91 = 94 ?

Abdul Halim Fathani

Sudah menjadi tradisi di sekeliling kita, bahwa setiap tahun, tepatnya pada tanggal tertentu kita merayakan ulang tahun. Baik itu pribadi, organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, atau lainnya. Memang, penamaannya bervariasi. Ada yang menyebutnya sebagai Hari Ulang Tahun, Hari Jadi, Hari Amal Bakti, Dies Natalis, Dies Maulidiyah, milad, dan seterusnya.

Tahun 2017 ini, Nahdlatul ulama (NU), baru saja merayakan ulang tahunnya, tepatnya Selasa, 31 Januari 2017. Acara tersebut digelar di halaman PBNU, Jakarta. Namun, bisa jadi 3 bulan mendatang, Nahdlatul ulama (NU) akan kembali merayakan ulang tahun tahunnya.

Kok Bisa, setahun, dua kali dalam perayaan ulang tahunnya. Telah kita ketahui bersama, bahwa dalam kacamata almanak Masehi, Nahdlatul ulama (NU) lahir pada Ahad Pon, 31 Januari 1926 M, sedangkan menurut almanak Hijri, Nahdlatul ulama (NU) lahir pada Ahad Pon, 16 Rajab 1344 H.

Jika merujuk pada almanak Masehi, berarti umur organisasi Nahdlatul ulama (NU), tahun ini adalah 91 tahun terhitung 31 Januari yang lalu. Sedangkan, jika merujuk berdasarkan almanak Hijri, umur organisasi Nahdlatul ulama (NU), pada 3 bulan mendatang akan mencapai 94 tahun.

Belajar dari hal ini, maka setiap organisasi apapun, harus dipastikan merayakan ulang tahun sebanyak 2 kali, perseptif kalender Masehi, satunya perspektif kalender Hijriah. Dalam konteks ini, maka 91 = 94. Artinya sama-sama ulang tahunnya Nahdlatul ulama (NU).

Nah, sekarang tinggal ulang tahun kita masing-masing. Pertanyaannya, kapan tanggal lahir kita jika dilihat berdasarkan almanak Hijri?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *