jenis bacaan lainnya. Bahkan, beberapa penulis biasanya membuat perpustakaan pribadi. Inilah kekayaan pertama diri seorang penulis, yakni kaya buku (referensi). Kaya buku bisa juga diartikan sebagai kaya ilmu.

Untuk bisa menulis, tentu –sebelumnya– seorang penulis harus mengalami kondisi pergulatan intelektual. Untuk menulis suatu tema tertentu, penulis harus menyeleksi aneka ragam ide/gagasan yang muncul. Inilah kekayaan penulis kedua, kaya ide/gagasan.

Selanjutnya, ketika sebuah tulisan atau buku berhasil diterbitkan, maka tidak sedikit pembaca yang memberikan respons. Semisal, ada yang memberi ucapan selamat, ada yang memberi tanggapan positif akan terbitnya buku, ada yang menggelar acara bedah buku atau seminar, dan sejenisnya. Inilah kekayaan ketiga, kaya teman.

Bagi seorang guru/dosen, ketika mengajukan kenaikan jabatan fungsional (baca: pangkat), maka salah satu syaratnya adalah memiliki karya ilmiah. Tentu, seorang guru/dosen yang juga memainkan peran penulis adalah sebuah keniscayaan. Inilah kekayaan keempat, ialah kaya jabatan/pangkat, kaya karier.

Selanjutnya, yang ditunggu-tunggu, ialah kaya harta (uang). Mungkinkah hal ini terwujud? Ya mungkin saja, tentu biidznillah. Tidak sedikit, kita mendengar banyak penulis yang kaya uang, karena transferan royalti bukunya. Ada yang bisa keliling dunia, karena banyak pihak yang menggelar acara bedah buku, yang tentunya butuh dana yang tidak sedikit untuk melakoninya.

Dengan menulis, kita juga bisa membantu orang lain untuk menjadi kaya. Kok bisa? Karena dengan adanya produk dari kegiatan menulis, tentu dapat menimbulkan gejala aktivitas perekonomian. Seperti, dengan adanya penjual buku-koran, toko buku, percetakan, dan sebagainya. Sehingga yang kaya tidak hanya penulisnya, tetapi juga orang lain.

Jenis kekayaan di atas, tentu menarik untuk diraih (dimiliki). Siapa yang tidak suka akan kaya buku (ilmu), kaya ide, kaya teman, kaya karier, kaya harta. Maka, bagi seorang yang sudah mengikrarkan diri sebagai penulis, tentu akan bisa merasakan betapa mudahnya menjadi kaya melalui jalan sebagai penulis. Sungguh, menarik, menarik, sangat menarik!

‘Seperti’
Tafsiran kata “kaya” yang diuraikan di atas memiliki arti positif. Harapannya akan terus menginspirasi siapa pun. Berbeda dengan tafsiran kata “kaya” berikut. Dalam bahasa Jawa, “kaya” bisa juga bermakna ‘tidak semestinya’, ‘seperti’, ‘hanya seolah-olah’, ‘tidak benar’, ‘pura-pura’. Jadi, ada istilah ‘penulis kaya’ dan ‘kaya penulis’.

Penulis kaya berarti penulis yang memiliki kekayaan –sebagaimana uraian di atas. Sementara, ‘kaya penulis’, berarti seolah-olah penulis, padahal sesungguhnya bukanlah seorang penulis. Hanya berpura-pura, tidak semestinya. Apa ada orang yang pura-pura menjadi penulis? Lalu apa keuntungannya? Sekali lagi, saya tegaskan bahwa kata ‘kaya’ di sini ditafsiri dengan menggunakan perspektif makna Jawa.

Seolah-olah penulis, ‘seperti’ penulis, akhir-ahir ini sering muncul di sekeliling kita. Berikut beberapa ‘kasus’ orang yang menggunakan ‘jabatan’ penulis namun hanya pura-pura saja. Misalnya, untuk kepentingan tertentu, si A diharuskan membuat karya ilmiah. Karena si A tahu diri, tidak bisa menulis karya ilmiah, maka minta bantuan kepada si B. Akhirnya, jadilah karya tulis. Namun dalam karya tulis tersebut, di halaman sampul, nama penulis yang tercantum bukan nama si B, melainkan si A. Dalam kasus ini, si A adalah penulis pura-pura. Atau si A itu ‘kaya’ penulis, bukan penulis sesungguhnya.

Untuk kasus lain, seorang dosen senior yang memiliki jabatan strategis di perguruan tinggi. Karena merasa tidak punya banyak waktu untuk menghasilkan karya tulis (buku), maka ia menggunakan cara jitu. Dosen tersebut menghubungi salah satu mahasiswanya untuk membantu menuliskannya. Akhirnya jadilah sebuah buku yang siap diterbitkan.

Namun, -jangan kaget-, ketika sudah terbit, nama yang tercantum ada 2 orang, yakni nama dosen dan mahasiswa ‘suruhannya’ tersebut. Bahkan, ada yang lebih parah –seperti kasus pertama- nama yang muncul hanya satu. Nama mahasiswa yang menuliskannya tidak tercantum. Parahnya lagi, buku tersebut –ternyata- hanya dicetak terbatas, kurang dari 10 eksemplar. Dalam realita inilah, dosen tersebut bukan sebagai penulis, namun hanya ‘kaya’ penulis.

Melanjutkan bahasakan tentang buku yang dicetak terbatas. Di dalam daftar riwayat hidupnya, terdapat 10 karya ilmiah dalam bentuk buku. Namun, setelah ditelusuri ternyata kesepuluh buku tersebut, semuanya dicetak terbatas. Jadi masyarakat umum tidak dapat menikmati informasi (ilmu) yang termaktub dalam buku tersebut. Tentu hal ini mengerdilkan makna sebuah buku. Jadinya, hanyalah buku-bukuan, seolah-olah sudah banyak buku yang diterbitkan, tapi hanya pura-pura saja. Sekali lagi, inilah akibat dari label “kaya” penulis.

Seorang penulis itu identik dengan adanya ide/gagasan cemerlang. Saya khawatir, ketika seorang yang ‘kaya’ penulis, seolah-olah penulis tersebut adalah orang yang hanya seolah-olah punya ide. Padahal, sesungguhnya ia tidak punya ide sama sekali. Ide yang digunakan untuk menulis tersebut, sesungguhnya adalah ide miliki orang lain. Dengan kata lain, ide hasil curian. Hal ini terjadi, karena ia memang pura-pura punya ide, tapi sebenarnya tidak.

Menjadi penulis pura-pura (‘kaya’ penulis), sudah semestinya dihindari. Mengapa? Perlu kita ketahui, bahwa seorang penulis (sesungguhnya) merupakan seorang yang telah berjasa dalam mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Suatu pengetahuan yang ditulis, baik dalam bentuk buku, makalah, atau yang diterbitkan melalui media online, tentu akan dapat mempengaruhi pembacanya. Namun, jika karya tulis tersebut ditulis asal-asalan, bahkan tidak dipublikasikan secara luas, tentuk akan merugikan peradaban (baca: tradisi iqra’).

Karya ilmiah yang berlabel pura-pura, hanya ditujukan kepada kelompok tertentu, seperti penilai kenaikan pangkat. Jika demikian, lalu kapan masyarakat luas (pembaca) dapat menikmatinya? Kapan masyarakat membacanya? Kapan masyarakat mendapatkan informasi ilmu pengetahuan yang baik dan benar. Bahkan, bisa jadi orang yang ‘kaya’ penulis, ketika melahirkan sebuah tulisan, biasanya justru sudi untuk membayar ‘berapa pun’ yang penting jadi sebuah tulisan.

Coba bandingkan dengan seorang penulis yang sesungguhnya. Penulis menyusun tulisan yang dipublikasikan dalam bentuk buku. Penulis tidak membayar satu rupiah pun. Justru sebaliknya, penulis mendapat royalti dari penerbit. Walhasil, justru bisa kaya dengan menjadi seorang penulis.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan pembaca pada umumnya. Marilah berperan sebagai penulis kaya. Ialah kaya ilmu, kaya ide, kaya kawan, kaya karier, termasuk juga kaya uang. Sebaliknya, hindari –sekali lagi- marilah kita menghindari dari segala aktivitas yang mengarah pada hadirnya penulis yang ‘seolah-olah’. Biar tidak menjadi orang yang ‘kaya’ penulis. Penulis yang hanya pura-pura. [ahf]