KECERDASAN MANUSIA

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com. – SAAT ini, dalam kehidupan manusia dalam berbagai aspek, baik pendidikan, ekonomi, sosial budaya, hingga agama tidak sedikit yang memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Responnya: sebagian mendukung, tetapi ada juga sebagian yang kurang setuju. Masing-masing memiliki alasan yang perlu dipikirkan ulang. Tulisan opini Usman Kansong di Harian KOMPAS, 22 November 2023, berjudul “Ironi Teknologi Kecerdasan Buatan” menarik untuk dibaca-renungkan.

Dalam tulisannya, Kansong menyatakan “Ada satu keyakinan bahwa teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan tak akan benar-benar menggantikan manusia. Manusia memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional bahkan kecerdasan spiritual. AI boleh saja memiliki kecerdasan intelektual, tetapi tidak mungkin mempunyai kecerdasan emosional apalagi kecerdasan spiritual.”

Di sisi lain, Kansong menegaskan potensi terjadinya fenomena yang berlawanan. “Ironisnya, justru karena memiliki perasaan atau emosi, manusia berpotensi besar digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan. Manusia pemengaruh (human influencer) berbekal emosinya mungkin memprotes atau menuntut kenaikan pendapatan, sedangkan pemengaruh virtual tidak mungkin melakukannya.”

Manusia atau Teknologi?

Jika merenungkan apa yang ditulis Usman Kansong sebagaimana di atas, tentu kita dituntut harus dapat berpikir jernih sekaligus bersikap arif-bijak. Manusia tentu memiliki kelebihan dibandingkan dengan teknologi kecerdasan buatan. Kecerdasan yang dimiliki manusia merupakan kecerdasan yang komprehensif. Ada kecerdasan intelektual, emosional, dan juga kecerdasan spiritual. Sedangkan pada teknologi, hanya terdapat kecerdasan intelektual saja.

Kita, sebagai manusia, sependapat dengan argumen yang mengatakan bahwa: dengan adanya kemajuan teknologi, beberapa aktivitas manusia sangat terbantu. Lebih cepat, lebih teliti, lebih akurat, dan sejenisnya. Di sisi lain, dengan adanya teknologi, juga bisa meniadakan nilai-nilai karakter dan budaya luhur yang selama ini tumbuh subur di realitas kehidupan manusia.

Jadi, jika ada pilihan, memilih manusia atau teknologi, bukanlah pertanyaan yang bijak. Hemat saya, manusia dan teknologi tidak dapat dipisahkan. Teknologi tidak boleh berjalan sendirian dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya, manusia juga sebaiknya tidak berjalan tanpa memanfaatkan teknologi, sebagai bukti nyata majunya peradaban manusia.

Jadi, manusia dalam melaksanakan aktivitas kehidupannya harus dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu kemudahan dan kecepatannya. Teknologi menjadi –semacam- alat bantu dalam kehidupan manusia. Manusia harus tetap memegang nilai-nilai kearifan lokal dalam memanfaatkan teknologi buatan. Demikian juga, teknologi harus dikembangkan sekaligus diterapkan, dengan tetap mengandung nilai-nilai positif. Manusia dan teknologi harus saling menyapa. [ahf]