GURU MENULIS

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com. – SERINGKALI kita menyaksikan gelaran kegiatan pelatihan tulis-menulis. Baik yang berbentuk workshop sehari, workshop dua tiga hari, talkshow, training, seminar, atau lainnya. Intinya, kegiatan tersebut bertujuan agar dapat memberikan bekal keterampilan dan kemahiran bidang tulis-menulis. Bagaimana hasil pasca kegiatan pelatihan kepenulisan tersebut? Pesertanya terampil menulis, ataukah peserta ‘’berhenti’ memiliki wawasan menulis? Jawabannya: ada di peserta masing-masing.

Bagaimana seharusnya? Hemat saya, jawabannya butuh komitmen peserta. Peserta pelatihan menulis harus memiliki komitmen untuk menulis dan selalu menulis. Menulis apa? Menulis yang ingin ditulis, menulis yang perlu ditulis, menulis yang seharusnya ditulis. Ya, menulis apa pun.

Bagaimana dengan guru? Guru dapat menuliskan apa pun yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Menulis, apa yang dilakukan oleh para siswa ketika mengikuti pembelajaran di kelas. Ada siswa yang semangat, ada siswa yang suka diskusi dan presentasi, ada siswa yang senang belajar di luar kelas, dan sebagainya. Bisa juga, guru menulis respon siswa terhadap desain pembelajaran yang dilakukan. Tentu guru harus punya data terlebih dahulu. Bisa melalui wawancara, observasi, atau melalui penyebaran angket.

Praktik pembelajaran di kelas yang dilakukan guru, dapat menjadi bahan untuk menulis bagi para guru. Guru tidak akan kesulitan bahan tulisan, karena setiap guru tentu punya jam mengajar di kelas. Misalnya, komitmen yang dibangun adalah: “Setiap satu kali pertemuan tatap muka dalam pembelajaran, guru akan melahirkan satu tulisan praktik baik, problem pembelajaran, solusi pembelajaran, dan sebagainya”

Jika komitmen seperti ini benar-benar nyata terjadi di setiap guru, maka kegiatan pelatihan menulis yang sudah diselenggarakan, baru disimpulkan berhasil. Atau bisa juga dibuat kesimpulan, jika guru sudah membiasakan menulis satu tatap muka, satu tulisan, maka hemat saya, kegiatan pelatihan dunia tulis-menulis, sudah tidak mendesak untuk dilakukan (lagi). Karena, guru sudah terbiasa menulis.

Satu lagi: kata kuncinya adalah KOMITMEN. Komitmen untuk MENULIS. [ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *