BERPIKIR POSITIF DALAM PEMBELAJARAN

Abdul Halim Fathani

Fakta di lapangan, masih terdapat sebagian siswa yang memiliki pikiran negatif terhadap pelajaran yang dipelajari di sekolah. Pikiran negatif ini bisa berdampak pada menurunya motivasi untuk belajar, rendahnya prestasi siswa, dan sebagainya. Tidak ada jalan lain, kecuali segera putar balik, ialah dengan mengubah paradigma dari berpikir negatif menjadi berpikir positif. Perubahan paradigma berpikir positif ini akan menjadi kekuatan baru bagi siswa dalam belajar dan mengikuti proses pembelajaran secara utuh.

Sebagaimana pendapat Ibrahim Elfiky (2014:207) dalam bukunya berjudul “Terapi Berpikir Positif“menegaskan bahwa berpikir positif adalah sumber kekuatan dan sumber kebebasan. Disebut sumber kekuatan karena ia membantu Anda memikirkan solusi sampai mendapatkannya. Dengan begitu Anda bertambah mahir, percaya, dan kuat. Disebut sumber kebebasan karena dengannya Anda akan terbebas daari penderitaan dan kungkungan pikiran negatif serta pengaruhnya pada fisik.

Untuk menelusuri lebih jauh tentang fakta dalam dunia pendidikan dan pembelajaran yang mendukung pendapat Elfiky tersebut, berikut diuraikan hasil penelitian yang mengukuhkan bahwa berpikir positif merupakan sumber kekuatan.

Pertama, Hasil penelitian Nurmayasari dan Murusdi (2015) menunjukkan bahwa berpikir positif secara empirik memiliki hubungan negatif terhadap perilaku menyontek. Oleh karena ini disarankan kepada subjek penelitian atau siswa untuk mengingkatkan kemampuan berpikir positif guna meminimalisir terjadinya perilaku menyontek. Hal-hal yang dapat dilakukan siswa untuk memciptakan atau meningkatkan kemampuan berpikir positif adalah dengan selalu bersyukur, memilih teman-teman yang supotif, mengambil tanggung jawab atas diri sendiri, ubah “tidak bisa” menjadi “bisa”, menentukan tujuan, selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian dan selalu berbuat baik. (EMPATHY, Jurnal Fakultas Psikologi Vol. 3, No 1, Juli 2015).

Siswa yang mempunyai kemampuan untuk berpikir positif akan bersikap positif dan berkeyakinan bahwa dirinya mampu mengerjakan tugas-tugas dan ujian di sekolah. Sikap positif dan keyakinan pada kemampuan diri sendiri pada akhirnya membangun harapan akan kesuksesan yang lebih besar. Siswa dengan pikiran positif akan lebih yakin pada kemampuan sendiri dibandingkan dengan kemampuan orang lain sehingga ia tidak akan menyontek dengan bersandar dan mengandalkan orang lain untuk mengerjakan ujian dan tugas-tugas akademik sekolah. Jadi, dapat disimpulkan “Semakin tinggi berpikir positif maka akan semakin rendah perilaku menyontek, sebaliknya semakin rendah berpikir positif maka akan semakin tinggi perilaku menyontek”.

Kedua, Hasil penelitian Pangastuti (2014) menunjukkan bahwa ada pengaruh pelatihan berpikir positif untuk menurunkan kecemasan dalam menghadapi ujian nasional (UN) pada siswa kelas XII SMA. Hasil ini diperoleh dari skor kelompok kontrol dan eksperimen pada skor pos tes terjadi perbedaan yang signifikan pada subjek dilihat dari skor 0,000 (p<0,05) dan kelompok eksperimen terjadi perbedaan yang signifikan pada subjek dilihat dari skor pre tes dan pos tes yaitu 0,000 (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kecemasan dalam menghadapi UN yang signifikan pada siswa SMA yang ikut pelatihan berpikir positif dengan siswa SMA yang tidak ikut pelatihan berpikir positif. Jadi, siswa SMA yang ikut pelatihan berpikir positif tingkat kecemasan menghadapi UN lebih rendah dibandingkan siswa SMA yang tidak ikut pelatihan berpikir positif. (PERSONA, Jurnal Psikologi Indonesia. Januari 2014, Vol. 3, No. 01).

Berpijak dari dua hasil penelitian di atas, dapat meyakinkan kepada kita semua, bahwa dengan berpikir positif, maka akan berdampak positif pula. Jelas ada perbedaan, bagi siswa yang berpikir positif dan yang berfikir negatif. Siswa yang berpikir positif akan terbukti unggul. Mereka memiliki kekuatan untuk menjadi unggul. Jadi, mari selalu berpikir positif. [ahf]

ABDUL HALIM FATHANI
Dosen Pendidikan Matematika FKIP Universitas Islam Malang. Aktif di Komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN) dan Forum Literasi Matematika (for LIMA).

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/156134/20170910/125007/berpikir-positif-dalam-pembelajaran/