BUKU TERAKHIR

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com – BUKU, kita semua mesti sepakat bahwa buku memiliki peran penting dalam membangun peradaban manusia, ya peradaban suatu bangsa. Dengan buku, kita akan mendapatkan informasi, ilmu pengetahuan, wawasan, cakrawala, dan sebagainya. Buku memang “benda mati”, tetapi buku –sejatinya- menyimpan kekuatan besar. Buku bisa mengantarkan manusia menjadi seorang yang berilmu, berpikir, beradab, atau hal-hal positif lainnya. Namun, buku bisa juga berperan sebaliknya.

Tulisan Saudara Anggi Afriansyah “Guru yang Membaca”, di Harian Kompas, 2 Februari 2023, harus menjadi renungan kita bersama, terutama para guru. Ada pernyataan yang menggelitik, di bagian paragraf ketujuh. Afriansyah (2023) mengisahkan, sering kali bertanya kepada guru-guru pada saat memberi sesi seminar atau webinar “Buku terakhir apa yang sudah dibaca?”

Pertanyaan ini sederhana, tapi belum tentu kita semua dapat meresponnya secara cepat atau mudah. Mengapa kok sulit merespon? Tentu beragam alasan yang mendasarinya. Misalnya saja, karena guru lupa akan judul buku yang terakhir dibaca; karena judul buku terlalu panjang; karena sudah lama tidak membaca buku; atau jangan-jangan karena terlalu banyak buku yang terakhir dibaca, sehingga menyulitkan untuk menjawab pertanyaan “Buku terakhir apa yang sudah dibaca?” Kita, termasuk yang mana?

Di paragraf berikutnya, yang kedelapan, Afriansyah (2023) mengisahkan, ada guru yang menyebut sembari tertawa bahwa buku yang dibaca terakhir adalah buku mata pelajaran yang diampunya. Ucapan ini disambut tawa oleh guru-guru lainnya. Mengapa ya, kok ditertawakan, padahal kan bagus kalau guru tersebut membaca buku pelajaran? Bisa jadi, menurut mereka, buku mata pelajaran, itu buku yang memang menjadi konsumsi bacaan sehari-hari, karena memang tugasnya sebagai guru ya mengajar sesuai mata pelajaran yang menjadi bidangnya.

Mari kita semua, mencoba merenung saja!
Apakah kita semua memang tidak sempat membaca buku? Apakah kita mempunyai koleksi buku yang dapat mendukung kapasitas kita sebagai guru? Apakah kita hobi membaca buku di luar buku mata pelajaran, sehingga dapat memperkaya wawasan guru? Tentunya, guru, buku, dan membaca merupakan 3 hal yang harus terus berdampingan. Jadi guru, ya mesti memiliki buku. Kalau punya buku, ya mesti harus dibaca. Bukan hanya jadi koleksi pajangan di rak buku saja. Sehingga, kita dapat dengan mudah menjawab “Buku terakhir apa yang sudah dibaca?”

Di akhir tulisan ini, marilah kita semua komitmen untuk menjalankan perintah Allah, dalam Surat al-Alaq, Iqra’. Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq ‘bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta’. [ahf]