MENYINGKAP MITOS MATEMATIKA

ABDUL HALIM FATHANI

SEJARAH menunjukkan bahwa matematika memang dibutuhkan manusia. Dapatkah kita membayangkan bagaimana dunia yang dihuni manusia ini seandainya matematika tidak ada? Dapatkah kita mendengarkan radio, menyaksikan tayangan di televisi, naik kereta api, mobil atau pesawat terbang, memanfaatkan kecanggihan teknologi komputer, berkomunikasi, ber-sms-an lewat telepon atau handphone (HP), dan lain sebagainya?

Dapatkah kita membayangkan kacaunya dunia ini seandainya orang tidak bisa berhitung secara sederhana, tidak bisa memahami ruang di mana dia tinggal, tidak bisa memahami harga suatu barang di supermarket? Apa yang terjadi seandainya orang Malang mengatakan 3 X 4 = 12, sedangkan orang Surabaya berpendapat 3 X 4 = 1000 (harga afdruk foto), atau kejadian-kejadian yang lain.

Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang harus dikuasai setiap manusia, terutama oleh siswa sekolah. Sebab sesuai dengan gambaran di atas, ternyata matematika tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Matematika selalu mengalami perkembangan yang berbanding lurus dengan kemajuan sains dan teknologi. Hal yang demikian, kebanyakan tidak disadari oleh sebagian siswa yang juga disebabkan minimnya informasi mengenai apa dan bagaimana sebenarnya matematika itu.

Dampaknya, akan berakibat buruk terhadap proses belajar siswa, yakni mereka hanya belajar matematika dengan hanya mendengarkan penjelasan dari seorang guru, menghafalkan rumus yang sudah jadi, lalu memperbanyak latihan soal-soal dengan menggunakan rumus yang sudah dihapalkan, tetapi tidak pernah ada usaha untuk memahami dan mencari makna yang sebenarnya tentang hakikat dan tujuan pembelajaran matematika itu sendiri.

Matematika berkembang seiring dengan peradaban manusia. Sejarah ilmu pengetahuan menempatkan matematika pada bagian puncak hierarki ilmu pengetahuan. Matematika seolah-olah menjadi ratu bagi ilmu pengetahuan, peletakan yang demikian –menurut anggapan kebanyakan orang- menimbulkan mitos bahwa matematika adalah penentu tingkat intelektual seseorang. Jika seseorang tidak mengerti matematika, maka berarti mereka tidak disebut orang pintar. Padahal kepintaran seseorang itu bermacam-macam, ada yang sangat jenius dalam bidang sains, dan yang lain jenius di bidang seni, namun tidak mengerti matematika sama sekali.

Mitos yang demikian, selanjutnya berimplikasi membentuk mitos-mitos lainnya. Karena dianggap sebagai penentu intelektual seseorang, tidak heran jika matematika dijadikan sebagai alat standar untuk tes-tes intelektual atau penempatan. Matematika selalu hadir pada ruang-ruang tes untuk menyeleksi tingkat kemampuan seseorang. Akibatnya, matematika selalu berhubungan dengan penyelesaian yang dibatasi waktu dan melibatkan perhitungan-perhitungan.

Di samping itu, masyarakat juga memiliki persepsi (mitos) negatif terhadap matematika. Sebagaimana yang dikemukakan Frans Susilo dalam artikelnya “Matematika Humanistik” yang dimuat Majalah Basis Edisi No. 07-08, Tahun ke-53, Juli-Agustus 2004, bahwa kebanyakan sikap negatif terhadap matematika timbul karena kesalahpahaman atau pandangan yang keliru mengenai matematika. Untuk memahami matematika secara benar dan sewajarnya, pertama-tama perlu diklarifikasi terlebih dahulu beberapa mitos negatif terhadap matematika. Beberapa di antara mitos tersebut, antara lain:

Pertama, anggapan bahwa untuk mempelajari matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak dimiliki setiap orang. Kebanyakan orang berpandangan bahwa untuk dapat mempelajari matematika diperlukan memiliki kecerdasan yang tinggi, akibatnya bagi mereka yang merasa kecerdasannya rendah mereka tidak termotivasi untuk belajar matematika.
Kedua, bahwa matematika adalah ilmu berhitung. Kemampuan berhitung dengan bilangan-bilangan memang tidak dapat dihindari ketika belajar matematika. Namun, pada hakikatnya berhitung hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan isi matematika. Selain mengerjakan penghitungan-penghitungan, orang juga berusaha memahami mengapa penghitungan itu dikerjakan dengan menggunakan suatu cara tertentu.

Ketiga, bahwa matematika hanya menggunakan otak. Aktivitas matematika memang memerlukan logika dan kecerdasan otak. Namun, logika dan kecerdasan saja tidak mencukupi. Untuk dapat berkembang, matematika sangat membutuhkan kreativitas dan intuisi manusia seperti halnya seni dan sastra. Kreativitas dalam matematika menyangkut akal-budi, imajinasi, estetika, dan intuisi mengenai hal-hal yang benar. Para matematikawan biasanya memulai mengerjakan penelitian dengan menggunakan intuisi, dan kemudian berusaha membuktikan bahwa intuisi itu benar. Kekaguman pada segi keindahan dan keteraturan sering kali juga menjadi sumber motivasi bagi para matematikawan untuk menciptakan terobosan-terobosan baru demi pengembangan matematika. Atau dengan kata lain, untuk dapat mengembangkan matematika tidak hanya dibutuhkan kecerdasan menggunakan otak kiri saja, melainkan juga harus mampu menggunakan otak kanannya secara seimbang.

Mitos keempat, bahwa yang paling penting dalam matematika adalah jawaban yang benar. Jawaban yang benar memang penting dan harus diusahakan. Namun, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana prosesnya untuk memperoleh jawaban yang benar. Dengan kata lain, dalam menyelesaikan pelbagai persoalan matematika, yang lebih penting adalah proses, pemahaman, penalaran, dan metode yang digunakan dalam menyelesaikan persoalan tersebut sampai akhirnya menghasilkan jawaban yang benar.

Kelima, bahwa kebenaran matematika adalah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi. Kebenaran matematika tergantung pada kesepakatan awal yang disetujui bersama yang disebut ‘postulat’ atau ‘aksioma’. Bahkan ada anggapan bahwa tidak ada kebenaran (truth) dalam matematika, yang ada hanyalah keabsahan (validity), yaitu penalaran yang sesuai dengan aturan logika yang digunakan manusia pada umumnya.

Pelbagai mitos negatif terhadap matematika sebagaimana di atas, seyogianya tidak dijadikan alasan sepenuhnya –oleh siapa pun- yang berupaya menghindari matematika. Sebaliknya, kita harus berupaya untuk “melawan” mitos tersebut, sehingga tidak lagi menjadi fobia terhadap matematika. Dengan demikian, kita akan terus berupaya lebih akrab dan terus memempelajari matematika. Tentunya, materi matematika yang dipelajari harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan setiap individu manusia. Bahkan, cara mempelajarinya pun tidak sama. [ahf]

ABDUL HALIM FATHANI
Dosen Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Islam Malang. Anggota Forum Literasi Matematika (forLIMA).

Sumber: https://www.timesindonesia.co.id/read/155682/20170904/111538/menyingkap-mitos-matematika/