HEBAT BERSAMA

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com. – KITA semua, pasti ingin menjadi orang hebat. Dalam KBBI, kata “hebat” mengandung arti: terlampau, amat sangat (dahsyat, ramai, kuat, seru, bagus, menakutkan, dan sebagainya). Tergantung konteks kalimatnya. Di dunia pendidikan, seseorang yang hebat diartikan sebagai sosok orang yang amat cerdas, sangat pintar, sangat ahli, dan seterusnya. Hebat berarti orang yang memiliki “kelebihan” di bidang tertentu. Bidang yang ditekuni.

Kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain yang hebat. Agar kita bisa mengikuti jejak kehebatannya. Kita bisa ikut menjadi orang hebat. Orang hebat bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan diri kita. Inspirasi untuk terus maju dan berkembang. Inspirasi untuk terus bertumbuh. Meniru orang lain, agar kita bisa menjadi hebat.

Ketika saya berselancar di internet, di laman https://walisongo.ac.id, saya menemukan satu “tulisan hebat” yang dapat menginspirasi kita semua. Tulisan itu berjudul: “Inspiratif, Ayah dan Anak Lulus Bersama di UIN Walisongo Semarang”.

Dalam tulisan itu, dikisahkan bahwa, ada momen menarik bagi seorang anak dan ayah, yang sedang mengikuti prosesi wisuda pada event yang sama dan di kampus yang sama. Di UIN Walisongo Semarang, di gedung Gedung Tgk. Ismail Yaqub. Ialah H. M. Mudhofi dan Muhammad Nabih Z. A., ayah dan anak yang berhasil lulus bersama di UIN Walisongo Semarang.

Berikut cuplikan kisah inspiratif yang dimuat di laman https://walisongo.ac.id.

Mudhofi berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya pada Program Doktor Studi Islam konsentrasi Pemikiran Islam, sedangkan Nabih menjadi lulusan terbaik di Fakultas Ushuludin dan Humaniora. Meskipun berbeda fakultas, ayah dan anak ini memiliki semangat yang sama dalam menyelesaikan pendidikannya. Sekedar diketahui, Mudhofi merupakan Wakil Dekan Bidang Akademik di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo.

Mudhofi mendapat gelar Doktor dengan IPK 3,76 sedangkan putranya meraih IPK 3,85. Mudhofi menulis disertasi yang mendapatkan nilai 3,97 dengan judul “Pengarusutamaan Narasi Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jamaah Al-Nahdiyyah di Era New Media.

Sedangkan Nabih menuliskan skripsi yang meraih nilai 4 (A) berjudul “The Childfree Phenomena of Sayyid Mahmud Al-Alusi’s Prespective in Tafsir Ruh Al Ma’Ani”. Meskipun mendapatkan hasil IPK yang membanggakan, Mudhofi dan Nabih tidak mengalami hambatan yang berarti saat menyelesaikan pendidikan, terlebih Mudhofi di tengah kesibukannya sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik.

Sebagai dosen, suami, ayah dan Wakil Dekan mengakui adanya tantangan di kampus dan di rumah. Tantangan pasti ada, terlebih Mudhofi di usia 54 tahun tetapi tetap semangat dalam menyelesaikan tugas akhirnya di tengah tanggungjawab lainnya di kampus dan sebagai ayah di tengah rumah tangganya.

Melihat kisah inspiratif di atas, ada dua kata kunci penting yang menarik untuk kita refleksikan bersama.

Pertama. Mudhofi sebagai ayah, menekankan pentingnya pendidikan bagi keluarganya. Sehingga anak, dan anggota keluarga lainnya, harus terus menimba ilmu setinggi langit. Tentu, ilmu yang dapat mengantarkan pada penguatan keimanan dan ketaqwaan, serta ilmu yang berdampak pada kemasalahan umat.

Kedua. Mudhofi sebagai ayah, telah memberikan contoh riil dengan tindakan nyata, bahwa menimba ilmua itu tidak mengenal usia. Sehingga meskipun sudah berkerja, sudah menjadi dosen, Mudhofi tetap terus menuntut ilmu untuk pengembangan keilmuan dan karir beliau. Bisa jadi, tauladan inilah yang dijadikan rujukan anak-anaknya dalam melanjutkan studi hingga perguran tinggi.

Walhasil, pesan inspiratif yang dapat kita garisbawahi adalah ayah tidak akan puas kalau hanya dirinya sendiri yang sukses dalam thalabul ilmi. Mudhofi, memang menjadi orang hebat. Tetapi tentu tidak lengkap kalau kehebatan ini, hanya dimiliki seorang diri. Orang hebat harus banyak. Dalam satu keluarga: ada ayah, ibu, anak, semuanya harus menjadi orang hebat. Maka, penting bagi semua anggota keluarga untuk terus mengembangkan diri.

Jadi, pesan untuk kita semua adalah “untuk tidak sekedar menjadi hebat, namun harus bisa menjadi hebat bersama.” [ahf]