SETIAP KITA ADALAH PENULIS (TELADAN DARI SAHABAT PENA NUSANTARA)

Abdul Halim Fathani

SETIAP individu itu cerdas. Itulah pernyataan seorang pakar kecerdasan Thomas Armstrong. Di sisi lain, Howard Gardner menegaskan bahwa setiap individu memiliki banyak ragam kecerdasan. Jelasnya, tidak ada istilah manusia yang tidak cerdas. Paradigma ini menentang teori dikotomi yang menyatakan ada individu yang cerdas dan tidak cerdas. Gardner juga menentang anggapan “cerdas” dari sisi IQ (intelligence quotient), yang hanya mengacu pada tiga jenis kecerdasan, yakni matematik, linguistik, dan spasial.

Gardner merumuskan ada delapan kecerdasan yang dimiliki setiap individu. Kedelapan kecerdasan tersebut memiliki derajat yang tidak sama, antar satu individu dengan individu lainnya. Ada kecerdasan linguistik, matematik, spasial, musik, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan naturalis. Sebenarnya, ada satu lagi kecerdasan, yakni kecerdasan eksistensial. Namun, Gardner masih belum menyatakan dengan tegas, sebagai sebuah kecerdasan baru, kecerdasan kesembilan. Karenanya, katakan saja kecerdasan eksistensial sebagai kecerdasan yang ke delapan setengah (8,5).
Nah, sekarang pertanyaannya, individu yang cerdas dalam menulis (penulis) itu termasuk kelompok ragam kecerdasan yang mana? Menulis, merupakan aktivitas yang memiliki kata kunci “kata atau tulisan”. Kecerdasan yang berkaitan erat dengan “kata-kata beserta dengan aturan-aturannya” adalah kecerdasan linguistik. Dengan demikian, dapat kita simpulkan seorang penulis adalah individu yang berkecerdasan linguistik.

Lebih lanjut, Gardner merinci seorang individu yang cerdas linguistik itu memiliki kemampuan: berbicara yang baik dan efektif, cenderung dapat mempengaruhi orang lain melalui kata-katanya, suka dan pandai bercerita serta melucu dengan kata-kata, terampil menyimak dan suka bermain bahasa, cepat menangkap informasi lewat kata-kata, mudah hafal kata-kata, memiliki kosakata yang relatif banyak, cepat mengeja kata-kata, berminat terhadap buku (membuka-buka, membawa, mengoleksi), dan cepat membaca dan menulis.

Dari uraian tersebut, hemat saya –dengan merujuk pada pendapat Gardner- setiap seorang penulis adalah individu yang cerdas linguistik. Grup literasi “Sahabat Pena Nusantara (SPN) yang dipimpin Sdr. M Husnaini merupakan grup yang beranggotakan individu yang memiliki komitmen tinggi dalam hal tulis-menulis.
Terbukti ada kewajiban khusus yang harus dipenuhi setiap anggota, ialah setiap bulan wajib (ain) untuk membuat karya tulisan, berupa artikel pendek. Tulisan ini disusun berdasarkan tema yang telah disepakati pada setiap bulannya. Bagi yang tidak setor tulisan –tiga bulan–, maka konsekuensinya adalah “dikeluarkan” dari grup SPN. Karena anggota grup SPN memiliki aktivitas yang erat kaitannya dengan tulisan, maka tidak berlebihan jika, saya katakan bahwa setiap anggota SPN adalah cerdas linguistik.

Sebagaimana pendapat Gardner, setiap kita adalah pribadi yang cerdas. Uraian di atas menegaskan bahwa kita –anggota grup sahabat pena nusantara (SPN)- merupakan individu yang cerdas. Kalau tadi dinyatakan bahwa setiap anggota SPN adalah cerdas linguistik, tapi kita memiliki perbedaan. Cerdas linguistik yang dimaksud tidak selalu berada di urutan pertama. Masing-masing berbeda. Kita tahu, bahwa anggota SPN diisi oleh individu yang sangat variatif; lintas generasi, lintas disiplin keilmuan, lintas aliran, dan sejenisnya.

Dalam konteks latar belakang keilmuan, ada anggota yang berasal dari keilmuan Biologi, keilmuan ilmu sosial, eksakta, musik, agama, dan masih banyak ragam lainnya. Variasi keilmuan tersebut tentu menggambarkan bahwa kecerdasan ranking pertama masing-masing anggota SPN, tentu sangat beragam pula. Ada yang cerdas musik, cerdas naturalis, cerdas spasial, cerdas matematik, cerdas linguistik, dan lainnya.

Tetapi satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa setiap anggota SPN memang cerdas di bidangnya masing-masing, yang kemudian disusul dengan kecerdasan linguistik. Secara kualitatif, melihat kedisplinan aktivitas anggota SPN, maka hemat penulis, dapat dikatakan bahwa urutan kedua –setelah kecerdasannya masing-masing- adalah kecerdasan linguistik. Namun, tidak dipungkiri, ada beberapa anggota yang kecerdasannya pertama adalah, linguistik.

Masih menurut Gardner, bahwa setiap individu adalah cerdas. Dan, salah satunya adalah cerdas linguistik. Dengan demikian, bukan hanya anggota SPN saja atau penulis saja yang dapat dikatakan sebagai seorang individu yang cerdas linguistik. Tetapi siapapun orangnya dapat dikatakan sebagai individu yang cerdas linguistik. Karenanya, tidak berlebihan jika siapapun orangnya dapat juga dikatakan sebagai seorang penulis.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengatakan “saya tidak bisa menulis, saya tidak cerdas dalam hal menulis”. Karena teori Gardner menegaskan bahwa kita semua adalah pribadi yang cerdas. Termasuk cerdas linguistik, salah satu cirinya ya dikaruniai untuk bisa menulis.

Belajar dari tekad kuat dan komitmen yang tinggi dari anggota grup SPN, bahwa setiap individu anggota memiliki kewajiban untuk menghasilkan karya. Satu bulan satu artikel. Dan, terbukti, tidak sedikit anggota yang kategori pemula telah nyata berhasil untuk memiliki karya tulisan. Dan, tulisan tersebut telah berhasil dibukukan. Ada Quantum Ramadhan, Quantum Cinta, Quantum Belajar, dan karya lainnya.

Grup SPN, telah berhasil memberi bukti nyata kepada kita, termasuk saya sendiri, bahwa Siapapun kita pasti bisa sukses untuk berkarya. Berkarya dalam hal tulis-menulis. Hal ini disebabkan adanya tekad dan komitmen yang luar biasa dari setiap individu. Dan, terbukti bahwa individu –individu dalam grup SPN merupakan individu-individu yang luar biasa.

Dalam tulisan ini, saya sengaja tidak menyebutkan satu per satu anggota SPN. Karena, hemat saya, setiap individu anggota Grup SPN merupakan guru saya yang nyata dalam hal berkarya melalui tulisan. Semuanya luar biasa. SPN mengajarkan kepada saya bahwa siapapun kita harus memiliki karya (tulis).

Tidak hanya karya buku yang dihasilkan dari aktivitas di grup SPN. Tidak sedikit anggota grup SPN yang berhasil menelorkan karya berupa penerbitan buku secara mandiri yang diterbitkan penerbit nasional, seperti Gramedia, Mizan, Serambi, Quanta, Rajawali, dan lainnya. Sungguh merupakan prestasi yang luar biasa.

Saya yakin prestasi ini dapat diraih berkait komitmen para anggota yang sungguh-sungguh dalam mengembangkan kecerdasan linguistik. Memang benar, sebagaimana pendapat Gardner, bahwa kecerdasan itu dinamis. Tidak statis. Semakin diasah dan dikembangkan, maka kecerdasa kita akan semakin tumbuh subur. Demikian juga kecerdasan lingusitik, khususnya dalam hal tulis-menulis. Jika kebiasaan berkarya melalui menulis terus dilakukan, maka prestasi menulis pun cepat terwujud.

Terbukti, setiap anggota SPN telah membuktikan itu. Siapapun orangnya, pasti bisa berkarya. Sekali lagi terbukti. Jadi, pendapatnya Gardner yang menyatakan kita adalah cerdas, memang benar terbukti. Terima kasih SPN. Terima kasih kepada semua anggota SPN, guruku berkarya. Semoga terus menginspirasi. [ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *