RUANG PENGETAHUAN

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com – BERBICARA ruang, biasanya selalu diidentikkan sebuah area dengan luasan tertentu yang dibatasi sisi-sisi. Ketika kita mengingat lagi pada saat belajar matematika, ada materi bangun ruang, maka kita akan ingat panjang-lebar, rumus keliling, rumus volume, satuan, dan sebagainya.

Dalam dunia pendidikan, kita mengenal ada ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang kesehatan, ruang istirahat, ruang ibadah, ruang konsultasi, ruang komputer, ruang pertemuan, dan ruang-ruang lainnya. Ruang-ruang tersebut, pada umumnya dibatasi dinding-dinding tembok, yang dilengkapi dengan papan tulis, meja kursi, lemari, dan sejenisnya.

Ada satu lagi, ruang yang juga memiliki posisi vital. Ruang baca, ruang buku, ruang diskusi. Ini biasanya terdapat di ruang besar, dalam ruang perpustakaan. Ada juga yang dalam gedung perpustakaan. Isinya, yang jelas ada bermacam koleksi buku-buku, koran, majalah, dan pelbagai referensi lainnya. Inilah ruang pengetahuan.

Tapi, apakah sebenarnya pengetahuan itu hanya berada di ruang perpustakaan saja? Jawabannya, tentu tidak. Pengetahuan bisa kita dapatkan di mana saja, termasuk kapan saja. Apalagi di perpustakaan tertentu, kadang jam bukanya sama seperti jam kantor. Tanggal merah, perpustakaan tidak ada aktivitas. Jam bukanya sama seperti jam belajar di sekolah.

Semoga ke depan, banyak perpustakaan yang jam bukanya, bisa diperluas. Sehingga siapapun, kapanpun dapat memasuki ruang pengetahuan dengan sesuka waktunya. Perpustakan terbuka bagi siapa pun. Tidak hanya dikhususkan warga sekolah, warga kampus, atau masyarakat tertentu.

Apakah memperoleh pengetahuan hanya bisa didapatkan di perpustakaan saja? Jawabannya, tidak. Saat ini, kita berada di zaman digital. Informasi dan akses pengetahuan sudah bisa diakses oleh semua orang dan tidak terbatas ruang dan waktu.

Ruang pengetahuan itu ya, yang ada di ruang kehidupan kita ini. Apa yang ada di dunia ini bisa kita jadikan sebagai alat sumber pengetahuan. Tidak hanya dari informasi yang tertulis saja. Tetapi juga dari segala ciptaan Allah swt, baik yang tersurat maupun tersirat.

Yang menjadi tantangan adalah akses terhadap pengetahuan tersebut dapat dijangkau dan terjangkau oleh masyarakat yang membutuhkan. Mulai dari ketersediaan jaringan internet, termasuk cara pandang sekaligus pola pikir terhadap pemanfaatan alat seluler.

Perlu kita renungkan kembali. Apakah sekolah sudah menyedikan akses wifi gratis, atau masih terbatas di area tertentu dan jam tertentu saja? Apakah penggunaan alat seluler harus dibatasi ataukah justru pembelajaran dilangsungkan dengan memanfaatkan alat seluler tersebut?

Yang jelas, saat ini dunia sudah berkembang (baca: berubah). Pola pikir kita harus menyesuaikan. Ruang dan waktu kita untuk mencari ilmu pengetahuan semakin terbuka lebar. Bahkan, saat ini ilmu pengetahuan tidak perlu lagi dicari. Tetapi, kita kebanjiran ilmu pengetahuan. Setiap saat, di mana saja, kita kebanjiran ilmu pengetahuan.

Ruang pengetahuan ada di mana-mana.
Tugas kita, sejatinya adalah: menyaring ilmu pengetahuan. [ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *