PAGI PENGAJAR, PETANG PENGARANG

ABDUL HALIM FATHANI

GURU merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tugas unik. Guru memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kemajuan dan perkembangan dinamis yang terjadi di masyarakat. Kegiatan pembelajaran di kelas yang merupakan interaksi formal-minimal antara guru dan siswa merupakan miniatur pembelajaran sesungguhnya yang terjadi dalam kehidupan.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditegaskan bahwa Guru merupakan profesi. Undang-undang tersebut mengamanatkan fungsi, peran, dan kedudukan guru sangat yang strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.

Konsekuensi dari pengakuan guru sebagai profesi adalah –salah satunya– menjadi guru harus dilakukan secara serius dengan sepenuh hati. Untuk mendukung tercapainya itu, setiap guru harus memiliki tekad kuat untuk terus mengembangkan kemampuan “keguruannya”. Sebagaimana penegasan Mulyana (2010:116) dalam buku “Rahasia Menjadi Guru Hebat” yang menguraikan bahwa seorang guru wajib melakukan kegiatan pengembangan yang berkaitan langsung dengan dunianya, sehingga guru dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Aktivitas yang sebaiknya diikuti guru untuk meningkatkan kualitasnya, antara lain: 1) mengikuti pendidikan profesi; 2) meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas; 3) melakukan kegiatan pengembangan profesi secara berkelanjutan; dan 4) meningkatkan kualitas diri dengan mengembangkan keterampilan.

Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, secara bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas guru (Kemdikbud, 2012:5). Menurut Permenneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009, unsur kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan meliputi: pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. Kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan tersebut harus dilaksanakan secara berkelanjutan, agar profesionalisme guru dapat selalu meningkat dan berkembang.

Salah satu unsur kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan yang perlu mendapatkan porsi perhatian lebih adalah publikasi ilmiah. Pada umumnya, guru memiliki kemampuan rendah di bidang publikasi ilmiah, akibat dari rendahnya kemampuan dan motivasi untuk menulis karya ilmiah. Dalam dokumen Kemdikbud (2012:13), diuraikan bahwa publikasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah mencakup 3 (tiga) kelompok, yaitu: presentasi pada forum ilmiah, publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal, dan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau pedoman guru.

Kegiatan publikasi ilmiah, termasuk di dalamnya adalah penulisan karya ilmiah merupakan kegiatan yang sangat penting bagi seorang guru profesional. Tentu, kegiatan ini tidak saja perlu dilakukan dalam rangka memperoleh angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan, tetapi terlebih lagi perlu dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran di kelas, kualitas layanan kepada anak didik, dan juga peningkatan profesionalisme guru itu sendiri.
Guru profesional bukanlah guru yang mahir melakukan fungsi terkait dengan kompetensi pedagogis ansich, tetapi guru juga harus memiliki kemampuan untuk melakukan fungsi yang terkait dengan kompetensi kepribadian, sosial, dan keprofesionalan, yang antara lain ditandai dengan peningkatan profesionalisme diri melalui menulis karya ilmiah dan mempublikasikannya.

Dengan demikian, bagi guru kegiatan penulisan dan publikasi karya ilmiah merupakan suatu keniscayaan. Secara sederhana, untuk mendukung kegiatan tersebut, maka tidak ada alasan lain, kecuali segera bergerak untuk memulai. Satu hal yang bisa dilakukan, ya langsung mulai menulis dari sekarang juga. Menulis, menulis, dan menulis. Menulis lalu mempublikasikannya. Hal ini tentu akan dapat meningkatkan profesionalisme bagi guru. Sehingga terjadi peningkatan kualitas guru yang berdampak pada kualitas mutu pendidikan dan lulusan yang dihasilkan.

Teladan Literasi bagi Guru

Ketika berkesempatan mengedit buku yang ditulis Pak Emcho, sapaan akrab Much. Khoiri, Dosen Universitas Negeri Surabaya, saya merasakan sangat bahagia. Saya mendapatkan suatu hal baru yang sangat bermanfaat bagi kehidupan saya, yang setiap harinya sebagai pendidik. Dalam Bab, 1, Pak Emcho, memaparkan ungkapan pengarang Mesir, Naguib Mahfouz.
Ungkapan tersebut berbunyi: “I was a government employee in the morning and a writer in the evening.” (Saya seorang pegawai negeri di kala pagi dan penulis/pengarang di kala petang). Oleh Pak Emcho, ungkapan ini diadopsi dalam judul buku yang ditulisnya, menjadi: “Pagi Pegawai, Petang Pengarang”.

Dalam penjelasannya dalam buku tersebut, Pak Emcho menguraikan bahwa ungkapan di atas telah menyatu padu dalam kehidupan Mahfouz. Dia pernah bekerja sebagai pegawai negeri di perpustakaan Departemen Kebudayaan hingga pensiun tahun 1971. Setiap hari ia menunaikan tugas pelayanan perpustakaan dengan segenap hati. Profesi utama ini, tentulah, untuk menyangga kehidupan keluarganya. Di sela-sela tugas, untungnya, dia bisa membaca sepuas-puasnya, ibarat mengarungi samudera pengetahuan tak berbatas.

Begitu pulang dan memasuki rumahnya, Mahfouz berganti profesi. Dia tanggalkan profesinya sebagai pegawai, dan berganti menjadi seorang pengarang. Katanya, dia memulai menulis sejak dia masih kanak-kanak. Itu karena dia membaca buku-buku yang dikaguminya, dan dia berpikir untuk bisa menulis buku-buku semacam itu kelak. Juga, cintanya akan tulisan bagus yang telah mendorongnya selalu menulis. Sejarah mencatat, selama puluhan tahun Mahfouz menulis karya sastra yang bagus.

Lebih lanjut, Pak Emcho, mengaku bahwa Profesi ganda yang Mahfouz jalani ini telah begitu kuat menginspirasinya untuk diadopsi dalam kehidupannya. Itu karena –menurut Pak Emcho– -saya sangat mengaguminya—dan ungkapan itu pas dengan kondisi saya. Saya seorang dosen dan menulis—artinya saya dalam posisi sama dengan Mahfouz.

Maka, tidak heran jika Pak Emcho yang setiap harinya sebagai Dosen di Universitas Negeri Surabaya sejak beberapa tahun terakhir ini, menggunakan ungkapan Mahfouz sebagai obor penyemangat untuk menjalani profesinya sebaik-baiknya. Dia berguru padanya dalam menghayati profesi sebagai dosen dan proses kreatifnya selama ini.

Walhasil, saya, para guru termasuk para pembaca pada umumnya penting untuk meneladani “karakter” Mahfouz, termasuk “karakter” Pak Emcho di atas. Memang, Mahfouz terlalu hebat, kalau harus kita teladani sepenuhnya (bahasa matematikanya diteladani sebesar 100%). Termasuk, karena jam kerja kita berbeda dengan jam kerja Mahfouz.
Namun, ada hikmah positif yang bisa kita ambil pelajaran dari uraian di atas. Apa pun profesi kita, kita harus memiliki komitmen untuk terus berkembang. Untuk guru, tentu tidak boleh berhenti belajar, tetap harus mengembangkan diri, salah satunya dengan berkarya. Berkarya melalui menulis. Terlebih, guru bisa memainkan profesi ganda. Pagi sebagai pengajar (pendidik), petang sebagai penulis. Dengan berprofesi sebagai penulis, secara otomatis guru akan berkembang kemampuannya. Mari mengajar (mendidik), mari menulis. (*)