DATA

Abdul Halim Fathani

DALAM sebuah acara seminar hasil penelitian di salah satu perguruan tinggi di Kota Malang, saya mencoba mendengarkan serius presentasi dari salah seorang mahasiswa di hadapan peserta seminar dan dosen penguji. Pada saat lembar slide presentasi yang ke-7, penyaji menguraikan BAB III, Metode Penelitian yang akan digunakan untuk menyelesaikan penelitiannya.

“Bapak, Ibu dosen dan teman-teman mahasiswa yang berbahagia. Dalam penelitian saya ini, saya menggunakan pendekatan kuantitatif. Karena data-data yang saya gunakan untuk menyelesaikan penelitian ini adalah berupa angka-angka atau biasa kita sebut dengan data kuantitatif. Karena data-data yang saya pakai adalah data kuantitatif, maka jenis penelitian tesis saya adalah penelitian kuantitatif. Adapun untuk pengambilan data-data tersebut, saya menggunakan teknik pengambilan data, yaitu menyebarkan angket atau kuesioner. Dari hasil angket tersebut, kemudian saya rekap dan selanjutnya dilakukan uji validasi terhadap angket tersebut.”

Dari paparan di atas, saya sengaja “menebalkan” kata “data-data”, karena memang dalam tulisan ini saya bermaksud untuk membahas kata tersebut. Sekilas, kata “data-data” tidak ada masalah. Namun jika kita mencoba membuka dalam kamus, maka jelas penulisan atau pengucapan “data-data” merupakan kesalahan fatal. Padahal, ini telah menjadi kebiasaan yang lumrah bagi siapa pun, termasuk saya. Oleh karena itu, agar “kesalah-kaprahan” ini tidak berlanjut, maka lebih baiknya kita mencoba mengerti dan memahami apa dan di mana sesungguhnya letak kesalahannya.

Data merupakan “bahan mentah” yang jika diolah dengan baik melalui berbagai analisis dapat melahirkan berbagai informasi. Dengan informasi tersebut, selanjutnya kita akan dapat mengambil suatu keputusan. Pendek kata, data merupakan catatan atas kumpulan fakta. Nah, Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti “sesuatu yang diberikan”.

Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi.

Berpijak pada hal inilah, maka sekarang kita telah maklum akan pengertian data dan datum. Jadi, kalau ada orang yang mengatakan “data-data” jelas itu merupakan kesalahan. Seharusnya, mereka mengatakan data. Karena “data” itu sudah berbentuk jamak. Sedangkan bentuk tunggalnya adalah “datum”. Sehingga, agar menjadi benar, “presentasi” mahasiswa di atas diubah menjadi berikut ini.

“Bapak, Ibu dosen dan teman-teman mahasiswa yang berbahagia. Dalam penelitian saya ini, saya menggunakan pendekatan kuantitatif. Karena data yang saya gunakan untuk menyelesaikan penelitian ini adalah berupa angka-angka atau biasa kita sebut dengan data kuantitatif. Karena data yang saya pakai adalah data kuantitatif, maka jenis penelitian tesis saya adalah penelitian kuantitatif. Adapun untuk pengambilan data tersebut, saya menggunakan teknik pengambilan data, yaitu menyebarkan angket atau kuesioner. Dari hasil angket tersebut, kemudian saya rekap dan selanjutnya dilakukan uji validasi terhadap angket tersebut.”

Terkait pengertian data dan datum, ada juga yang menyatakan bahwa data adalah segala keterangan, informasi atau fakta tentang sesuatu hal atau persoalan. Sedangkan datum adalah keterangan yang diperoleh dari satu pengamatan. Jadi data adalah bentuk jamak dari datum. Oleh karenanya, banyak istilah dalam statistik atau yang lain menggunakan istilah data (bukan datum). Mengapa? Karena, jika hanya dengan menggunakan satu pengamatan saja, sangatlah sulit untuk mengambil suatu kesimpulan.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa ada dua perspektif dalam memahami data dan datum. Pertama, sebagaimana dalam kutipan presentasi di atas, perulangan kata data merupakan kesalahan. Karena, memang data yang dihasilkan dan diuraikan dalam penelitian tersebut tidak hanya tunggal, melainkan banyak data yang harus dianalisis. Kedua, setiap mengambil suatu keputusan, tidak mungkin hanya didasarkan atas data yang tunggal. Oleh karenanya, menjadi maklum jika kata “datum” menjadi kurang bersahabat dengan pembaca, termasuk saya. Tapi, yang perlu digarisbawahi meskipun kata “data” sudah akrab dengan kita, namun –sekali lagi- tidak benar jika kita menyatakan dengan “data-data”. Karena, data sudah berbentuk jamak. Kecuali, jika menggunakan kata “datum-datum”. [ahf]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *