GURU MERDEKA

Oleh Abdul Halim Fathani

TULISAN Saudara  Antonius Ferry Timur, seorang Konsultan Konsultan dan pemerhati pendidikan dasar, Direktur Yayasan Abisatya Yogyakarta, di Kolom Kompas berjudul “Guru dan Perannya dalam Kurikulum Merdeka”, yang terbit pada 25 November 2022 penting untuk menjadi pijakan para guru. Pijakan dalam mengimplementasikan kebijakan Mendikbudristek, kebijakan Kurikulum Merdeka.

Mas Mendikbud menegaskan bahwa Kurikulum Merdeka adalah terobosan yang membantu guru dan kepala sekolah mengubah proses belajar menjadi jauh lebih relevan, mendalam, dan menyenangkan. Kurikulum Merdeka dan platform Merdeka Mengajar diciptakan untuk mendorong perbaikan kualitas dan pemulihan dari krisis pembelajaran.

Kurikulum merdeka ini sebelumnya disebut sebagai kurikulum prototype. Dalam laman Kemendikbud, kurikulum merdeka ini dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik.

Adapun Karakteristik utama dari kurikulum merdeka, yang notabene mendukung pemulihan pembelajaran adalah: Pertama, Pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila; Kedua, Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi; dan Ketiga, Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Strategi

Pertanyaannya, bagaimana merealisasikan kurikulum merdeka tersebut? Mari kembali ke tulisan Antonius Ferry Timur. Ada hal menarik yang penting direnungkan. Antonius Ferry Timur menawarkan strategi pelaksanaan Kurikulum Merdeka, pemerintah menawarkan enam strategi, yaitu:

  1. Guru dan kepala sekolah belajar mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar
  2. Guru dan kepala sekolah belajar Kurikulum Merdeka dengan mengikuti Seri Webinar
  3. Guru dan kepala sekolah belajar Kurikulum Merdeka di dalam komunitas belajar
  4. Guru dan kepala sekolah belajar praktik baik melalui narasumber yang sudah direkomendasikan
  5. Guru dan kepala sekolah memanfaatkan Pusat Layanan Bantuan (Helpdesk) untuk mendapatkan informasi lebih
  6. Guru dan kepala sekolah bekerja sama dengan mitra pembangunan untuk implementasi

Keenam strategi yang ditawarkan Antonius Ferry Timur di atas, akan dapat membantu para guru untuk menerapkan dalam implementasi kurikulum merdeka di lembaga pendidikan masing-masing. Jelas, bahwa dalam implementasi di lapangan, guru tidak dapat hanya sendirian, tetapi harus didukung (bersama-sama) oleh kepala sekolah selaku pemegang kebijakan pendidikan.

Strategi yang ditawarkan pun sudah sangat teknis dan implementatif. Secara teoretik, mudah dan murah untuk diterapkan.

Tentang komitmen belajar mandiri melalui Platform Merdeka Mengajar, hal ini sudah ada. Tinggal mau atau tidak. Kemdikbudristek sudah menyediakannya dan dapat diakses oleh guru dan siapa saja yang mau. Klik: https://guru.kemdikbud.go.id/.

Yang lebih penting lagi, Siapa pun saja yang sudah “menjadikan” dirinya sebagai guru, maka harus senantiasa untuk terus mengembangkan diri. Pengembangan diri ini dapat ditempuh dengan banyak jalan. Bisa mengikuti berbagai kegiatan Seri Webinar. Aktif melalui komunitas belajar, seperti MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), IGI (Ikatan Guru Indonesia), atau komunitas belajar lainnya. Baik level sekolah, daerah, maupun nasional.

Di antara cara belajar “pengembangan diri” yang paling praktis adalah belajar dari “kesuksesan” guru lain. Guru dapat berbagi dengan guru lainnya perihal pengalaman baiknya dalam melaksanakan pembelajaran.

Kemudian, para guru harus senantiasa update informasi. Informasi apapun, yang dapat menginspirasi untuk pengembangan pendidikan-pembelajaran harus terus dikejar. Guru harus aktif menelusuri berbagai website-website pendidikan, keilmuan, pengembangan diri, dan sejenisnya.

Dan, yang terakhir, guru dan kepala sekolah harus membangun kerjasama dengan stakeholder dan mitra lain yang lebih luas. Hal ini penting dilakukan, agar guru dapat menyiapkan generasi muda yang bisa relevan dengan kebutuhan zaman, termasuk kebutuhan masyarakat.

Walhasil, keenam strategi di atas penting dan mendesak untuk diimplementasikan dan harus menjadi komitmen oleh masing-masing individu para guru. Jikalau keenam strategi di atas benar-benar diimplementasikan, penulis yakin, pendidikan kita, pendidikan Indonesia tercinta akan menemukan “hasil” yang memiliki nilai luar biasa. Manfaat dan adaptif dengan perubahan.

Tetapi, ada satu hal yang masih menjadi tantangan kita semua. Guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka harus dibangun dengan semangat pola pikir tumbuh (growth mindset). Bukan pola pikir yang tetap (fixed mindset). Inilah tantangan kita semua para guru, termasuk saya sendiri. Yang jelas, mari, kita bersama-sama menjadi guru yang terus belajar dan belajar sepanjang hayat. [ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *