KIRIM PESAN

Ass. Bapak, ada di kantor jam berapa? Hari ini saya mau konsultasi skripsi Bab 3 saya. Tks

Assalamua’alaikum. Bpk, nanti Pukul 10, kami mau konsultasi untuk program yang akan dilaksanakan. Apakah Bapak ada waktu? Terima kasih

Assalam. Bapak, mohon maaf, hari ini ada di kampus sampai jam berapa ya? Kami mau bimbingan. Trm ksh.

“Pesan” di atas merupakah beberapa contoh pesan singkat yang masuk di handphone melalui aplikasi WhatsApp (WA). Saya, termasuk sering mendapatkan pesan seperti tersebut. Dari pengalaman saya sendiri, ada beberapa fakta ‘aneh’ yang terjadi. Di antaranya:

Pertama. Ada seseorang yang mengirim pesan tersebut pada saat tanggal merah. Artinya, pesan itu dikirimkan pada saat hari libur, dan memang tidak ada aktivitas formal di kampus. FAKTANYA: dari sisi si pengirim pesan (mahasiswa), tidak menyadari bahwa saat itu adalah tanggal merah.

Kedua. Ada seseorang yang mengirim pesan tersebut pada saat mahasiswa sedang tidak berada di kampus. Artinya mahasiswa tersebut masih berada di rumah atau di kos atau di kontrakan. Bahkan, ada juga yang masih belum berada dalam kondisi ‘siap’. Begitu pesan masuk, misalnya pesan diterima pukul 08.05 wib, lalu segera saya respon: “Waalaikumussalam. Silakan, saya tunggu di kampus sekarang.”, Lalu, mahasiswa menjawab: “Baik pak, terima kasih, saya persiapan ke kampus”. FAKTANYA: mahasiswa tersebut datang di kampus (baca: di kantor), baru pukul 12.35 wib. Karena memang, mahasiswa tersebut, ketika mengirim pesan masih di rumah, dan rumahnya memiliki jarak yang jauh dari kampus.

Ketiga. Ada seorang yang mengirim pesan tersebut, tidak mencantumkan identitas lengkap, sehingga tidak diketahui siapa pengirim pesan itu. Dan, biasanya jika ada pesan yang tidak jelas sumbernya, maka bisa saja kita abaikan.  FAKTANYA:  dari sisi si pengirim pesan (mahasiswa), sudah mengira bahwa di handphone penerima pesan tersebut, di menu kontaknya sudah menyimpan nomor dan diberi nama (identitas). Padahal ini perkiraan saja, dan kadang pengirim pesan mengabaikan hal ini.

Keempat. Ada seorang yang mengirim pesan, dengan menggunakan Bahasa yang tidak mudah dipahami. Kata-katanya menggunakan singkatan-singkatan yang tidak “umum”, sehingga menyulitkan penerima pesan untuk memahaminya. FAKTANYA: mahasiswa tersebut mengabaikan akan pentingnya memiliki pemahaman isi pesan yang sama, antara pengirim dan penerima pesan.

Kelima… dan seterusnya. Saya kira masih banyak kejadian riil yang kadang kurang tepat ketika pengiriman pesan melalui aplikasi WhatsApp. Oleh karena itu, penting kiranya kita semua, termasuk saya, untuk mengoreksi diri, perihal kebiasaan kirim pesan ini.

Intinya, marilah kita semua untuk berkomitmen bahwa dalam hal pengiriman pesan harus berisi pesan yang dapat dipahami oleh si penerima pesan, dan yang terpenting memiliki etika yang baik. Mari berfleksi.[ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *