NYONTEK, JUJUR, NILAI

Abdul Halim Fathani

SALAH satu bidang garapan dunia pendidikan yang sampai hari ini masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) besar adalah pelaksanaan pendidikan karakter. Sekilas pekerjaan ini tergolong sederhana namun amat berat. Sederhana karena hampir setiap orang sudah tahu seluk-beluk Pendidikan karakter. Tetapi bisa disimpulkan berat, karena pelaksanaan pendidikan karakter ini tidak bisa instan. Butuh proses waktu yang tidak singkat. Bahkan hasilnya pun kadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Salah satu praktik dalam dunia nyata yang seringkali terjadi dan terus berulang adalah pelaksanaan ujian sekolah, yang biasanya sarat dengan praktik ketidakjujuran. Bahkan, ada sebagian pihak yang masih memiliki pandangan bahwa praktik curang dalam ujian adalah suatu hal yang masih dalam batas kewajaran. Mereka menganggap sebagai suatu hal yang sudah biasa.

Berikut, kami paparkan hal-hal yang terkait dengan praktik menyontek, ketidakjujuran, dan penilaian. Diantaranya;
1. Sebagian siswa meyakini bahwa kalau nyontek, maka peluang untuk mendapatkan nilai bagus besar sekali. Tetapi praktik seperti ini adalah hal yang tidak jujur.
2. Sebagian siswa tetap berpegang teguh pada praktik yang mengedepankan kejujuran, ialah tidak akan menyontek, dan dimungkinkan memiliki nilai buruk.
3. Siswa jujur, dengan tidak menyontek, dan tetap rajin dan semangat belajar. Dan juga, mendapatkan nilai yang bagus pula.
4. Dan lainnya

Jadi Pendidikan karakter itu bukan sekadar dalam tataran teoritis saja. Namun lebih dari itu, untuk pelaksanaan pendidikan karakter seyogianya dilaksanakan secara terintegratif dalam praktik dunia nyata. Jika memiliki karakter yang baik, maka pekerjaan ini pasti akan sukses terus. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *