POTENSI INDIVIDU

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com.–AGAR kita dapat mengarungi kehidupan dengan baik dan selalu bahagia, khususnya dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran, kita perlu mengenali posisi kita masing-masing secara individu. Siapa pun kita, ketika bergelut di dunia pendidikan dan pembelajaran, pasti ada yang berada dalam posisi guru, dan ada yang dalam posisi siswa.

Nah, misal yang harus terpetakan bagi siswa sebagai peserta didik, ialah harus mengetahui posisi potensi (baca: kecerdasan) yang dimilikinya. Tugas pendidikan adalah mengembangkan kecerdasan yang dimiliki setiap individu. Bukan sebaliknya, membangun kecerdasan.

Dengan demikian, agar pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran dapat berjalan dengan humanis dan konstruktif, guru juga harus memahami peta potensi (baca: kecerdasan) dari masing-masing individu peserta didik. Guru harus mampu untuk menuntun anak dalam berkembang. Bukan mendikte anak agar dapat menjadi seperti dirinya, seperti gurunya. Anak harus berkembang sesuai dengan modal yang dimilikinya.

Satu lagi, yang tidak boleh dinafikan adalah posisi orangtua. Orangtua memegang peran sentral dalam rangka mengembangkan pendidikan anak. Jika berada di sekolah, anak bisa diperhatikan oleh guru. Tetapi, jika sudah berada di luar jam sekolah, maka peran orangtua tidak bisa disepelehkan. Orangtua harus ikut bertanggungjawab atas perkembangan seorang anak.

Di akhir tulisan ini, marilah kita merenungkan pesan Albert Einstein: “Semua orang jenius. Tapi jika Anda menilai ikan dengan kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan percaya bahwa itu bodoh.”

Jadi, tugas siswa adalah mengenali potensi dan kecerdasannya untuk menjadi basis pengembangan diri. Sementara tugas guru dan orangtua adalah mendampingi, membimbing, sekaligus mengantarkan individu anak agar dapat berproses untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensinya.[ahf]