MEMPROMOSIKAN KELEBIHAN, MENGUBUR KELEMAHAN

Abdul Halim Fathani

Setiap individu manusia memiliki delapan kecerdasan, yang menurut Gardner dinamakan Kecerdasan Jamak. Ada individu yang unggul dalam kecerdasan linguistik, ada yang di bidang kecerdasan matematik, musik, kinestetik, dan lainnya. Thomas Armstrong menyatakan bahwa kedelapan kecerdasan yang dicetuskan Gardner tersebut berfungsi secara bersamaan dengan cara yang berbeda-beda -belum tentu sama- dalam diri setiap individu.

Hasil penelitian Thomas Armstrong sebagaimana yang diurai dalam buku “Sparking Creativity in Your Child”, menyatakan bahwa banyak tokoh genius bahkan memiliki kelemahan yang cukup parah. Lingkungan yang tidak melihat kelemahan itu sebagai kendala untuk terus belajar dan meraih sukses, berhasil mendorong proses belajar si calon tokoh untuk menemukan kondisi akhir terbaiknya (special moment). Hasilnya, tokoh-tokoh tersebut berhasil mengembangkan kecerdasan mereka dan berhasil memberi manfaat untuk orang banyak.

Berpijak pada pendapat inilah, terinspirasi dari paradigma pembelajaran kecerdasan jamak, setiap individu manusia dituntut untuk selalu mempromosikan kemampuan atau kelebihan dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan. Penulis berharap semoga tulisaan ini dapat menginspirasi bagi para pendidik, calon pendidik, orang tua, pemerhati pendidikan, dan siapa pun, bahwa individu setiap manusia tidak ada yang bodoh. Tetapi mereka harus diberi kesempatan untuk berkembang menggunakan potensi kecedasannya. Selanjutnha, marilah kita merenungkan kata bijak yang dibuat oleh Howard Gardner: “Cara yang seragam dalam mengajar dan menguji jelas tidak memuaskan karena setiap orang itu sangat berbeda”.