WISUDA

SETIAP kali pelaksanaan wisuda (baik program diploma, sarjana, maupun pascasarjana) kita selalu menyaksikan suasana kegembiraan dan kebahagiaan yang menyelimuti hati para wisudawan dan para keluarganya, atau bahkan juga calon keluarga barunya. Mengapa gembira dan bahagia? Di antara penyebabnya adalah karena telah berhasil mengenyam pendidikan dan mengikuti segala proses pembelajaran dalam perkuliahan atau persekolahan yang sudah menguras energi yang tidak sedikit.

Sehingga dengan pelaksanaan wisuda, berarti secara formal- menunjukkan bahwa proses perkuliahan secara formal telah usai. Selanjutnya adalah mengamalkan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah dalam kehidupan realitas di masyarakat.

Tidak hanya itu, bagi wisudawan yang spesial” akan bertambah lagi kegembiraannya. Karena pada kesempatan itu, pimpinan perguruan tinggi akan memberikan penghargaan (baca: pengakuan) kepada wisudawan terbaik. Wisudawan terbaik yang diberikan penghargaan ini merupakan wisudawan yang memiliki IPK (indeks prestasi kumulatif) tertinggi. Sehingga, tidak mengherankan jika peraih penghargaan ini sangat senang pada kesempatan itu.

Namun, apakah wisudawan dengan IPK tertinggi yang telah mendapat penghargaan langsung dari Rektor (baca: pimpinan perguruan tingggi) tersebut akan berakibat pada kesuksesan dalam masa depannya nanti? Jawabannya bisa bermacam-macam. Bisa ya, bisa juga tidak. Kadang saya sendiri menyaksikan, banyak wisudawan yang tidak mendapatkan penghargaan, karena IPK-nya pas-pasan atau justeru IPK-nya di bawah standar, namun mereka ternyata sudah bekerja di salah satu perusahaan atau lembaga tersohor. Ada juga yang sudah bermental entrpreneur dengan membangun usaha sendiri bermodalkan ilmu seadanya yang telah dipelajari di bangku kuliah.
Sementara bagi wisudawan yang mendapat IPK tertinggi dan telah mendapat penghargaan dari Rektor (baca: pimpinan perguruan tingggi), ternyata ada juga yang masih bingung. Ke mana setelah ini? Mau melanjutkan studi, terkendala biaya pendidikan. Mau bekerja, harus mengikuti serangkaian tes dan juga belum tentu diterima. Karena, ternyata dalam tes tersebut, tidak hanya dilihat berapa besar IPK-nya saja. Tetapi lebih dari itu, yang dilihat justru kemampuan problem solvingnya. Itulah keunikan sang juara IPK tertinggi. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah, tidak semua wisudawan dengan IPK tertinggi bernasib buruk seperti itu. Begitu juga, bagi wisudawan dengan IPK pas-pasan atau malah di bawah standar, juga tidak selamanya selalu berpihak pada nasib kebetulan baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *