SEKOLAH MANA?

Abdul Halim Fathani

Dewasa ini, kita agaknya ‘sulit’ untuk mencari anak yang tidak ‘sekolah’. Paling tidak, kebanyakan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sudah peduli akan pentingnya belajar di bangku pendidikan. Para orangtua, kiranya sudah memiliki kesadaran tinggi untuk menyiapkan anak-sebagai generasi penerusnya, untuk mengenyam pendidikan, -salah satunya melalui jalur pendidikan formal, mulai Pendidikan Anak Usia Dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, hingga Pendidikan Tinggi. Tinggal pilih, mau belajar di sekolah A atau sekolah B? Tergantung.

Mahal

Ada fenomena menarik yang terjadi di masyarakat. Sebagian masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah yang memasang tarif mahal. Ya, mahal. Karena untuk daftar saja, harus inden dulu, agar bisa dipastikan diterima. Kalau tidak inden, dipastikan tidak kebagian kursi. Dan, setelah diterima, bayarnya juga tidak sedikit. Tapi, orang tuanya ya terbukti mampu untuk membayarnya.

Di sekolah ini, biasanya fasilitasnya juga lengkap dan super mewah. Bahkan, ada beberapa sekolah yang memiliki fasilitas kolam renang, mall, dan sejenisnya. Intinya, pihak sekolah berupaya untuk menyediakan atau memfasilitasi peserta didik semaksimal mungkin. Tujuannya satu, yakni agar peserta didik dapat fokus dan nyaman untuk belajar. Belajar dengan fasilitas yang serba ada tentu akan membawa dampak kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan secara maksimal. Sekolah seperti ini, sebut saja sekolah A.

Murah

Sebaliknya, tidak sedikit juga sekolah yang biaya pendidikanya termasuk kategori tidak mahal. Bahkan ada yang ‘gratis’, karena sekolah tersebut sudah memaksimalkan semua pembiayaannya dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari pemerintah, dan ditambah dari donatur masyarakat. Di sekolah seperti ini, biasanya fasilitasnya cenderung ‘pas-pasan’. Namun, meskipun pas-pasan, hemat saya, sekolah tersebut tetap dapat pelaksanaan kegiatan pembelajaran peserta didik secara baik.

Sekolah seperti ini, biasanya –meskipun juga tidak semua- lokasinya berada di pinggiran kota, atau di daerah-daerah yang dekat dengan masyarakat. Tidak jarang, di sekolah seperti ini, melibatkan peran masyarakat sekitar, seperti kantin sekolah yang berjualan ya tetangga sekitar, petugas parkir dan satpam juga dari orang sekitar sekolah. Orang-orang sekitar merasa ‘ikut memiliki’ keberadaan dan keberlangsungan sekolah. Mereka biasanya terlibat aktif mendukung kelancaran dan kesuksesan sekolah. Sekolah seperti ini, sebut saja sekolah B.

Yang mana?

Dari uraian di atas, lalu kita memilih sekolah yang  mana, A atau B? Semuanya kembali ke anak dan orang tuanya. Prinsipnya, hemat penulis, semua sekolah-apapun jenisnya, baik A atau B, bertujuan untuk mengembangkan potensi anak peserta didik. Tinggal, orang tua dan anak lebih sreg, pilih yang mana. Ikuti saja kata hatinya. Yang penting, di sekolah itu semua pihak dan komponen bergerak bersama.

Masing-masing melaksakan tugas dan fungsinya sesuai dengan bagiannya. Yang siswa tugasnya belajar dengan tekun, guru mengajar dan mendidik, masyarakat ikut mendukung kegiatan pembelajaran. Masing-masing pihak bergerak secara simultan untuk mempersiapkan sumber daya generasi penerus bangsa dengan baik. [ahf], Ngijo-D19