TRANSFER NILAI

Oleh Abdul Halim Fathani

Fathani.com. KEHIDUPAN manusia saat ini, akrab sekali dengan peran Information Technology (IT). Bahkan dalam beberapa aspek kehidupan, posisi IT telah menggantikan peran dan fungsi, yang sebelumnya dimainkan oleh manusia. Hal yang mudah dijumpai di sekeliling kita, misalnya, adanya alat bantu menghitung ‘kalkulator’, atau sekarang sudah berkembang dalam bentuk aplikasi hitung, telah terbukti nyata membantu atau justru menggantikan peran manusia.

Lalu, apakah kita masih melarang orang untuk menggunakan alat bantu hitung tersebut? Sebagian guru, bisa jadi masih ada yang melarang peserta didiknya menggunakan alat bantu hitung tersebut ketika ujian Matematika di sekolah. Sementara, kebutuhan di lapangan nantinya, pada saat bekerja di unit bisnis, misalnya di bagian kasir, tentu dibutuhkan kemampuan dan kecepatan dalam menghitung. Dan, itu bisa dimainkan oleh alat bantu hitung tersebut.

Perkembangan dunia IT sekarang semakin mengagetkan banyak pihak. Kehadiran ChatGPT, diakui atau tidak, telah menjadi angin segar bagi sebagian kalangan, yang membutuhkan informasi serba cepat. Bahkan, kita bisa menuliskan perintah apa pun yang kita inginkan.

Dan, ChatGPT dengan cepat langsung meresponnya berdasarkan bank data informasi yang dimilikinya. Apakah hal yang demikian kita larang? Di satu sisi, ChatGPT menjadi salah satu bukti perkembangan iptek, yang juga merupakan produk dari pendidikan.

New IT
Tulisan Benny Lianto, Rektor Universitas Surabaya di Harian Kompas, 12 Agustus 2023, yang berjudul ‘New IT’ dan Reposisi Pendidikan Tinggi, menarik kita renungkan. Dalam tulisan tersebut digarisbawahi, Pendidikan tinggi harus melakukan reposisi strategis dalam mengadopsi new IT agar tetap relevan. Misalnya, memikirkan cara memosisikan new IT sebagai alat melakukan transfer nilai/kebijaksanaan, tak sekadar pengetahuan.

Lebih lanjut, Benny Lianto, mengingatkan sekaligus menegaskan bahwa saat ini, dunia telah menjadi global brain dengan menjamurnya beragam learning channel. Pengetahuan bisa diperoleh di mana-mana dengan mudah tanpa harus belajar di kampus meski kampus mungkin bisa membuat pengetahuan lebih terstruktur. Namun, peran transfer nilai dan kebijaksanaan hidup (life skill) dengan bantuan new IT menjadi lebih penting. Jika peran ini dijalankan, niscaya pendidikan tinggi akan tetap menjadi relevan.

Hemat saya, siapa pun, terutama pendidik, yang melakukan pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas, harus memiliki paradigma holistik, bahwa pendidikan itu tidak hanya dilihat dari satu sisi saja. Pendidikan atau pembelajaran harus dilihat secara utuh. Mulai dari materi pengetahuan atau informasi, perubahan zaman yang terus melaju dengan cepat, tantangan zaman yang semakin kompleks, termasuk, internalisasi karakter berbasis individu personal dan zaman.

Maka, IT tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, apalagi dijauhkan dari praktik pembelajaran. Saya sepakat dengan Lianto, bahwa saat ini, kita harus membangun paradigma “new IT”. Ialah membangun hubungan yang harmoni dalam kehidupan manusia dengan IT.

New IT mengajak kepada manusia, bahwa kita harus bisa memosisikan new IT sebagai alat transfer nilai atau kebijaksanaan. Tidak hanya sebagai alat hitung atau robot manusia. New IT harus dijadikan sebagai alat transfer sekaligus internalisasi nilai. Nilainya apa saja? Mari kita merenung…! [ahf]