KETIKA SANTRI BELAJAR MATEMATIKA

Abdul Halim Fathani

MATEMATIKA, penting dipelajari. Tidak hanya oleh siswa sekolah saja, melainkan juga para santri yang sedang belajar di pesantren. Apakah santri membutuhkan matematika? Tentu butuh. Beberapa ilmu yang dipelajari para santri di pesantren jelas membutuhkan ilmu matematika (biasanya matematika dasar). Sebut saja, misalnya ketika belajar Ilmu Faraidh, Ilmu Falak, Ilmu Pembagian Zakat, atau yang sejenisnya. Jadi, tidak ada alasan lagi para santri untuk tidak menyenangi (baca: belajar) matematika.

Namun, dalam realitanya, tidak semua pesantren mengajarkan matematika kepada para santri. Lantas bagaimana para santri bisa faham akan materi yang terkandung dalam ilmu faraidh, ilmu falak, yang jelas-jelas membutuhkan pemahaman akan matematika tingkat dasar? Memang, materi matematika dasar yang dimaksud di sini adalah materi aritmetika.

Materi aritmetika ini sudah dipelajari oleh siapapun yang pernah mengenyam bangku sekolah tingkat dasar (SD). Sehingga, bisa diasumsikan bahwa siapapun santrinya, sudah disimpulkan memahami materi matematika yang dibutuhkan tersebut. Sehingga, tidak heran jika beberapa pesantren, menganggap tidak perlu lagi “mengadakan” pelajaran matematika di pesantren.

Masalahnya, belum bisa dipastikan semua santri “dipastikan” memahami materi matematika yang dibutuhkan tersebut. Seorang guru (baca: ustadz/kyai) yang mengajar ilmu faraidh, ilmu falak, atau sejenisnya, tentu tidak bisa (boleh) menyalahkan santrinya, jika ada santri yang memang benar-benar belum memahami matematika. Memang, tugas guru tidak bisa menyalahkan, apalagi santri tersebut sewaktu sekolah juga sudah berikhtiar (belajar) dengan sungguh-sungguh secara maksimal.

Dalam kondisi yang lain, sungguh kasihan juga bagi santri yang dulu sewaktu sekolah (tingkat SD) berada dalam kondisi yang tidak nyaman untuk belajar matematika, sehingga mereka sampai merasa “alergi” dengan matematika. Menghadapi kenyataan inilah, sungguh kehadiran guru justru diharapkan menjadi “obat” penghilang alergi tersebut. Tantangan bagi guru adalah bagaimana bisa menghadirkan matematika yang dapat diterima oleh mereka –yang pernah memiliki pengalaman kurang baik terhadap matematika.

Bagaimana solusinya? Melalui artikel pendek ini, penulis ingin menawarkan contoh solusi alternatif mengatasi situasi tersebut. Solusinya adalah “Dekati santri tersebut dengan sesuatu yang disukai”. Secara umum, santri, tentu akan senang jika diajak untuk mempelajari al-Qur’an, mengkaji al-Qur’an, dan sejenisnya. Di sela-sela belajar al-Qur’an tersebut, guru dapat mengambil satu topik al-Qur’an untuk dikaji dari perspektif matematika. Misalnya mengajak santri untuk memahami operasi penjumlahan bilangan melalui belajar al-Qur’an.

Operasi penjumlahan dalam al-Quran dapat dilihat dari surat al-Baqarah ayat 196.

Artinya: “…Apabila kamu telah merasa aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umroh sebelum haji (dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembai. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna…”.

Dalam ayat tersebut, bilangan 10 dinyatakan dengan 3 + 7.

Perhatikan pula surat al-Kahfi ayat 25.
Artinya: “dan mereka tinggal dalam gua mereka selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”.

Pada ayat tersebut 309 dinyatakan dengan 300 + 9.

Juga pada surat al-A’raf) ayat 142, yang artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam…” . Ayat ini menunjukkan bahwa 30 + 10 = 40.
Itulah contoh belajar matematika materi penjumlahan dengan menggunakan Al-Qur’an sebagai materi kajiannya. Dengan model pembelajaran seperti ini, diyakini mampu membangkitkan semangat para santri untuk memahami matematika (yang dibutuhkan). Di samping itu, belajar seperti ini juga memberi nilai plus bagi santri, karena bisa lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, yakni dengan merasakan bahwa al-Qur’an benar-benar mukjizat yang agung.

Materi matematika yang diintegrasikan dengan al-Qur’an, sungguh, sangat luas sekali. Untuk operasi bilangan saja, masih ada operasi pengurangan, perkalian, pembagian. Lalu, materi himpunan, jenis-jenis bilangan, logika, persamaan linear, dan seterusnya, juga bisa kita temukan konsepnya, dalam al-Qur’an. Subhanallah. Mari mengaji al-Qur’an, mari mengkaji matematika. [ahf].

Tulisan ini dimuat di: http://m.timesindonesia.co.id/read/149992/20170611/103155/ketika-santri-belajar-matematika/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *