KETIKA PERPUSTAKAAN (MENJADI) SEPI

Abdul Halim Fathani

DULU, ketika sedang menyelesaikan kuliah di S-1, saya memiliki kebiasaan untuk berkunjung ke perpustakaan. Dari perpustakaan satu ke perpustakaan lainnya. Baik perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan kota Malang.

Saat itu, saya memiliki Kartu sakti perpustakaan. Kartu ini bisa saya gunakan untuk berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi yang tergabung dalam FKPPT (Forum Komunikasi Perpustakaan Perguruan Tinggi). Dengan bermodalkan kartu sakti tersebut, akhirnya saya berkesempatan untuk berkunjung ke perpustakaan, di antaranya perpustakaan UM, UB, UNAIR, ITS, UNESA, UIN SURABAYA. Saya senang karena bisa memperkaya wawasan dan referensi pengetahuan yang sesuai dengan bidang keilmuan saya.

Ketika berkunjung ke perpustakaan, saya selalu menelusuri buku-buku terbaru yang menarik untuk dibaca. Apabila ada buku yang menarik, maka sikap saya adalah: harus segera memiliki sendiri. Buku-buku yang saya pinjam, tidak saya batasi hanya pada buku matematika saja. Tetapi saya perluas, seperti buku-buku Pendidikan, humaniora, agama populer, psikologi, dan sebagainya.

Lalu, sekarang bagaimana? Hemat saya, untuk posisi perpustakaan dewasa ini, tidak boleh lagi hanya senang ketika ramai dikunjungi banyak mahasiswa. Perpustakaan sekarang, seharusnya sepi dari pengunjung. Lho, kok bisa? Saat ini, penelusuran referensi akan lebih cepat menggunakan mesin pencari di internet, seperti Google, Yahoo.

Jadi, jika mahasiswa sudah familiar dengan mesin pencari tersebut, maka konsekuensi logis adalah perpustakaan fisik, akan lambat lain ditinggalkan pengunjung. Demikian juga, perpustakaan perguruan tinggi akan menjadi sepi, karena karakter yang harus dibangun oleh para dosen adalah memberikan motivasi dan dorongan kepada mahasiswa, agar memiliki mental untuk menjadi pemilik atau pengoleksi buku. Bukan sebagai peminjam buku. So, ayo berlomba-lomba memiliki buku, ayo dengan cepat melakukan search engine online. Jika hal ini telah nyata menjadi komitmen, maka tiada lain jawabannya adalah melakukan inovasi-inovasi terbaru untuk masa depan perpustakaan. [ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *