INSPIRASI WULAN

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com. – MEMBACA salah satu berita yang dipublikasikan di laman https://www.kemdikbud.go.id, sungguh menarik dan dapat menjadi refleksi bersama, khususnya para guru dan pemerhati dunia pendidikan. Judul berita yang dimaksud adalah “HSPG Bali Merdekakan Bakat dan Minat Peserta Didik Melalui Fleksibilitas Waktu Belajar”. Berita ini tayang pada tanggal 21 November 2023.

Sosok yang menjadi objek pemberitaan tersebut adalah Yekti Wulan Cahyani. Ialah seorang Direktur sekaligus pendiri Homeschooling Primagama (HSPG) Bali atau Sekolah Rumah Primagama Bali. Membaca berita tersebut, akan melahirkan banyak inspirasi bagi pembaca untuk mendapatkan ruh pendidikan yang hakiki. Inspirasi dari seorang Yekti “Wulan” Cahyani.

HSPG Bali merupakan Pusat Kegiatan belajar Masyarakat (PKBM) yang keberadaannya sah, diakui, sama dan sederajat dengan sekolah formal sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 129 Tahun 2014.

Apa saja inspirasi yang lahir dari Wulan tersebut? Di antaranya adalah sebagai berikut:

Wulan menggarisbawahi bahwa pendidikan adalah hak setiap anak. Menurutnya, jika anak tidak bisa dilayani di sekolah formal maka sudah saatnya ada alternatif sekolah informal untuk memenuhi kebutuhan edukasi bagi anak.

Melalui berbagai riset, Wulan memutuskan untuk mengembangkan sekolah informal yang memfokuskan tidak hanya pada pendidikan tetapi juga keterampilan bakat.

Wulan menekankan pentingnya mencari potensi anak agar mereka dapat belajar dengan efektif sesuai dengan implementasi Kurikulum Merdeka yaitu pembelajaran terdiferensiasi, artinya substansi yang diajarkan sama tapi targetnya berbeda.

Kata kunci yang dijadikan pegangan oleh Wulan adalah:

“Jika ada anak yang kemampuannya hanya 4, tidak mungkin kita paksa menjadi 8, di situlah kami mencari potensi dan keunikan mereka dan kami bantu kembangkan sehingga menjadi kekuatannya mereka,”

“Kita menerima siswa berkebutuhan khusus dan menerapkan kurikulum khusus yaitu Kurikulum Bina Diri yang berfokus pada kemampuan anak untuk tahu dan mengerti mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Selanjutnya kami akan melakukan penilaian kemampuan sebelum akhirnya kami arahkan peserta didik berkebutuhan khusus ini ke kelas akademik,”

“Ketika seorang anak berada di jalur yang tepat sesuai bakatnya dan diberi ruang untuk mengembangkan bakatnya, mereka jauh lebih bahagia sehingga proses belajar lebih efisien dan harapannya mereka menjadi berdaya di masyarakat,”

Itulah beberapa inspirasi pendidikan yang dapat kita petik dari Yekti Wulan Cahyani, sosok yang peduli akan masa depan anak, generasi bangsa. Peduli dengan membangun pendidikan yang “fleksibel” dan “humanis”.[ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *