LOGIKA AL-FATIHAH

Marilah kita meng(k)aji surat al-Fatihah, ayat 6-7 yaitu ayat yang berarti “… tunjukkan kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat …”.

Ayat ini dapat kita tuliskan dalam suatu pernyataan implikasi seperti berikut.

 “Jika berada pada jalan yang lurus maka Allah swt memberi nikmat”

Pernyataan di atas bernilai benar (B). Kebenaran ini dikarenakan bahwa semua ayat-ayat dalam al-Qur’an adalah bernilai benar. Al-Qur’an adalah wahyu dan kebenarannya adalah Ilahi atau kebenaran mutlak.

Selanjutnya marilah kita kaji nilai-nilai kebenaran menurut tabel kebenaran dari pernyataan implikasi.

Pertama: “Jika berada pada jalan yang lurus maka Allah swt memberi nikmat”

Ini adalah pernyataan pangkal yang nilainya sudah benar (B). Pernyataan ini terjadi dalam realitas. Selama ini telah mengakui, meyakini, dan merasakan kenikmatan Allah swt. Banyak kejadian-kejadian yang telah menunjukkan pernyataan tersebut. Seperti pengakuan seorang penjual bakso yang meyakini bahwa karena ia selalu rutin sholat tepat waktu (dan tidak pernah meninggalkan sholat), ia merasakan dagangannya selalu laris manis setiap hari. Semua itu karena Allah swt memberi kenikmatan yang melimpah.

Kedua: “Jika berada pada jalan yang lurus maka Allah swt tidak memberi nikmat”

Pernyataan ini bernilai salah (S), karena Allah swt selalu memenuhi janji-Nya yaitu bila kita melaksanakan semua ajaran-Nya maka kita akan mendapat balasan berupa kenikmatan. Ini dapat kita lihat dalam al-Qur’an pada surat al-Hajj ayat 63–66 tentang nikmat Allah swt kepada manusia; surat al-Hajj ayat 14 tentang balasan terhadap orang-orang yang beriman dan beramal sholeh; surat al-Mulk ayat 12 tentang janji Allah swt kepada orang mukmin; surat al-Baqarah ayat 62 tentang pahala pahala bagi orang yang beriman; surat Luqman ayat 1-11 tentang jaminan bagi orang-orang yang beriman (jaminan kenikmatan). Masih banyak ayat-ayat dalam surat-surat yang lain yang juga menunjukkan balasan atas ketaqwaan kepada Allah swt.

Ketiga: “Jika tidak berada pada jalan yang lurus maka Allah swt memberi nikmat”

Pernyataan ini dapat bernilai benar (B), dan ini terjadi dalam realitas. Saat ini kita masih dapat melihat dengan nyata bahwa banyak orang-orang non-muslim yang memiliki segudang kekayaan harta. Mereka masih diberi kenikmatan duniawi oleh Allah swt. Kita tidak perlu merasa iri terhadap realitas ini. Justru hal ini menjadi tantangan bagi kita untuk selalu meningkatkan pelaksanaan ajaran-Nya dengan ikhlas.

Keempat: “Jika tidak berada pada jalan yang lurus maka Allah swt tidak memberi  nikmat“

Pernyataan ini bernilai benar (B). Pernyataan ini merupakan peringataan bagi kita seperti yang ditunjukkan dalam surat al-Nahl ayat 104-113 tentang orang-orang yang jauh dari hidayah Allah swt, surat al-kahfi ayat 54-59 tentang akibat tidak mengindahkan peringatan Allah swt, surat Thaha ayat 128-135 tentang beberapa peringatan dan ajaran tentang tentang moral; surat al-Mulk ayat 16-30 tentang ancaman Allah swt kepada orang-orang kafir; serta ayat-ayat dalam surat-surat yang lain yang menerangkan adzab dan siksaan Allah swt terhadap orang-orang yang tidak bertaqwa kepada-Nya.[ahf]

Referensi: Wahyu Henky Irawan. “Nilai-nilai Logika Matematika dalam Al-Qur’an” Saintika, No. 4 Tahun 3 Januari-April 2005

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *